Laman

Kamis, September 25, 2008

Asal Usul Kata Pengemis

Di borobudur terdapat banyak pengemis, sebagian memang terpaksa mengemis karena tidak ada alternatif lain tetapi ada sebagian lain yang menjadikannya sebagai profesi.

Golongan pertama umumnya terdiri atas mereka yang “tidak beruntung”, terlahir atau karena suatu kecelakaan mengalami keterbatasan fisik yang berujung pada keterbatasan kesempatan untuk mencari rejeki dengan cara yang normal.

Golongan kedua adalah mereka yang malas, lebih senang menadahkan tangannya mengeksploitasi belas kasihan orang lain. Di antara golongan kedua ini ada yang ditengarai memiliki aset/kekayaan di atas rata-rata masyarakat di sekitarnya. Modus operandinya, mereka beroperasi di tempat yang cukup jauh dari komunitasnya sehingga tidak dikenali. Dari rumah mereka berpakaian biasa, seolah-olah berangkat kerja “normal” kemudian berganti kostum pengemis di tempat yang sekiranya aman. Masuk kategori golongan kedua adalah mafia pengemis (kaipang) yang beroperasi secara kolektif dan ada bossnya. Pengemis “pekerja” harus setor sejumlah uang ke bos pengemis.

ternyata pengemis juga memiliki akar sejarahnya tersendiri. Djodi Ismanto meringkasnya dari Buku Khasanah Bahasa dalam Kata Per-Kata (Prof. Gorris Keeraf). Ceritanya begini :

Pada saat itu penguasa Kerajaan Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh seorang Raja bernama Paku Buwono X, dimana para penguasa pada masa itu memang sangat dermawan serta gemar membagi-bagikan sedekah untuk kaum papa yang tak berpunya terutama menjelang hari Jumat khususnya pada hari Kamis sore.

Pada hari Kamis tersebut Raja Paku Buwono keluar dari Istananya untuk melihat-lihat keadaan rakyatnya, dari istana menuju Masjid Agung, perjalanan dari gerbang Istana menuju Masjid Agung tersebut ditempuh dengan berjalan kaki yang tentunya melewati alun-alun lor (alun-alun utara), sambil berjalan kaki tentunya diiringi para pengawal sang raja, rupanya di sepanjang jalan sudah dielu-elukan oleh rakyatnya sambil berjejer rapi di kanan-kiri jalan dan sembari menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan kepada sang pemimpinnya.

Pada saat itulah sang raja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersedekah dan langsung diberikan kepada rakyatnya berupa uang tanpa ada satupun yang terlewatkan dengan kebiasaan berbagi-bagi berkah tersebut mungkin juga warisan para penguasa sebelumnya (sebelum Paku Buwono X), ternyata kebiasaan tersebut berlangsung setiap hari Kamis (dalam bahasa jawanya Kemis), maka lahirlah sebutan orang yang mengharapkan berkah dihari Kemis dan diistilahkan dengan sebutan NGEMIS (kata ganti untuk sebutan pengguna/pengharap berkah dihari Kemis) dan pelaku-pelakunyapun biasa disebut Pengemis (Pengharap berkah pada hari Kemis).

Namun kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya kata dasarnya bukan emis tapi Kemis (Kamis), ternyata sebutan peminta-minta kalah populer dengan istilah pengemis padahal kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis atau emis mungkin tidak dikenal dalam kosa kata bahasa indonesia kecuali kalau ada tambahan awalan pe sehingga muncul istilah “Pengemis”. Lain halnya dengan kata peminta-minta kata dasarnya adalah minta yang artinya jelas bahkan bisa berdiri sendiri tanpa ada awalan pe.

Jadi kalau boleh disimpulkan asal muasal kata atau perkataan pengemis berasal dari Surakarta atau Solo.

Tidak ada komentar: