Laman

Rabu, Juli 16, 2008

BUNDAKU DISEKAP AYAHKU DI TEROWONGAN CASABLANCA....

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Semua orang sudah tertidur lelap. Tetapi, di sebuah rumah di Komplek Nusa Indah, salah satu perumahan termewah di Jakarta Selatan, sepasang suami istri yang usia pernikahannya masih seumur jagung, Dhefin dan Alya, belum tidur juga. Mereka masih mengobol santai di atas tempat tidur mewah berseprai merah itu…

"Sayang..aku nggak mau kehilangan kamu.."
"Aku juga nggak mau mas.."
Tapi itu cuma percakapan singkat Ayah dan Bundaku 10 tahun yang lalu. Mereka saling mencintai dan tidak mengkhianati satu sama lain. Saat itu aku belum lahir, dan kedua kakakku juga masih bayi. Yang sekarang kudengar hanyalah…
"Ayo ngaku!!! Kamu pasti selingkuh!!!"
"Sumpah demi Allah mas...aku nggak pernah selingkuh.."
"Bohong kamu!!!"

Aku hanya bisa menangis mendengar ini semua. Tentu aku tidak ingin keluarga ini hancur karena Ayah dan Bunda sudah tidak saling mencintai lagi. Aku selalu membicarakan ini semua sama Tante Tara, teman Ayah dan Bunda, dan Dhania, sepupuku yang tinggal berdekatan denganku. Karena setiap hari Ayah dan Bunda bekerja, pagi-pagi sekali mereka pergi dan pulang larut malam.

Dhania tinggal di rumah Oma, persis di sebelah rumahku. Jadi, hampir setiap hari aku ke sana. Dhania dititipkan di rumah Oma karena mama papanya bekerja di luar negeri. Tante Tara, juga tinggal satu kompleks denganku, meskipun jaraknya agak jauh.

Hari masih pagi. Aku dan kedua kakakku menginap di rumah tante Tara karena hari ini hari libur. Kami bersantai bersama di tepi kolam renang. Aku dan kedua kakakku mengobrol dengan tante Tara.

"Tante, sekarang kayaknya Ayah sama Bunda berantem melulu deh.." kataku
"Ya itu wajar lah..kan mereka juga punya masalah, yang namanya orang udah nikah, itu ya..sering ada masalah..nanti juga mereka baikan kok.." kata tante Tara
"Tapi tante..berantemnya setiap hari.." kata kak Ali, kakakku yang pertama.
"Emangnya Ayah sama Bunda ada masalah apa sih??" tanya kak Elang, kakakku yang kedua
"Ali, Elang, Dede, Kalian belum ngerti itu masalah apa..nanti kalau kalian udah gede kalian juga pasti akan ngerti sendiri kok.." kata tante Tara
"Aku kan udah gede..tante.." kataku bercanda.
"Ih gede badannya kali...dasar kamu..aargh!!!" kata tante Tara sambil mencubit pipiku.

Lalu kami bermain dan berlari-lari. Aku dikejar tante Tara sampai aku tercebur ke dalam kolam renang. Badanku basah kuyup. Aku naik ke atas kolam dan menceburkan tante Tara ke dalam kolam. Semuanya tertawa. Pokoknya hari itu adalah hari yang menyenangkan. Akhirnya, kami semua jadi ikut berenang di rumah tante Tara.

Tapi dibalik kebahagiaan itu, tante Tara sebenarnya sudah menikah siri dengan Ayah. Inilah yang menjadi pemicu masalah Ayah dan Bunda. Namun, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal ini, biarpun Bunda sebenarnya sudah curiga.

Ayah menganggap Bunda sebagai seorang istri yang tidak baik. Bunda di cap tukang selingkuh, pemabuk, dan suka kehidupan malam sejak bekerja di sebuah perusahaan besar. Dan menurut Ayah sepertinya Bunda berselingkuh dengan bos perusahaan tersebut. Sedangkan, Ayah sendiri menikahi tante Tara secara siri 1 tahun yang lalu tanpa seizin Bunda.

Hari sudah siang. Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa dan siswi SD Harapan Mulya, berhamburan keluar, termasuk aku dan kedua kakakku. Kami berjalan menuju tempat parkiran dimana sebuah unit Toyota Alphard berwarna hitam metalik diparkirkan. Lalu, tiba-tiba ada dua orang banci yang diduga berasal dari Taman Lawang mendatangi aku dan kedua kakakku. Mereka mengajak kami berbicara baik-baik. Dari gaya bicaranya memang, menurut kami baik. Mereka menawarkan permen kepada kami. Tentu kami ingat pesan Ayah dan Bunda, jangan menerima sesuatu dari orang yang kita tidak kenal. Tetapi, mereka malah menculik kami dan memasukkan kami ke dalam mobilnya. Tidak ada satupun orang yang menolong kami, karena sekolah juga sudah sepi dan satpam berada jauh dari kami. Kami dibawa ke suatu tempat yang jauh sekali dari sekolah, dan kami disekap di sana.

"Pokoknya, yey semua mesti ada di sini sampe orangtua yey ngasih uang tebusan sama kita!!" kata salah satu banci.
"Heh!! lepasin kita dong!! kita kan mau pulang!" kata kak Ali
"Jangan minta uang tebusan dong !! kan kasian Ayah sama Bunda.."kata kak Elang
"Hei..yey bertiga mau lepas dari sini apa gue bunuh bokap nyokap lo pada???"kata banci itu mengancam
"Ya lepas lah !! Emang gimana caranya biar kita lepas dari sini??" berontak kak Ali.
"Nih, gue pinjemin hp, terus yey telpon bapak yey terus bilang kita minta uang tebusan Rp 20 juta. Beres kan!!"kata banci itu marah
Perasaanku sangat tidak enak. Dag-dig-dug, jantungku berdetak kencang. Kami bertiga sangat panik. Lalu aku menelpon Ayah..
"Halo, Ayah kita semua diculik yah..tolong kita dong yah.."kataku pada Ayah
"Apa?Kamu diculik?Kok bisa?"kata Ayah panik “Tadi ada banci nawarin permen sama kita, udah kita tolak yah, tapi mereka malah maksa kita gitu, terus kita dimasukkin ke mobilnya, dibawa kesini deh yah…”kataku bercerita pada Ayah
“Waduh, Penculiknya minta uang tebusan berapa?Terus kamu ada dimana sekarang?Kamu baik-baik aja kan?Kakak-kakak kamu juga ikut diculik?” tanya Ayah
"Iya..kita bertiga nggak papa kok yah..kita baik-baik aja..penculiknya minta uang tebusan 20 juta..kita ada di villa Kembarambing jalan Wong Kota nomor 3 di Bogor..tolong jemput kita yah..kita nggak mau ada di sini terus.."kataku
"Iya..tenang aja..Ayah bakal jemput kamu."kata Ayah menutup telepon

Tanpa berpikir panjang, Ayah segera ke ATM untuk mengambil uang dan menyelamatkan kami. Setelah itu Ayah menjemput aku dan kedua kakakku di markas penculikan. Ayah menyerahkan uang tebusan kepada banci itu. Tak tahu kenapa, setelah itu kami tidak langsung pulang. Ayah tampak tak seperti biasanya. Padahal biasanya Ayah mengajak kami ke mall atau rumah saudara saat pulang sekolah. Kami diantar ke villa milik keluarga kami yang jauh dari rumah karena Ayah sedang ada masalah besar dengan Bunda dan kami tidak boleh mengetahuinya. Aku tak tahu dimana villa itu berada. Kata Ayah, villa itu megah, besar dan memiliki kolam renang air panas dan air dingin. Hanya itulah yang membuatku sedikit berlega hati. Beberapa jam kemudian, kami sampai di villa. Dan, memang benar apa kata Ayah. Villa itu besar dan sangat megah. Kami pun turun dari mobil.

"Pokoknya, kalau kalian butuh apa-apa, bilang sama mbak." kata Ayah menunjuk seorang pembantu di villa
"Iya, yah.."kata kami bertiga
"Selama disini, kalian jangan pergi kemana-mana kecuali ke sekolah..jangan nelpon ke rumah kecuali ada telpon masuk kesini. "kata Ayah
"Iya yah..tapi kok kita di isolasi gini yah?"kata kak Ali protes.
"Itu biar kamu disiplin. Kalo kamu nggak mau nurut sama Ayah ya Ayah.."kata Ayah yang belum selesai bicara
"Marahin.."kata aku dan kak Elang melanjutkan ucapan Ayah
"Ya udah..sekarang Ayah pulang dulu. Inget ya..jangan mampir-mampir..Nanti kalian juga pasti ayah jemput kok.."kata Ayah
"Iya deh..dah Ayah!! " kataku dan kedua kakakku sambil melambaikan tangan pada ayah.
"Daah!!" kata Ayah

Pada saat malam, Ayah sampai di rumah. Dan pada tengah malam, di rumah Oma, saat Dhania tidur, mendadak Dhania mendengar suara-suara aneh dari rumah Ayah, seperti ada orang disiksa, dipukul pukul, di tendang-tendang dan banyak suara orang teriak..lalu Dhania terbangun dan memanggil Oma.

"Oma !! Oma!!" teriak Dhania
"Iya sayang..kamu kenapa?"tanya Oma sambil terburu-buru masuk ke kamar Dhania.
"Oma..aku takut.."kata Dhania sambil menangis dan memeluk Oma.
"Kamu kenapa takut? makanya baca doa sebelum tidur.."kata Oma
"Gini Oma, aku denger ada orang disiksa terus teriak-teriak. Aku takut banget..kayaknya dari sebelah deh.."cerita Dhania sambil menangis.
"Ah..cuma perasaan kamu aja kali.."kata Oma
"Nggak..ini beneran Oma.."kata Dhania
"Oke, sekarang udah ya nggak usah nangis lagi..kamu tidur aja.."kata Oma sambil keluar dari kamar Dhania
"Iya.."kata Dhania

Lalu Dhania masih terbayang-bayang oleh suara-suara yang tadi ia dengar. Ia masih takut.

"Apa itu suara om Dhefin sama tante Alya ya..denger-denger mereka kan lagi ada masalah..Ah!! tapi nggak mungkin..Aku percaya om Dhefin nggak akan pernah ngelakuin kaya gitu sama tante Alya.."gumam Dhania dalam hati..

Karena sudah sangat kesal dengan Bunda, dan Bunda sering membangkang perintah Ayah, tanpa sepengetahuan semua orang di rumah, Ayah menyekap Bunda di Terowongan Casablanca. Bunda pun diikat dengan rantai yang sangat kuat sehingga Bunda menangis merpaung-paung. Lalu Ayah segera meninggalkan Bunda.

"Woi!!! Siapa aja disini tolongin gue!!"teriak Bunda

Tetapi, tidak ada seorang pun yang menghiraukan teriakan Bunda. Karena hari sudah malam dan terowongan telah sepi, orang tidak berani melewati terowongan saat itu karena ada kuntilanaknya. Bunda pun benar-benar ketakutan di sana.

Dhania benar-benar heran, mengapa sudah sehari ini Aku dan kedua kakakku jarang mengunjunginya. Sebenarnya Dhania ingin sekali bertemu kami di rumah, tetpai kami tidak ada.

"Oma..aku pengen main ke sebelah.."kata Dhania
"Di sebelah nggak ada siapa-siapa...kata om Dhefin, mereka ada di villa sekarang."kata Oma
"Kenapa mesti di villa?"tanya Dhania
"Ya oma juga nggak tau..Oma nggak dikasih tau alasannya.."kata Oma
"Yang bener oma?? semuanya ada di villa? Ayo kesana sekarang!!"kata Dhania
"Jangan sayang, ke villa itu jaraknya jauh banget..kamu telpon aja kesana.."kata Oma
"Yah oma....ya udah deh aku telpon kesana ya.."kata Dhania
"Iya..iya.."kata Oma

Sementara di villa, aku dan kedua kakakku terus menunggu telepon untuk mengetahui kabar orang-orang di rumah. Baik itu Ayah, Bunda, Tante Tara, Dhania, atau Oma.

"Kak, aku bener-bener nggak betah di sini, nggak ada TV, HP disita, nggak ada hiburan..pokoknya sumpek banget deh disini..aku nggak mau pulang!!"kataku pada kak Ali "Emang nih!! nggak enak banget!!! Kalo Ayah nelpon kesini, aku mau protes sama Ayah seprotes-protesnya!!"kata kak Elang.
"Udah deh..kamu berdua yang sabar ya..nanti kan kita dijemput sama Ayah...lagian Ayah sama Bunda baik-baik aja kok di rumah..kita nggak usah khawatir.."kata kak Ali menenangkan kami berdua
"Tapi..kapan ya kira-kira Ayah nelpon ke sini, buat ngasih tau kapan Ayah atau Bunda ngejemput kita disini.."kata kak Elang.
"Ya..mudah-mudahan deh kak..ada yang nelpon kesini.."kataku.

Hal yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba juga. Telepon berbunyi, kami girang bukan main. Kami menerka-nerka, telepon dari siapakah itu? kemudian aku mengangkatnya.

"Halo, ini siapa?" kataku
"Ini Dhania, Eh..Dede ya...ya ampun aku kangen banget..apa kabar?"kata Dhania senang
"Baik kok. Kita semua disini juga kangen sama kak Dhania..kita bener-bener nggak enak disini..nggak ada TV, nggak bolah pergi sama Ayah..pokoknya nggak enak banget deh disini.."keluhku pada Dhania
"Ya ampun..kenapa sih kalian bisa ada di villa?"tanya Dhania
"Soalnya, denger-denger Ayah sama Bundaku ada masalah yang kita nggak boleh tau..Kata Tante Tara kalo kita udah gede kita juga bakalan ngerti.."kataku
"Emang bener sih, semalem aku denger suara aneh...di rumah kamu ada suara orang lagi dipukul, ditendang, terus disiksa gitu..aku takut, aku bilang ke Oma, terus aku nangis..Tapi aku yakin kok..itu bukan ayah sama bunda kamu.."kata Dhania.
"Kakak yang baru sekali denger kayak gituan aja udah nangis, apalagi kita, tiap hari
denger kayak gituan.. dan lebih parah lagi daripada yang kakak denger kemarin.."kataku
"Oh ya??"aku mau ngomong dong sama kak Ali sama kak Elang.."kata Dhania
"Iya.."kataku sambil memberikan telepon kepada kak Ali.
"Iya, kenapa Dhan..kita semua kangen sama kamu."kata kak Ali.
"Itu loh..semalem di rumah kamu aku denger ada suara orang disiksa..aku bener-bener takut semalam.."kata Dhania
"Hah???? Bukan Ayah sama Bundaku kan??"kata kakakku yang pertama
"Aku sih yakin bukan mereka.."kata Dhania
"Kalo misal suara-suara itu suara Ayah sama Bundaku, mungkin aja ya..kejadian semalem itu penyebab masalah mereka.."kata kak Ali.
"Ok..ya udah deh..soalnya aku ada les nih habis ini..jadwalku sekarang ribet banget..kalo ada waktu pasti aku telpon kamu ke sini..ya udah ya..salam buat semuanya..dah!"kata Dhania mengakhiri pembicaraan
"Dah !" kata kak Ali

Dua hari kemudian, Ada seorang wanita yang mengendarai motor melewati Terowongan Casablanca. Wanita itu turun dari motornya dan menyelamatkan Bunda dengan melepaskan rantai yang mengikat tubuh Bunda.

"Mbak, makasih ya...pokoknya makasih banget ya mbak..udah nyelametin saya.."kata Bunda pada wanita itu.
"Oh..sama-sama mbak.."kata wanita itu. Bunda kemudian mengambil sejumlah uang yang tersisa di kantong bajunya untuk diserahkan kepada orang itu.
"Mbak, tolong terima ini ya..buat ucapan terima kasih saya sama mbak.."kata Bunda
”Eh…nggak usah mbak, saya ikhlas kok…”kata wanita itu
”Udah ambil aja…”kata Bunda 
“Ehm..iya deh..makasih ya mbak..mau saya anterin pulang nggak?”kata wanita itu 
“Nggak usah, biar saya pulang sendiri.” kata Bunda 
“Oh..” kata wanita itu lagi 
“Sekali lagi makasih ya mbak.”kata Bunda 
 “Sama sama..” kata wanita itu sambil menaiki motornya untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah itu, Bunda langsung pulang ke rumah. Kemudian Ia mencari ketiga anaknya, tetapi mereka sedang tidak ada. Lalu Bunda bertemu dengan Ayah, saat itu ayah kondisinya "setengah sadar" karena tidur larut malam dan bangun terlalu pagi untuk kerja.

"Mas Dhefin… aku pulang.."kata Bunda
"Oh iya.."kata Ayah santai
"Mas mau nggak nginep sama aku di Ancol..sehari aja mas..terus besoknya pulang.."kata Bunda
"Iya..Boleh.."kata Ayah

Ayah memang belum sadar bahwa perempuan yang mengajaknya menginap itu istrinya sendiri, karena Ayah benar-benar sudah mengantuk. Pada malam harinya, Ayah dan Bunda ke sebuah hotel untuk menginap. Saat jam 10 malam, Ayah sudah tertidur, walaupun belum benar-benar tertidur. Bunda mengajak Ayah mengobrol...

"Mas..kamu mau kan masalah kita bener-bener selesai?" tanya Bunda pada Ayah
"Iya.."kata Ayah
"Kamu setuju kalo kita bener-bener damai dari sekarang?"tanya Bunda
"Iya deh..terserah kamu.."kata Ayah yang tidak sadar
"Pokoknya, kalo semua masalah udah clear, aku jadi tambah sayang sama mas..Aku cuma mau semuanya berjalan dengan baik…"kata Bunda
"Iya..aku juga.."kata Ayah yang setelah itu langsung tidur.

Ayah memang sengaja mengiyakan semua jawaban karena Ayah sudah mengantuk dan tidak begitu jelas mendengar pertanyaan Bunda. Keesokan paginya, Ayah baru sadar kalau Bunda telah mengajaknya menginap. Ayah langsung marah besar.

"OH!!!! ALYAAAAAAA!!!!! Ternyata bener ya!!! kamu kabur dari terowongan!!"kata Ayah marah
"Nggak mas, kemarin ada orang yang nyelametin aku sama ngebuka rantainya.."kata Bunda terus terang
"BOHONG KAMU!!! sekarang kamu harus ke terowongan lagi, dan harus disekap..dan..ada kabar bagus buat kamu..kamu nggak akan dirantai.."kata Ayah
"Hah??yang bener mas??"kata Bunda heran
"Jangan seneng dulu Alya sayang..tapi kamu bakal diawasin pake webcam disana, terus dari rumah aku awasin kamu tiap hari pake laptop!! Jadi, kamu nggak bisa kabur..soalnya penjagaannya udah aku rancang dengan ketat sekali..."kata Ayah
"Terus kalo mas tidur siapa yang ngawasin?"
"Oh..anak buahku yang ngawas..Satu lagi..kamu nggak akan bisa lari dari pengawasan..Soalnya, setiap gerak-gerik kamu di terowongan bakal kerekam...NGERTI???"kata Ayah
"Ngerti mas.."kata Bunda
Kemudian Ayah langsung membawa Bunda pergi ke Terowongan Casablanca tanpa check out terlebih dahulu. Mereka langsung masuk mobil dan bergegas pergi. Petugas hotel pun mengejar mereka.
"Oi Pak!! Bayar dong kamarnya!! Jangan pergi dulu pak!!"kata petugas hotel berteriak
"Iya!!"kata Ayah
"Cepet pak..eh si bapak..main kabur aja.."kata petugas hotel yang tidak berhasil mencegat mobil Ayah.

Setelah sampai di terowongan, Ayah langsung memasang semua alat-alat untuk mengawasi Bunda di terowongan. Setelah semuanya selesai, Ayah langsung pulang ke rumah.

Pada jam 12 malam, mendadak perut Ayah sakit, mulas, dan ingin buang air besar. Saat itu ayah sedang mengawasi bunda di rumah. Pengawal Ayah juga belum datang saat itu. Tapi, karena Ayah sudah kebelet, ayah ke kamar mandi.

"Ke kamar mandi dulu ah..tapi siapa yang ngawasin ini? Tapi udahlah..biarin aja...orang cuma sebentar ini..juga bakalan kerekam..ya udah deh.."kata Ayah membiarkan laptopnya di atas tempat tidur.

Pada saat yang sama, Tiba-tiba ada sesosok makhluk berambut hitam panjang tapi berantakan dan berbaju putih panjang yang merasuki Bunda di terowongan. Bunda berusaha menghindar dan membaca doa, tetapi sosok itu terus mengikutinya. Saat itu terowongan juga sudah sepi dan tidak ada yang melewatinya. Karena tidak tauh harus berbuat apa, sosok itu terlanjur merasuki Bunda dan Bunda kesurupan, kerasukan sosok itu, dan akhirnya meninggal dunia tanpa satu orangpun yang tahu. Kejadian itu terekam saat Ayah masih di kamar mandi.

Karena sudah capek, Ayah menghentikan pengawasan terhadap Bunda dan mematikan laptopnya dan memutuskan sambungan webcamnya di terowongan dengan laptop di rumah. Ia berpikir pasti istrinya itu sudah dirasuki setan dan tidak mengetahui apa-apa lagi.

Keesokan harinya, saat siang Dhania pergi les. Untuk sampai di tempat les, Dhania harus melewati Terowongan Casablanca. Tiba-tiba, Dhania melihat sosok perempuan tergeletak di Terowongan Casablanca. Dhania heran, mengapa mayat itu mirip dengan tantenya. Agar Dhania dapat mengetahui siapa mayat itu, ia menyuruh supirnya berhenti sebentar.

"Pak, tolong mobilnya berhenti sebentar.."kata Dhania pada supirnya
"Emangnya ada apa de?"kata supir itu
"Itu ada mayat!"kata Dhania sambil menunjuk ke arah mayat itu
"Ade mau liat mayat? emangnya kamu berani dek?"kata supir itu lagi
"Masalahnya, mayat itu mirip tante Alya!!"kata Dhania
"Hahhhhh?? Yakin de itu tante Alya"kata supir itu kebingungan “Ya liat dulu makanya pak..”kata Dhania

Kemudian Dhania turun dari mobilnya. Setelah diperhatikan lebih jelas, ternyata mayat itu adalah mayat tantenya sendiri. Tapi Dhania masih belum percaya kalau tante Alya sudah meninggal.

"Tante Alya!!! Tante bangun dong!!Ini aku, Dhania!!"teriak Dhania terhadap mayat itu, tapi mayat itu tetap tidak bangun.
"Tante, Bangun dong!! Aku nggak percaya tante udah meninggal!!"teriak Dhania lebih keras lagi. Tetapi mayat itu tidak juga bangun. Kemudian Dhania memeriksa detak jantung dan nafasnya. Ternyata..setelah diperiksa..tantenya kini benar-benar tiada..
"Tante..tante..!! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Dhania, lalu ia menangis. Supirnya hanya bisa terbengong melihatnya.
"Tante Alya, jangan tinggalin kita..Aku, om Dhefin, sama semuanya masih butuh tante..Cuma tante yang bisa ngerawat aku..yang jadi temen curhat aku selama mama nggak ada..tante udah aku anggap kayak mama aku sendiri..Tante jangan tinggalin kita semua..aku sayang tante..."kata Dhania sambil menangis. 

Lalu Dhania menelpon tante Tara.

"Halo, tante.."kata Dhania
"Iya sayang, ada apa? Tante lagi sibuk. Kok kamu ngomongya kayak orang habis nangis? Cerita dong sama tante.."kata Tante Tara
"Tante sekarang mesti ke Terowongan Casablanca."kata Dhania
"Emangnya ada apa sih? Tante jadi penasaran.."kata Tante Tara
"Pokoknya, tante kesini aja..ada sesuatu yang penting banget.."kata Dhania
"Ok.."kata tante Tara menutup telepon
Lalu, tante Tara segera pergi ke terowongan casablanca. Setelah sampai di terowongan, Tante Tara benar-benar panik karena ada mayat di situ.
"Ada apa sih sebenernya? Itu..itu mayat siapa?"tanya tante Tara. Dhania hanya menunjuk mayat itu sambil menangis..
"Dhan, ada apa sih? Kok kamu nangis?"kata Tante Tara lagi
"Pokoknya tante liat aja itu mayat siapa.."kata Dhania

Lalu tante Tara melihat mayat itu. Ternyata, benar..mayat itu adalah mayat sahabatnya sendiri..

"Mbak..Mbak Alya…Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"kata Tante Tara berteriak sambil menangis.
"Pokoknya mbak Alya jangan tinggalin kita..Hidup kita semua bakalan sepi kalo nggak ada mbak..aku tau aku ada affair kayaknya sama keluarga mbak..tapi..kenapa semuanya mesti kayak gini?? kenapa mbak ninggalin kita semua terlalu cepet.."kata Tante Tara
"Tante..jangan tinggalin kita..i love you tante.."kata Dhania mengelus kening tantenya untuk yang terakhir kalinya.
"Yang lain udah tau ini?"tanya tante Tara
"Belum, aku nggak mau bikin mereka sedih.."kata Dhania
"Ya udah..kita bawa mayat tante ke rumah sakit.."kata Tante Tara
"Buat apa? kenapa nggak langsung dikubur?" tanya Dhania
"Buat cari tau apa penyebabnya tante kamu itu meninggal"kata Tante Tara.

Suasana terowongan pun menjadi ramai. Banyak orang yang meilhat mayat Bunda. Bahkan ada wartawan berita. Tetapi, tante Tara meminta agar kematian Bunda tidak untuk diberitakan di kalangan media massa. Tiba-tiba Dhania menemukan sebuah webcam.

"Tante! ada webcam! buat apa nih?"kata Dhania sambil menunjukkan webcam itu ke tante Tara
"Oh! Tante juga liat ada alat pengintai banyak banget. Mungkin aja ada seseorang yang ngawasin penyebab kematian tante kamu itu melalui webcam ini. Kira-kira siapa ya?"kata Tante Tara
"Siapa ya..??Kok tante bisa tau sih?"kata Dhania
"Ya tante pikir-pikir sih begitu..sekarang kan kejahatan modern banyak terjadi di mana-mana lho. Ayo kita berangkat sekarang!"kata Tante Tara
"Ayo! "kata Dhania

Kemudian, mereka berdua berangkat ke rumah sakit. Lalu, mayat Bunda dibawa ke kamar mayat untuk diidentifikasi oleh Dokter. Saat mayat itu dilihat oleh dokter, ternyata penyebeb kematiannya sangat misterius.

"Bu, penyebab kematian teman ibu ini benar-benar misterius. Setelah saya periksa, kelihatannya, kondisi kesehatannya baik-baik saja. Kok bisa dia meninggal secara mendadak kayak gini? "kata Dokter
"Saya sendiri juga nggak tau ya dok, kenapa dia bisa mati mendadak kayak gitu. Padahal, dia nggak punya penyakit apa-apa lho."kata tante Tara
"Mungkin apa dia disiksa atau dibunuh? Tapi saya lihat nggak ada tanda-tanda kekerasan"tanya Dokter
"Kalo dibunuh sih nggak mungkin dok, dia orang baik-baik kok, dia nggak pernah punya musuh. Tapi sih, mungkin aja dia disiksa. Soalnya, saya denger-denger dia lagi ada masalah sama suaminya"kata Tante Tara
"Kalau mati karena stress terus mogok makan atau depresi gimana, mungkin nggak bu? Saya lihat dia juga kelaparan." kata dokter.
"Nggak, Soalnya walau gimanapun keadaannya, mau dia stress, depresi, dia selalu berusaha untuk tetep ceria."kata tante Tara
"Ohh..nanti kalo ada kabar soal mayat ini kabarin saya ya bu.."kata Dokter
"Iya, makasih dok.."kata tante Tara meninggalkan ruangan dokter

Setelah itu, Tante Tara dan Dhania menuju TPU yang jaraknya sangat jauh dari rumah mereka. Mereka meminta mayat itu dimakamkan dengan nisan tanpa nama agar tidak ada yang curiga.

Sekarang, Ayah sudah menganggap Bunda benar-benar "tidak ada" dalam kehidupannya. Ayah mempunyai suatu keinginan yang terpendam yang ingin ia utarakan kepada tante Tara di kantor. Ayah adalah pemilik Kingdom Management, sebuah manajemen artis dimana Tante Tara adalah seorang karyawati di manajemen itu. Lalu pada suatu pagi, Ayah berangkat ke kantornya untuk bekerja. Pada jam 11 malam, Ayah selesai bekerja dan saat itu di kantor hanya ada Ayah dan tante Tara. Ayah pun ingin menyampaikan sesuatu pada tante Tara.

"Tara, kamu udah tau kan kalo saya lagi ada masalah sama istri saya."kata Ayah
"Iya mas, saya tau, emangnya ada apa sih mas?"tanya tante Tara
"Saya mau nyampein sesuatu sama kamu.."kata Ayah
"Mas mau ngomong apa sih?"tanya tante Tara
"Gini loh, Sebenernya belum ada yang tau kalo kita udah nikah siri 1 tahun yang lalu. Saya bener-bener suka sama kamu, tapi saya nggak mau cerai sama istri saya...jadi..kamu rela nggak kalo kamu jadi istri kedua selamanya?"kata Ayah
"Saya nggak apa-apa sih jadi istri kedua, tapi mas nggak mikir gimana perasaan keluarga mas kalo mereka tau mas udah kawin siri sama saya? Mereka pasti sedih, terkejut, dan ya begitu lah.."kata Tante Tara
"Tapi aku sayang kamu, aku juga cinta sama kamu, terus apa yang bisa aku lakuin untuk kamu ?"tanya Ayah
"Lebih baik..maaf ya mas saya mesti ngomong ini..Lebih baik, mas ceraiin istri mas...aduh..maaf banget mas saya mesti bilang ini.."kata Tante Tara
"Tapi kan biarpun halal cerai dibenci sama Allah.."kata Ayah

Tiba-tiba, Tante Tara merasa digelitiki seseorang...

"Mas..mas gelitikin saya ya? Geli nih.."kata Tante Tara
"Heh! Saya kan ada di depan kamu! Ngapain saya gelitikin kamu?"kata Ayah membantah

Lalu ada suara orang bernyanyi (lagunya kangen band dirubah sedikit..) "Suamiku..sayangilah aku..seperti ku menyayangimu..suamiku..cintailah aku..seperti aku cinta kamu..tapi..kamu kok selingkuh..tapi..kamu kok selingkuh.."

"Tara!! Kamu yang nyanyi ya? Kamu nyindir saya ya?"tanya Ayah marah
"Nggak! Siapa yang nyanyi..saya nggak nyindir mas kok! Lagian ini lagu bukan nyindir lagi, tapi beneran mas!"kata Tante Tara
"Serem nih malem-malem berduaan di kantor, mana malem jumatan gue gagal total lagi! Pokoknya GAGAL TOTAL gara-gara setan brengsek itu nyanyi! Huuh!!"kata Ayah kesal
"Harusnya, malam jumat kliwon gini mas di rumah, nemenin istri sama anak-anak mas..saya pulang dulu ya..dah mas!"kata Tante Tara pergi meninggalkan ruangan kerja Ayah
"Hei, Tara!! Tunggu dulu!!"kata Ayah. Lalu Tante Tara kembali ke arah Ayah.
"Tara, Aku cinta kamu.."kata Ayah
"Aku juga cinta kamu mas..tapi aku ngga mau terus-terusan ngejalanin cinta terlarang ini.."kata Tante Tara.

Lalu Ayah memeluk Tante Tara dengan sangat lama.

Tante Tara masih bingung dengan keputusannya. Apakah ia akan meninggalkan Ayah yang sudah memberikan kehidupan kepadanya beberapa saat ini atau ia mengakui semuanya kepada keluarga Bunda tentang pernikahannya dengan Ayah yang menyebabkan konflik keluarga Bunda-Ayah???

Suatu hari, Dhania dan Tante Tara main kerumahku. Tetapi, aku, Ayah dan kedua kakakku sedang tidak ada. Jadi, setelah dipersilakan masuk, Dhania dan Tante Tara diam-diam masuk ke kamar Ayah, dan kebetulan,kamar Ayah tidak dikunci. Tak tahu kenapa, mereka bisa-bisanya memasuki kamar orang lain secara tidak sopan, tak jelas apa alasannya.

"Aduh..udah lama nggak masuk ke sini.."kata tante Tara sambil membuka pintu kamar Ayah
"Iya, sekarang lemarinya udah tambah gede. Terakhir aku liat lemarinya masih kecil.."kata Dhania yang melihat lemari baju Ayah

Lalu Tante Tara segera menaiki tempat tidur dan meloncat-loncat di atasnya. Tante Tara merasa kegirangan sekali, menaiki springbed berwarna merah marun, masih ditutupi bed cover, yang harganya mungkin, bisa lebih dari 10 juta rupiah. Di tempat tidur itu juga, Dhania menemukan sebuah laptop berwarna silver metalik, berstiker Dora dan Boots, bermerek Sony Vaio.

"Tante! ada laptop! Kita mainin yuk!"kata Dhania sambil menunjuk laptop itu.
"Jangan! nanti kamu dimarahin om Dhefin lho!"kata Tante Tara
"Ah! pokoknya aku mau mainin laptop ini!"kata Dhania memaksa
"Ih! Jangan!! Pokoknya Jangan! Kita ke gudang aja deh liat album foto..Kamu mau nggak?"tanya tante Tara
"Mau deh..tapi aku boleh bawa pulang laptopnya ya.."kata Dhania
"Ya udah, tapi kalo om Dhefin marah-marah tante nggak tanggung ya.."kata Tante Tara
"Iya deh.."kata Dhania menyusul tante Tara ke gudang

Mereka memasuki gudang yang terlihat kotor dan sangat berdebu. Setelah mencari-cari, akhirnya tante Tara dan Dhania menemukan kardus bertuliskan “Untuk yang Tersayang”. Di dalam kardus itu terdapat dua buah album foto yang terlihat usang, bunga mawar yang telah layu, dan sepucuk surat cinta yang sengaja tidak mereka baca. Mereka pun membuka album satu per satu.

"Dhan, ini ada foto tante Alya, cantik ya?"kata Tante Tara sambil menunjuk sebuah foto
"Iya, tapi masih cantikan mama dong.."kata Dhania
"Hahaha..ya terang aja kan kamu anak mama.."kata Tante Tara
"Fotonya cantik-cantik semua ya..itu ada foto yang lagi sama mamaku, cantik juga tuh.."kata Dhania
"Iya..apalagi pas lagi nikah sama om Dhefin, senyumnya manis banget.."kata Tante Tara

Dhania hendak membuka halaman paling belakang album itu, tapi tante Tara tidak memperbolehkannya

"Eh! yang itu jangan dibuka!"kata Tante Tara
"Emang kenapa? Kan aku mau liat.."kata Dhania
"Soalnya sebentar lagi kayaknya om Dhefin dateng tuh..Kita harus kabur!"kata Tante Tara. Padahal, halaman belakang album itu berisi foto mesra Ayah dan Bunda. 

Ternyata benar..saat itu juga Ayah datang..

"Assalamualaikum! Assalamualaikum!"kata Ayah sambil mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu
"Assalamualaikum! Kok nggak ada yang buka pintunya sih! Assalamualaikum!"kata Ayah dengan keras

Tante Tara dan Dhania mendengar ucapan Ayah. Mereka langsung kabur dengan menggunakan sebuah seprai di gudang sebagai tali untuk digantungkan ke jendela gudang. Lalu mereka segera kabur. Dhania pum membawa pulang laptop milik omnya itu. Tante Tara dan Dhania kabur dengan memanjat pagar belakang rumah.

Pada saat malam, Ayah sedang merenung di kamarnya. Ayah sangat mengantuk karena kelelahan bekerja dari subuh sampai subuh dalam beberapa hari ini. Tiba-tiba ada suara seorang wanita..

"Mas..Mas..sini dong mas..godain aku dong…"bunyi suara itu dengan genitnya

Ayah benar-benar takut dan tegang sekali. Sebenarnya, dari mana suara itu? Ternyata ada kuntilanak menampakkan diri di kamar Ayah. Ayah langsung berteriak.

"Waaaaaaa!!!!! Ada kun..ti..la..nak!!!!!"teriak Ayah sambil menunjuk kuntilanak itu.
"Hai..kamu nggak usah takut.."kata kuntilanak
"Wah..tumben ada setan cantik kayak gini..kamu mirip istri saya.."kata Ayah jujur
"Oh..pasti istri mas cantik deh..makasih ya.."kata kuntilanak

Ayah benar-benar memperhatikan kuntilanak itu dari ujung rambut samapi ujung kaki. Menurut Ayah, kuntilanak itu memang cantiknya seperti Nicole Kidman, senyumnya semanis Cameron Diaz, tubuhnya tinggi semampai dan seksi seperti gitar Spanyol membuat Ayah terpana. Memang, Ayah mudah terpikat oleh pesona seorang wanita. Setelah jatuh cinta dengan tante Tara, Sekarang, mendadak jantung Ayah berdebar-debar..dan artinya Ayah jatuh cinta pada kuntilanak itu. Ayah jadi ingin serba tahu tentang kuntilanak itu.

"Ehem, Aku sampai lupa nanya deh..nama kamu siapa?"tanya Ayah
"Aku Kunti.."kata kuntilanak
"Kunti, boleh tau nggak kamu dikubur dimana sih? Biar bisa mampir gitu sekali-sekali.."tanya Ayah
"Aku dikubur di TPU Gonjangganjing, cari aja nisan yang nggak ada namanya."kata kuntilanak
"Terus kamu meninggal gara-gara apa?"tanya Ayah
"Aku berat ngasih tau ini mas..Ini semua gara-gara suamiku. Aku sering disiksa sama dia. Terus kayaknya dia kawin siri sama selingkuhannya itu. Dia juga ngelarang aku ketemu anak-anak..pokoknya gitu deh mas.."kata kuntilanak dengan sedih mengingat kelakuan suaminya
"Bener-bener kurang ajar ya suamimu itu. Sama, istriku juga gitu, Dia kalo kerja sering pulang malem nggak bilang, sampe dia lupa apa kewajiban dia sebagai ibu rumah tangga. Ngurus anak-anak juga nggak becus. Dia nggak mau nurut sama aku. Sekarang aku sendiri. Dia udah aku kasih hukuman berat. Jadi, kita senasib dong.."kata Ayah
"Iya sih mas.."kata kuntilanak. Kemudian kuntilanak itu menghilang entah kemana.

Keesokan harinya, Dhania dan tante Tara buru-buru ingin melihat laptop yang "dicurinya" kemarin dari rumah Ayah. Sebenarnya Dhania yang memaksa tante Tara untuk menemani melihat laptop itu, dan Tante Tara tidak mau. Tetapi karena Dhania memaksa, apa boleh buat. Tante Tara akhirnya mau juga membuka laptop itu di rumahnya.

"Tante, tolong nyalain laptopnya sekarang.."kata Dhania
"Iya..iya.."kata Tante Tara sambl menyalakan laptop

Setelah laptop menyala, Dhania melihat sebuah folder dan ingin melihat isinya

"Aku mau liat folder yang itu! Buka ya!"kata Dhania yang hendak meng-kilk folder itu.
"Jangan! nanti kamu dimarahin om Dhefin lho!!"kata tante Tara melarang
"Pokoknya buka ya?buka..."kata Dhania sambil membuka folder itu.

Di dalam folder itu, terdapat sebuah video. Dhania penasaran apa isinya.

"Tante, aku liat yang ini ya.."kata Dhania membuka salah satu video
"Eh! Jangan! Kamu tumben bandel ya!!"kata Tante Tara melarang. Tapi, Dhania sudah terlanjur membuka video itu. Dalam video itu, Dhania melihat sebuah mayat di Terowongan Casablanca dirasuki oleh sebuah makhluk berwarna putih yang kelihatannya menyeramkan.
"Eh..itu kayaknya mayat tante Alya.."kata Tante Tara
"Ah, yang bener.."kata Dhania
"Iya..liat aja tuh.."kata Tante Tara
"Tante, itu ada putih-putih..apa itu?"tanya Dhania
"Tante juga nggak tau..jangan-jangan.."kata tante Tara ketakutan
"SETAAAANNNNNNNNN!!!"kata Dhania dan tante Tara berteriak. Mereka lalu berpelukan saking ketakutannya.

Mereka buru-buru meng-close video itu agar rasa takutnya tidak bertambah. Beberapa saat kemudian..

"Oh! Sekarang tante tau penyebabnya kenapa tante Alya itu meninggalnya misterius!"kata Tante Tara
"Iya, dari video itu aku liat, tante Alya meninggal gara-gara kerasukan setan.."kata Dhania
"Terus kayaknya kejadian itu direkam pake webcam yang kita temuin waktu itu di terowongan..dan kesambung ke laptop ini. Tapi, pasti ada sebab-sebab tertentu yang bikin tante kamu ini disekap di terowongan. Kira-kira ini akal bulus siapa ya?"kata Tante Tara
"Wah, tante pinter juga ya….tapi aku ngga tau deh tante…"kata Dhania “Hari gini baru tau kalo seorang Tara Astari pinter banget, WOOO DHANIA KETINGGALAN JAMAN, WOOOOO!!!” kata tante Tara dengan pede.

Pada malam hari, kami sudah capek dan mengantuk. Biarpun villa itu telah memiliki fasilitas yang serba “wah”, tetap saja kami bosan. Kami memang tidak bisa hidup tante keluarga. Tanpa kehadiran Ayah dan Bunda, hidup pun terasa hampa dan malas melakukan apapun. Lalu pembantu di villa menghampiriku, ia berkata ada telepon dari Ayah. Aku girang bukan main. Setelah pembantu di villa bilang ada telepon dari Ayahku, aku langsung mengangkatnya.

"Halo, Ayah! Aku kangen banget sama Ayah!"kataku pada Ayah
"Iya, ayah juga kangen banget sama kalian semua.."kata Ayah
"Ayah, aku bosen disini..aku mau pulang.."kata Ayah
"Ok..besok ayah jemput kamu di sekolah..bilangin ke kakak kakak kamu ya.."kata Ayah
"Beneran yah?? YESSSSSSS !!!!"kataku berteriak

Lalu kedua kakakku datang..dan aku menaruh telpon sebentar

"Telpon dari siapa?"tanya kak Elang
"Dari Ayah.."kataku
"Aku mau ngomong sama Ayah!! Halo, ayah...aku kangen banget sama Ayah..Ayah kapan jemput kita.."kata kak Elang yang merebut telepon dari tanganku.
"Iya..besok Ayah jemput.."kata Ayah
"YESSSSS!!! Nih, kak..mau ngomong nggak sama ayah?"tanya kak Elang pada kak Ali "Mau!! Halo Ayah..Aku kangen nih sama Ayah..Kapan kita jalan-jalan lagi yah, sama Bunda, Tante Tara, juga sama Dhania?"kata kak Ali pada ayah
"Ok..abis Ayah jemput, kita jalan-jalan.."kata Ayah
"Iya yah..Salam buat Bunda, Tante Tara, Dhania sama semuanya ya..dah Ayah.."kata kakak Ali
"Dah sayang.."kata Ayah

Keesokan harinya, adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kami semua. Ayah menjemput kami semua di sekolah.

"Ayah!!"teriak aku dan kedua kakakku sambil memeluk Ayah
"Iya sayang..Ayah kangeeenn banget sama kalian semua.."kata Ayah
"Yah, kok Bunda nggak ikut.."tanyaku pada Ayah
"Iya, padahal kita juga kangen sama Bunda.."kata kak Elang
"Bunda lagi sibuk kerja di luar kota, Jadi bunda nggak bisa ikut jemput kalian ke sini.."kata Ayah berbohong
"Jadi, kapan dong kita bisa ketemu Bunda?"tanya kak Ali
"Ya..kamu tunggu aja, Bunda pasti pulang kok.."kata Ayah
"Oh ya! Itu ada kak Dhania!"kataku sambil menunjuk Dhania
"Kita kesana yuk!"kata kaka Ali Lalu kami menyapa Dhania di bangku dekat kantin..
"Hai Dhan, udah lama nih om nggak ketemu sama kamu.."kata Ayah pada Dhania
"Iya nih om..udah lama juga aku ngga ketemu tante Alya"kata Dhania
"Eh kak..hari ini kita mau jalan-jalan lho sama Ayah!"kataku pada Dhania
"Hah? yang bener? enak banget!! Bundamu mana?"tanya Dhania
"Bunda..kata Ayah sih lagi kerja.."kata kak Ali
"Oh ya..aku pikir-pikir..kayaknya Ayah kamu itu bohong deh.."kata Dhania berbisik
"Astagfirullahalazim Dhan! Jangan nuduh gitu dong!" kata kak Ali
"Aku tau apa yang sebenernya terjadi sama Bunda kamu.."kata Dhania

Lalu Dhania berbicara dalam hati..

"Apa lebih baik aku kasih tau ke mereka ya kalo Bunda mereka itu udah nggak ada..?? Oh, Dhania..jangan..Kamu jangan kasih tau itu ke mereka..Kamu jangan sampai ngelukain hati mereka.."gumamnya dalam hati
"Loh, Dhan! Kenapa ngelamun?"tanya kak Ali sambil menepuk pundak Dhania
"Nggak ada apa-apa kok.."kata Dhania
Tiba-tiba, Raka, kakak kelasku. Ia menyapa aku, kedua kakakku dan Dhania.
"Eh! Gua mau ngomong sebentar sama Dhania"kata Raka
"Emang kenapa kak?"tanya Dhania
"Aku mau ngomong sama kamu di pojokan situ..Lo semua jangan ada yang dengerin ya!!"kata Raka

Lalu, Raka dan Dhania mengobrol di pojok dinding kantin..

"Aku udah tau apa rahasia keluarga om Dhefin sama tante Alya.."kata Raka
"Rahasia apa sih?"tanya Dhania
"Aku denger mereka berantem pas aku lewat depan rumah om Dhefin sama tante Alya..yang aku denger, mereka mau pisah.."kata Raka
"HAH??? PISAH??? yang bener??"kata Dhania kaget
"Iya, sejak kejadian itu om sama tante kamu itu sering berantem..dan..kamu jadi nggak mikirin aku lagi.."kata Raka
"Hah? Emang apa hubungannya kamu sama keluarga aku?"tanya Dhania
"Ya..masa kamu lupa sih..kamu kan pacar aku Dhan, kita kan baru seminggu pacarannya.."kata Raka malu-malu
"PACAR?? Kakak ini gimana sih? Sejak kapan kita pacaran..??"tanya Dhania
"Sejak 2 minggu yang lalu itu loh...yang aku kasih kamu bunga..diem-diem aku taro di tas kamu..Aku kan suka sama kamu.."kata Raka
"Ngapain juga kita pacaran kak..kita kan masih kecil tauuuuuu!!"kata Dhania kesal.
"Cieeeee....yang lagi berantem..."kataku menggoda
"Ihhh!! ini apaaaa..lagi..dasar yaaa!!"kata Dhania mencubit pipiku dengan keras
"Adawwwww!! Sakittt!! Ampunnnn..Ampuunnn.."kataku berteriak kesakitan
"Emangnya itu siapa sih Dhan?"tanya kak Ali pada Dhania
"Itu..kak Raka..anak kelas 6B.."kata Dhania
"Udah berapa lama pacarannya?"tanya kak Ali pertama
"Nggak pacaran sih..cuma deket aja..lagian kak Rakanya juga yang pake sok-sok pacaran.."kata Dhania
"Mamamu udah tau belum?"tanya kak Ali lagi
"Belum, ngapain juga aku kasih tau ke mama..kalo mama tau, bisa-bisa aku kena gampar!"kata Dhania

Sepulang sekolah, Aku, Ayah dan kedua kakakku pergi jalan-jalan ke Pondok Indah Mall, yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Sesampainya di mall, kita langsung berkeliling mall..

"Sayang, kamu mau nggak Ayah beliin sepatu bola yang kayak gitu..keren loh.."kata Ayah sambil menunjuk sebuah sepatu di etalase toko
"Mau yah!!! Itu kan bagus banget.."kataku pada Ayah
"Ya udah..sini Ayah beliin.."kata Ayah

Lalu Ayah membayar sepatu itu ke kasir. Setelah itu, kami berbelanja mainan dan pakaian yang banyak. Selain dibelikan sepatu, aku juga dibelikan mainan robot-robotan yang sangat keren. Kedua kakakku dibelikan bola, kaset PS, dan pakaian oleh Ayah. Lalu Kak Ali berkata sesuatu pada Ayah

"Yah, kok Bunda nggak di oleh-olehin apa-apa sih yah..?"tanyanya pada Ayah
"Tenang aja..Bunda juga pasti Ayah beliin..tapi bukan sekarang..pokoknya nanti Ayah beliin buat Bunda.."kata Ayah berbohong
"Ayah, habis ini boleh nggak main ke rumah Tante Tara..boleh ya.."kata kak Elang pada Ayah
"Boleh..boleh.."kata Ayah
"YEEEE!!"kata kak Elang bergembira.

Setelah jalan-jalan ke mall, Kami bertiga diantar Ayah ke rumah Tante Tara..dan kebetulan disana juga ada Dhania..

"Tante!!!!"kata kami bertiga menyambut tante Tara setelah sampai
"Haiiiii!! Udah lama ya nggak kesini..Tante kangen nih sama kalian bertiga.."kata Tante Tara sambil mencium pipi kami.
"Iya..kita juga kangen sama tante..kita mau main ke sini.."kataku
"Tara, titip anak-anak ya..nanti malem aku jemput ke sini.."kata Ayah pada Tante Tara
"Iya..tapi aku aja mas yang anter mereka ke rumah.."kata Tante Tara
"Ya udah deh kalo kamu maunya begitu..Daah semuanya!!"kata Ayah melambaikan tangan
"DAAHHHH!!"kata kami bertiga dan tante Tara

Pada saat malam, Ayah bertemu kuntilanak lagi. Kali ini perasaan Ayah sudah sedikit "mendingan" daripada kemarin. Ayah langsung menyambut kuntilanak itu..

"Hai kunti.."kata Ayah
"Hai juga.."kata kuntilanak
"Kunti, kamu cantik deh.."kata Ayah merayu kuntilanak
"Makasih.."kata kuntilanak
"Kamu bisa ceritain nggak soal suamimu itu..Soalnya semalem kamu ceritainnya kurang lengkap.."kata Ayah
"Iya, jadi suamiku itu dulunya baiiikk banget..dia sayang sama aku. Terus dia pernah bilang..katanya pokoknya aku cinta kamu sampai mati..tapi kenyataannya, nggak. Dia nikah siri sama perempuan lain..terus, dia yang bunuh aku, dia bunuh aku secara nggak langsung...dan mungkin dia nggak tau kalau aku itu udah meninggal..sekarang, dia malah asyik hura-hura sama temen-temen ceweknya..dia udah nggak peduli sama aku lagi.."kata kunti sedih
"Jadi..kesimpulannya, kita senasib dong.."kata Ayah
"Iya..kita emang udah takdir begini..tapi aku harus berusaha biar bisa bahagia.."kata kunti
"Karena kita senasib, punya penderitaan yang sama..Jadi.."kata Ayah menghentikan pembicaraannya
"Jadi apa mas?"tanya kunti
"Jadi..kamu mau nggak menikah sama aku?"tanya Ayah
"Apa? Menikah sama mas..Mas..sadar mas..alam kita ini beda..mana mungkin kita bisa nikah.."kata kunti
"Ya..kenapa nggak? Aku cinta sama kamu.."kata Ayah memeluk kunti, yang padahal Ayah tidak merasakan apa-apa sama sekali..

Pada saat yang bersamaan, Aku dan kedua kakakku baru saja pulang diantar Tante Tara ke rumah setelah mengantar Dhania pulang sebelumnya. Lalu pembantuku membuka pintu..

"Permisi, Bapak ada?"tanya Tante Tara
"Bapaknya lagi di kamar, masuk aja bu.."kata pembantu itu
"Ke kamar Ayah yuk.."kataku pada Tante Tara
"Yuk.."kata Tante Tara

Lalu kami naik ke atas ke kamar Ayah. Pada saat yang bersamaan, Ayah sedang mencium kuntilanak itu..

"Tante, buka pintunya yuk!"kataku
"Kamu aja yang buka.."kata Tante Tara

Lalu aku membuka pintu kamar Ayah, terlihat Ayah sedang mencium seseorang tetapi orang itu tidak ada..

"Mas!! Mas lagi nyium apaan sih mas?"tanya tante Tara
"Oh..ini..nggak ada apa-apa kok.."kata Ayah
"Itu siapa mas?"tanya kunti pada Ayah
"Itu loh..anakku sama temenku.."kata Ayah
"Kok Ayah ngomong sendiri sih?"tanyaku heran
"Sebenernya ada apa sih yah??"kata kak Ali
"Mereka nggak bisa liat aku ya?"tanya kunti lagi
"Iya..mereka nggak tau kalo ada kamu disini.."kata Ayah
"Ih..Ayah kok aneh..ngomong sendiri.."kataku
"Jangan jangan..ayah ngomong sama…."kata kak Ali
"SETAAANNNN...ih..takuuuuttt.."kata kak Elang berteriak
"Udah..udah..mending keluar aja yuk..hiii…sereeemmmm.."kata tante Tara keluar dari kamar Ayah

Lalu kami keluar karena saking ketakutan. Dan Ayah melanjutkan pembicaraannya dengan kunti..

"Jadi, kamu bener-bener mau nikah sama aku?"tanya Ayah
"Mau..aku mau mas.."kata kunti.

Pada saat malam, aku dan kedua kakakku tidur. Tetapi, aku merasakan sesuatu yang beda di malam ini. Aku bermimpi ada Bunda tiba-tiba muncul dengan pakaian berwarna putih-putih. Lalu ia berkata padaku..

"Sayang, ini Bunda.."kata Bunda dalam mimpi
"Bunda..aku kangen sama Bunda.."kataku
"Tapi sayang..kita kayaknya nggak akan pernah bisa ketemu lagi..kamu jaga diri baik-baik ya, kamu harus bikin Ayah sama kakak-kakak kamu bahagia.."kata Bunda
"Tapi kenapa kita nggak bisa ketemu lagi?"tanyaku
"Tenang aja, Bunda akan selalu ada di hati kamu.."kata Bunda. Lalu tiba-tiba Bunda menghilang begitu saja..
"Bundaaaaa!!! Bundaaaaa!!!"aku berteriak lalu bangun, dan kak Ali juga terbangun karena aku berteriak.
"Kamu kenapa teriak teriak?"tanya kak Ali
"Tadi ada Bunda, terus tiba-tiba Bunda ilang lagi..ternyata itu cuma mimpi.."kataku
"Terus kamu bilang apa aja ke Bunda?"tanya kak Ali lagi
"Aku bilang kalo aku kangen sama Bunda, bunda malah bilang kita nggak akan bisa ketemu lagi sama Bunda..."kataku
"Lho kok gitu sih, apa jangan-jangan Bunda udah nggak sayang kita lagi?"kata kak Ali
"Bunda bilang bunda akan selalu ada di hati aku.."kataku
"Kenapa Bunda bisa begini ya??"kata kak Ali
"Ya aku juga nggak tau dehh.."kataku
"Udah, mending sekarang kita tidur lagi, udah jam 2 tuh..besok kita telat bangun lho.."kata kakakku sambil menunjuk ke jam
"Yuk..aku juga udah ngantuk.."kataku

Lalu kami kembali tidur..

Keesokan harinya, Ayah pergi ke rumah Oma sepulang kerja...

"Lho, tumben kamu pulang cepet Dhef.."kata Oma pada Ayah
"Ini loh ma, aku mau ngomong sesuatu sama mama.."kata Ayah
"Ada apaan sih? Kok kamu jadi kayak gini.."tanya Oma heran
"Boleh nggak ma aku nikah lagi?"tanya Ayah pada Oma
"HAAHH?? DHEFIN AHMAD SAPUTRO?? Kamu mau nikah lagi? nggak puas apa udah punya istri dua, masih mau kawin lagi...bisa-bisa papamu ini marah besar kalo tau kamu mau nikah lagi.."kata Oma sewot
"Iya, maaf ma, tapi boleh nggak kawinnya sama kuntilanak?"tanya Ayah lagi
”KUNTILANAK???? Kamu bilang KUNTILANAK???? tambah nggak masuk akal aja!! Pokoknya nggak boleh, nggak boleh.."kata Oma
"Tapi aku cinta sama dia, dia lebih baik daripada Alya.."kata Ayah
"Tetep aja nggak boleh, Mama malu dong punya anak masa kawin sama kuntilanak!!"kata Oma
"Mending mama ketemu dulu deh sama kunti di kuburan, mau nggak aku temenin?"kata Ayah
"Ya udah deh..pokoknya sampai mati mama ngga akan mau ngasih restu buat kamu!!!!"kata Oma kesal
Setelah itu Ayah pulang, dan pada malam hari tante Tara datang ke rumah Oma..
"Malam tante.."kata Tante Tara
"Malam.."kata Oma dengan kesal
"Kok Tante mukanya kayak sebel gitu sih? Ada masalah ya?"kata tante Tara melihat wajah Oma
"Ini loh, suami siri kamu ini minta kawin lagi masa!!! Gimana tante nggak kesel!! Terus kawinnya sama kuntilanak lagi!!"kata Oma
"Kuntilanak?? Ah, tante ngarang kali ya.."kata tante Tara
"Nggak!! Tante nggak boong!! Dhefin sendiri tuh yang bilang ke tante kalo dia mau kawin lagi!! Ya ampunn...tante kan nggak mau punya mantu kuntilanak!!"kata Oma
"Udahlah tante..Tante tapi tau nggak siapa kuntilanaknya?"tanya Tante Tara
"Rencananya, tante mau diajak ketemu sama kuntilanak itu di kuburan.."kata Oma
"Udahlah tante, Mudah-mudahan perkawinannya batal.."kata tante Tara menenangkan Oma
"Ya amin deh kalo gitu.."kata Oma

Malamnya, tante Tara merenung…

“Kuntilanak?? Mungkin…pasti ini ada kaitannya sama perisitwa kemarin…Kemarin…aku liat mas Dhefin lagi…cium-cium setan…anak-anak juga waktu itu liat…Terus juga..mas Dhefin juga ngomong-ngomong sendiri gitu…kata-katanya ngerayu lagi…Apa jangan-jangan kuntilanaknya itu….Mbak Alya?? Nggak mungkin, aku ngga percaya kalo Mbak Alya genayangan malem-malem..Sampai sekarang…Mbak Alya juga belum pernah masuk ke mimpi aku..Mudah-mudahan..mas Dhefin sadar kalo yang dia lakuin itu udah kelewat batas…”

Keesokan harinya, Ayah mengajak Oma ke kuburan untuk memperkenalkan kunti pada Oma, Lalu Ayah menjemput Oma di rumah Oma..

"Ma, ayo berangkat sekarang.."kata Ayah
"Siapa aja yang ikut?"tanya Oma
"Aku, mama, anak-anak sama Tara."kata Ayah

Lalu tante Tara datang..

"Jadi nggak nih kita pergi?"tanya tante Tara
"Jadi.."kata Ayah
"Tempatnya di TPU mana?"tanya tante Tara
"TPU Gonjangganjing.."kata Ayah
"HAAAHHH?? TPU GONJANGGANJING??"kata tante Tara kaget
"Emang kenapa sih?"tanya Ayah
"Nggak ada apa-apa kok.."kata Tante Tara

Lalu tante Tara berbicara dalam hati..

"Apa jangan jangan..mas itu mau kawin sama istrinya sendiri ya..jelas-jelas..di TPU Gonjangganjing..waduh...gimana nih..tapi sukur deh..mereka bisa balikan..dan..aku ya tetep jadi istri kedua.."katanya dalam hati
"Tante!!"kataku memanggil tante Tara
"Iya sayang.."kata tante Tara
"Semalem aku mimpi Bunda.."kataku
"Mimpi Bunda? Emangnya bunda bilang apa ke kamu?"tanya tante Tara
"Pas di mimpi, bunda bilang kita nggak bisa ketemu lagi sama bunda, terus bunda juga bilang kalo bunda akan selalu ada di hati aku, ya abis itu bunda ngilang gitu aja.."kataku
"Mimpinya aneh banget.."kata tante Tara
"Iya nih..apa jangan-jangan bunda udah nggak sayang aku lagi ya?"kataku
"Nggak mungkin..Bunda akan selalu sayang sama kamu, Ayah sama kakak-kakak kamu.."kata tante Tara

Kemudian, mereka berangkat ke TPU pada malam hari. Saat di mobil tante Tara dan Dhania mengobrol…

"Tante...aku bener bener takut....aku ga tau lagi mesti ngapain.."kata Dhania berbisik pada Tante Tara
"Tante juga ngga tau.." kata Tante Tara
"Udahlah kita diem aja.." kata Dhania
"Lagian lambat laun semuanya pasti bakal terungkap" kata Tante Tara
"Iya ya.."kata Dhania

Aku masih tak percaya bahwa Ayah akan menikah lagi, dengan kuntilanak pula. Aku pun tidak tahu, untuk apa kami dibawa ke kuburan. Apa jangan-jangan Bunda......ah!!!! aku tidak boleh berpikir seperti itu!! Aku harus yakin, bahwa Bunda akan selalu menyayangi Aku, Ayah, dan kedua kakakku. Tak akan ada yang bisa menggantikan Bunda.

Akhirnya kami sampai juga di kuburan. Aku sangat takut sekali, Jantungku berdebar debar...rasanya arwah-arwah yang dikubur di pemakaman ini terus menghantuiku...aku benar-benar tegang..rasanya seperti mau mati. 

"Nisannya yang mana mas?" tanya Tante Tara pada Ayah
"Pokoknya cari yang ngga ada namanya.."jawab Ayah
"HAH??? NGGA ADA NAMANYA" teriak Dhania
"Ssssssttt..."kata Tante Tara dan Ayah
"Heh Dhan, jangan berisik, ini kuburan, nanti kamu didatengin setan lo...hiiiii.."bisik Tante Tara pada Dhania
"Tapi nisannya ngga ada namanya..."kata Dhania
"Berarti itu.....tante kamu..."kata Tante Tara
"Iya...udahlah kita pasrah aja.." kata Dhania

Dan Ayah berusaha mendekati nisan tanpa nama itu, dan akhrinya sosok Kunti keluar dengan cantiknya...

"Ka...kamu ngapain kesini??"tanya Kunti terbata-bata
"Aku...mau..."kata Ayah ragu-ragu
"HEH KUNTILANAK GA TAU DIRI!!! NGAPAIN KAMU NGEDEKETIN ANAK SAYA???"kata Oma memotong pembicaraan
"Em...Anu tante...."kata Kunti ragu-ragu
"KAMU MAU KAWIN SAMA ANAK SAYA??? KAMU SADAR DONG, SIAPA ANAK SAYA!!! DIA ITU NGGAK PANTES BUAT KAMU!!!"kata Oma
"Mama, jangan marahin Kunti!!!! Dia itu calon istri aku.."kata Ayah
"CALON ISTRI?????? APA KAMU BILANG???? CALON ISTRI???"kata Oma lagi
"Iya, dia cintaku satu-satunya.."kata Ayah mantap
"Udahlah tante...ngga usah terlalu emosi...Mas..lebih baik batalin aja deh pernikahannya.."kata Tante Tara menenangkan suasana
"Aku ngga akan batalin pernikahan ini!!! Kami berdua saling mencintai!!!"berontak Ayah
"Ya..apa boleh buat.."kata Tante Tara
"Kunti sayang....kamu mau ngga jadi istriku, aku udah mantepin semuanya. Aku cinta sama kamu, Aku janji ngga akan ninggalin kamu." kata Ayah

Semuanya terdiam sesaat...Akupun berbisik pada tante Tara..

"Tante...kok itu....itu...kuntinya ada tompelnya sih di leher..."bisikku
"Heh, kamu jangan bercanda napa disini.."kata kakakku yang kedua mendengarku berbisik...
"Bener juga ya...ada tompelnya...terus...potongan rambutnya mirip..."kakakku yang pertama melanjutkan..
"Mirip...mirip...Bunda kamu kan??"kata Tante Tara
"Iya...."kataku hampir menangis..
"Tapi itu bukan Bunda kan tante??"tanyaku lagi
"Sebenernya...sampai sekarang, tante juga terlalu berat buat nyeritain ini ke kalian...Tante ngga mau cerita ini ke kalian...soalnya tante ngga mau hati kalian terluka...Jadi...kuntilanak yang kamu bilang mirip bunda tadi...itu bener-bener bunda kamu, Bunda sudah ada di surga... "kata Tante Tara menangis...
"Tante boong kan??? Bunda ngga mungkin pergi!!! Bunda ngga akan pernah ninggalin kita!! Aku kecewa sama tante!!!!" kata kak Ali membentak
"Ssst...yang tadi kamu bilang itu bener, Bunda ngga akan ninggalin kalian, Bunda itu akan selalu ada buat kalian, ada di hati kalian , setiap saat kalian memerlukan Bunda. Tapi..Bunda..bener-bener udah ada di surga..."kata tante Tara menangis
"Jadi...itu bener Bunda.???" tanyaku sambil menangis Tante Tara hanya menganggukan kepala.
BUNDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Suasana menjadi sedih. Sangat sedih. Alangkah sedihnya ditinggal seorang Ibu. Ibu yang melahirkan, menyusui dan merawatku dan kedua kakakku hingga kami seperti sekarang ini. Semuanya kecuali Ayah dan Oma menangis...

"Hem...ada apa ya sebenernya?? Kayaknya ada yang sedih..kita semua harus berbahagia malam ini.."kata Ayah
"Be....gini yah.....Bu...Bunda...udah...meninggal...."kataku pada Ayah
"Hah?? Bunda meninggal?? Kamu bercanda sayang?? Hahaha....ngga mungkin Bunda kamu itu meninggal...."kata Ayah
"Mas...kuntilanak yang akan mas nikahi ini sebetulnya adalah...arwah istri mas sendiri...Dia sudah meninggal beberapa waktu yang lalu karena perbuatan mas...yang sudah tega menyakiti istri mas sendiri...di Terowongan Casablanca.."kata Tante Tara
"Terowongan Casablanca....kamu tau dari mana??" tanya Ayah
"Jadi begini...." kata Tante Tara
"Waktu aku mau berangkat les, aku liat ada....mayat geletakan di terowongan...terus aku liat dan ternyata, itu mayat tante..aku panik, terus aku telpon tante Tara..terus...mayatnya dibawa kerumah sakit...diperksa dokter..lalu dikubur disini, nisan tanpa nama.."kata Dhania
"Oiya, Aku juga nemuin ada webcam sama sejumlah alat pengintai di terowongan..dan aku tau, ini pasti ada hubungannya...sama laptop yang aku temuin di kamar mas ini, mas silakan liat sendiri videonya.." kata tante Tara sambil menunjukkan laptop Ayah yang kebetulan dibawanya, bersama webcam dan alat pengintai lainnya, dan Ayah menyaksikan video "proses kematian" Bunda yang terekam setelah..Ayah menghentikan pengawasan terhadap Bunda...dan Ayahpun teringat...betapa "tololnya" ia mengapa ia begitu saja mengentikan pengawasan itu... “AAAAAHHHHHHHHHHHHHHH!!!! TIDAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!! ALYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! MAAFIN AKU ALYAAAAAA!!! AKU MASIH CINTA SAMA KAMU, AKU MENYESAL ALYA, SUNGGUH SUNGGUH MENYESAL!!!!” teriak Ayah “Udahlah mas, ngga ada yang perlu disesalin…kan Mas masih punya mama, papa, anak-anak, saudara-saudara….yang berlalu biar aja berlalu. Yang penting bagaimana ke depannya mas.. ”kata Tante Tara

Kemudian….kuntilanak alias arwah Bunda itu…berbicara sesuatu kepada semuanya..

“Mas Dhefin..aku juga masih cinta sama mas. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat…sudah terlambat. Bener tadi kata Tara, ngga ada lagi yang perlu disesalin. Sebelum aku bener-bener pergi mas, aku punya pesan buat mas Dhefin, Ali, Elang, Dede, Mama, dan kamu, Tara.” 
“Bunda mau ngasih pesen apa sama kita?? Bunda janji kan akan selalu sayang sama kita semua??” tanyaku pada Bunda 
“Iya, Bunda akan selalu sayang kalian semua. Yang pertama, aku mau ngomong sama mas Dhefin, mama, sama kalian semua. Tolong jaga anak-anak baik-baik ya…Ali, Elang, Dede, kalian harus terus belajar, jangan lupa ngerjain PR, jangan sampe rapot kak Ali merah kaya waktu semester kemarin. Kan bentar lagi kakak mau kelas 6, mau ujian. Jangan lupa, sebelum tidur kalian harus..” 

Bunda menghentikan pembicaraannya sesaat. 

“Cuci tangan, cuci kaki, minum susu sama baca doa Bun..”kata kami bertiga kompak. 
“Betuuuuul sekali. Yang kedua, pesen buat mama, jangan lupa ya ingetin mereka yang tadi. Jaga juga mas Dhefin, biar ngga kelayapan kemana-mana tuh ma…Oiya…Dhania..kalo om Dhefin pergi, tolong ajakin main Ali, Elang sama Dede ya..sekalian kan bisa belajar bareng, bantuin Elang sama Dede ngerjain PR. Oiya, mama papa kamu udah tau kalo tante udah ngga ada?” tanya Bunda pada Dhania 
“Udah aku telpon sih tante…mungkin lusa baru nyampe terus kesini..”kata Dhania 
“Yang ketiga…ini kabar gembira buat mas Dhefin sama Tara…Sebenernya aku mau ngomongin ini dari dulu banget. Tapi sayang aku udah dipanggil duluan sama Yang Di Atas. Hem…jadi gini…aku udah ikhlas, aku udah pasrahin semuanya, dan aku ngga mungkin bsa ketemu kalian lagi….dan….aku ngerestuin kalian buat menikah. Sebenernya, ini semua bukan salah Tara ataupun mas Dhefin. Ini semua salah aku yang ngga bisa jaga rumah tangga kita dengan baik, makanya semuanya jadi begini..” kata Bunda 
“Apa…kamu ngerestuin kami berdua???” tanya Ayah. 

Bunda hanya tersenyum. 

“Hah??? Hahahahahahahaahhahah..” tante Tara pun tertawa. 
“Kok semuanya pada ngga seneng??” tanya Bunda 

Semuanya tertawa. Tertawa dengan lepas. Kami semua sebenarnya gembira. Begitu pula tante Tara dan Ayah. 

“Semuanya, ini pesan terakhir aku. Aku mau minta maaf kalo aku punya salah, baik itu yang sepele ataupun yang besar. Makash ya udah bikin aku bahagia selama hidup. Terutama buat mas Dhefin, makasih ya udah setia sama aku selama 10 tahun ini…apapun perbuatan kamu aku ngga peduli mas. Ali, Elang, Dede, makasih ya kalian udah mau jadi anak-anak Bunda dan Ayah yang baik, patuh, dan sayang sama orang tua. Mau kalian bandel, nilai kalian jelek, nyakitin hati Bunda. Gak papa, Bunda sayang dan cinta kalian semua. Pokoknya makasih ya semuanya….Aku harus pergi sekarang. Daahhhhhh…” kata Bunda melambaikan tangannya pertanda salam perpisahan. 
“Daaahhhhhhhhhh!!!!” kami semua melambaikan tangan pada Bunda.

Bunda pun menghilang, dan saat ini sudah berada di Surga. Lalu kami semua pulang. Keesokan harinya, seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman Ayah dan Bunda berziarah ke makam Bunda untuk mengucapkan salam terakhir untuknya. Kami semua berdoa, agar semua dosa-dosa Bunda selama hidupnya diampuni, dan Bunda berada di Surga untuk selama-lamanya.

Sampai saat ini Ayah masih terpukul dan tidak menerima kematian Bunda. Perlahan-lahan Ayah mulai menyadari kesalahannya yang ia perbuat kepada almarhumah istrinya itu selama hidupnya, dan mulai melupakan rasa cintanya pada “kuntilanak” yang ternyata adalah arwah Bunda. 

Enam bulan kemudian, dengan segala persiapan yang hampir seluruhnya rampung, Ayah dengan mantapnya menikahi tante Tara. Segala proses dilakukannya dengan serius, mulai dari pendekatan, masa penjajakan, lamaran, hingga pernikahan itu sendiri. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana Ayah dan tante Tara mengarungi bahtera rumah tangga itu sendiri. Kami semua, dan terutama Bunda yang sudah berada di Surga, tentu berharap yang terbaik bagi Ayah dan tante Tara. Semoga mereka dapat hidup bahagia selamanya. Amin.


SEKIAN

Tidak ada komentar: