Laman

Jumat, Maret 23, 2012

Untitled alias Masih Belum Ada Judul

Yang mau ngasih judul, monggo :D

Rezky Pramudya is single

Inilah kalimat yang terpampang di bagian atas timeline Facebook yang sedang diakses dari smartphone milik Danela.

"Hah? Dia putus? Aaaaaaaaaaaaa!!! Yesssss!!!!!" teriak Maya kegirangan.
"Eh demi ape demi ape?" tanya Julia keheranan.
"Nih liat aja statusnya udah ganti," kata Maya sambil memperlihatkan smartphone milik Danela ke Julia.
"Heeehhh??? Nggak salah liat gue???" tanya Julia keheranan.
"Norak banget sih lo...kaya nggak ada cowok lain aja," kata Tasya.
"Iiiihhh akhirnya dia putus Nel.....seneng parah gue aaaaaaa!!!!" teriak Maya kegirangan.
"Doa lo terkabul juga May akhirnya," kata Danela yang dari tadi terlihat datar melihat ekspresi Maya yang kegirangan.
"Hmm....iya nih. Nel, kok tampang lo datar gitu sih, ga ikutan seneng gimana gitu," kata Maya.
"Lah itu gebetan lo bukan gebetan gue," kata Danela dengan ekspresi sedikit jutek.
"Masih keukeuh nih Nel nggak mau nyari lagi..." kata Tasya dengan tampang menggoda.
"Masihlah," jawab Danela.
"Nela kan single fighter sejati, yo'i nggak May?" kata Julia.
"Yo'i lah Jul...kalo lo mah galauers sejati," jawab Maya.
"Sialan lo hahahaha," kata Julia sambil tertawa

Maya, Julia, dan Tasya tampak kegirangan saat itu. Danela hanya tersenyum simpul melihat sikap sahabat-sahabatnya yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Inilah kali pertama mereka berkumpul setelah sekian bulan tidak bertemu karena kesibukan yang melanda.

Kemudian, smartphone milik Danela yang sedang dipegang Maya itu berbunyi. Tanpa basa-basi, Danela langsung merebutnya dari Maya yang tengah kegirangan.

"Halo?" kata Danela.
"Lagi dimana lo Nel?" tanya Rara, teman Danela yang menelpon.
"Di tempat biasa lah, ayo lah lo kesini Ra, ada gosip seru nih," kata Danela.
"Gosip apaan?" tanya Rara.
"Buruan deh lo dateng, nyesel loh kalo nggak tau..." kata Danela.
"Aduh, mager gue, udah gitu nggak ada yang nganter," kata Rara.
"Yayang lo emangnya lagi kemana?" tanya Danela.
"Ada acara keluarga dia, tadinya gue juga diajak kesana tapi mager parah nih," kata Rara.
"Ah payah lo, cepet buruan kesini keburu gosipnya basi," kata Danela yang terus membujuk Rara agar datang.
"Iye deh Nel gue turutin permintaan lo," kata Rara.
"Sip deh Ra, kita semua nungguin lo nih," kata Danela.
"Gue siap-siap dulu ya Nel, daah..." kata Rara.
"Daah," kata Danela sambil menutup telepon.

Danela pun mengakhiri pembicaraannya dengan Rara. Seperti inilah suasana di sebuah kafe yang terletak di sudut pusat perbelanjaan termewah di Jakarta itu. Terlihat Danela, Maya, Julia, dan Tasya, sedang bercengkrama sambil menyeruput teh dan kopi yang mereka pesan. Danela, seorang gadis tomboy nan anggun, terlihat sedikit cuek dengan hal yang dibicarakan kawan-kawannya tersebut. Ia seakan tidak peduli dengan urusan cinta, tidak seperti Maya yang hatinya kini menggebu-gebu karena sang pujaan hati kini sudah kembali melajang. Danela tidak seperti Julia, yang sedang berada di tengah kebimbangan akan hubungan dengan kekasihnya yang playboy. Ia juga tak seperti Tasya, yang memiliki sejumlah pria yang ingin ia jadikan pacar namun masih bingung untuk menetapkan hatinya kepada siapa. Usianya yang hampir kepala tiga ini tak membuatnya merasa terburu-buru untuk mencari pasangan hidup. Danela menjalani hidupnya dengan santai, berbeda dengan teman-temannya yang sudah memikirkan soal hal penting yang pastinya dinanti-nanti semua wanita, jodoh. Libur panjang tinggal lima hari lagi. Danela pun sudah mendapat cuti yang lumayan panjang dari kantornya. Hingga saat ini, Danela belum mempunyai rencana apapun untuk mengisi liburannya. Ia berharap liburan kali ini tidak membosankan seperti biasanya.

"Nel, si Rara udah nyampe mana sekarang? Jadi dateng nggak tuh anak?" tanya Julia
"Dia BBM gue bilang masih di jalan Jul," jawab Danela.

Beberapa saat kemudian, Rara datang...

"Halo semuanya...." kata Rara sambil melambaikan tangannya kepada teman-temannya.
"Eh Rara, baru aja tadi diomongin," kata Julia.
"Ada gosip apaan nih emangnya? Pasti Maya nih biangnya," tanya Rara.
"Si itu.......udah putus Ra!!! Udah putus!!!" teriak Maya.
"Siapa si itu si itu May?" tanya Rara lagi.
"Nih liat aja deh, Nel pinjem HP lo lagi dong," kata Maya.

Danela pun memberikan smartphone miliknya pada Rara. Lalu, Rara memperlihatkan halaman Facebook milik pria yang tadi ia maksud.

"Hah??? Yang bener May???" tanya Rara keheranan.
"Iya Ra, gue juga nggak nyangka, padahal dia udah mau tiga tahunan loh sama ceweknya," kata Maya.
"Dari kapan putusnya May?" tanya Rara.
"Kayaknya sih udah lama tapi baru dipublish sekarang deh," kata Maya.
"Jadi ikutan penasaran juga May kenapa bisa gitu. Gue mau kepo FB ceweknya dong," kata Rara.

Rara mengambil smartphone Danela yang berada di tangan Maya. Akan tetapi, ada telepon masuk dari Ibu Danela. Rara pun mengurungkan niatnya untuk melihat Facebook wanita tadi dan memberikan smartphone di tangannya kepada Danela. Kemudian Danela mengangkat telepon.

"Iya ma, kenapa?" 
"Em...gini sayang, mama mau ngomong sesuatu."
"Ada apa ma? Bilang aja deh."
"Mama baru aja dapet kabar kalau tadi...nenek jatoh dari kursi..."
"Hah? Jatoh? Kok bisa gitu ma???" kata Danela dengan terkejut.
"Iya nak, nenek nggak ada yang jagain di rumah. Om Ridwan kan udah pulang ke Salatiga jadi nenek tinggal sendirian."
"Terus gimana dong???" tanya Danela yang semakin terkejut.
"Lutut nenek cedera parah nak, sampe sekarang nenek belum ke dokter. Nggak ada yang nganterin. Jadi mau nggak mau mama harus ke Solo ngerawat nenek. Mama juga udah pesen tiket pesawat."
"Kenapa harus mama siiih? Kan ada saudara kita yang lain, ntar Nela sendirian dong dirumah." tanya Danela dengan ekspresi sedikit kesal.
"Nak, kasian nenek sendirian, yang lain sibuk semua jadi cuma mama yang bisa ngerawat. Kira-kira mama di Solo sebulan lah sampe nenek pulih."
"Sebulan? Nggak salah tuh ma?" tanya Danela keheranan.
"Nanti ngobrolnya kita lanjutin dirumah aja deh nak, kamu pulang sekarang gih."
"Oh, oke deh ma. Daah."
"Daah."

Danela menutup telepon dengan ibunya. Kemudian, Julia bertanya kepada Danela.

"Nenek lo kenapa Nel? Kok kayaknya lo kaget-kaget panik gitu?"
"Nenek gue jatoh dari kursi Jul."
"Turut berduka ya Nel. Terus yang tadi sebulan itu apa?"
"Jadi gini, nenek gue kan nggak ada yang ngerawat di Solo. Saudara gue juga pada sibuk semua kan. Jadi nyokap gue bakalan ke Solo, sebulan jek."
"Jadi sendirian lo disini?"
"Ya gitu deh Jul..."
"Yah, derita lo Nel, gue doain deh semoga nenek lo cepet sembuh."
"Amin, makasih ya Jul. Btw gue cabut dulu ya, udah disuruh balik sama nyokap."
"Yah padahal lagi seru nih Nel, hati-hati ya, daah" 
"Daah semua!!!" kata Danela sambil melambaikan tangan ke seluruh temannya

Danela pergi meninggalkan teman-temannya. Mobil Mercedes Benz seri terbaru yang dikendarainya melaju kencang menuju rumahnya yang terletak di sebuah perumahan elit di Jakarta Pusat. Setelah sampai, ia pun langsung turun dari mobil dan menuju ruang tamu untuk menemui kedua orangtuanya. Wajahnya menunjukkan perasaan kesal.

"Nela sayang, mama sama papa boleh pergi ya nak, please, kasihan nenek." kata Ibu Danela.
"Iya nak, nenek nggak ada yang jagain. Kalo nanti nenek kenapa-napa gimana dong nak?" timpal Ayah Danela
"Terus masa Nela jaga rumah sendirian," kata Danela dengan cemberut.
"Jangan kaya anak kecil gitu dong nak, abis mau gimana lagi," kata Ibu Danela
"Mama gitu banget deh, terus kapan berangkatnya?" tanya Danela
"Besok lusa sayang."
"Nah, Nela gimana??? Nela udah ambil cuti lama masa dirumah aja, Ma, Pa. Masa Nela pergi-pergi sendirian keluar?"
"Kamu sabar ya sayang, nanti mama cari solusinya gimana. Mama ngobrol sama papa dulu ya, kamu istirahat aja di kamar."
"Ok ma."

Danela yang masih belum menerima keputusan kedua orangtuanya itu langsung pergi menuju kamarnya. Kemudian, kedua orangtua Danela melanjutkan pembicaraan mereka.

"Pa, jadi gimana dong, masa Nela ditinggal sendrian. Dia bete banget tuh Pa."
"Hmm...gimana kalo kita ajak aja ke Solo?"
"Nanti siapa yang jagain rumah?"
"Kan ada pak satpam, Ma."
"Iya sih, tapi kan pasti Nela juga mau liburan sama temen-temennya."
"Bener juga ya Ma, tapi nanti siapa yang jagain dia? Dia kan suka takut sendirian kalo kita tinggal. Udah gitu saudara-saudara yang lain juga pada sibuk lagi Pa jadi nggak bisa ke Solo. Kita kan nggak ada saudara di Jakarta, secara kita warga perantauan dari kampung Ma."
"Hhhh...susah juga ya Pa punya anak tunggal, jadi manja begini padahal umurnya udah 27 tahun."
"Ya salah sendiri dulu mama nggak mau ngasih Nela adik?"
"Ah udah ah Pa, nggak usah bahas yang dulu-dulu lagi."

Ibu Danela berpikir sejenak.

"Pa, mama ada ide."
"Ide apa ma?"
"Gimana kalo Nela kita titip di rumah temen papa?"
"Temen papa? Hmm siapa ya...Pak Taufik, kan sibuk banget tuh tiap hari keluar rumah. Sama aja kayak dirumah kalau kita titip Nela disana. Kalo Pak Edwin, cucunya banyak banget. Bisa-bisa Nela nggak betah gara-gara disuruh jadi baby sitter disana. Dia kan nggak seneng anak kecil."
"Terus jadinya siapa dong Pa?"
"Oiya, papa baru inget, gimana kalo Pak Prabowo?"
"Pak Prabowo? Yang ikut sama kita ke Bunaken itu kan 2 tahun yang lalu?"
"Iya ma."
"Kan lumayan sibuk juga dia, sekarang punya usaha tambang."
"Kan ada istrinya ma, Bu Netty."
"Terus ada juga keponakannya, Rio, yang ganteng itu loh, kan dia bisa jagain Nela."
"Oiya papa belum cerita, seminggu yang lalu papa ketemu Pak Prabowo, pas papa tanya mau liburan kemana dia belum ada rencana."
"Ya udah, papa coba telpon Pak Prabowo, mau nggak nitip anak kita?"
"Ok ma nanti papa telpon."

Masih pada hari yang sama, di lain situasi, Rio masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Maklum, ia belum mendapat cuti. Kemudian, Rey, salah seorang kawannya, menelponnya. Rey sendiri adalah putra dari teman Pak Prabowo. Orangtuanya dan keluarga Pak Prabowo sudah bersahabat puluhan tahun, sehingga Rey juga bersahabat dengan Rio dan Olla, putri tunggal Pak Prabowo dan Bu Netty. Rey tinggal bersama kedua orangtuanya di Swedia karena mereka bekerja disana dan kebetulan Rey mempunyai darah Swedia dari ayahnya. Ibu Rey berasal dari Solo. Rey tumbuh menjadi seorang pria yang tampan. Matanya yang berwarna biru dan postur tubuhnya yang cukup tinggi membuatnya menjadi pria yang diincar banyak wanita. Selain itu, ia cukup mapan dan bergelar master dari salah satu universitas terbaik di Perancis. Oleh karena itu, ia fasih berbicara bahasa Perancis dan berbagai bahasa asing lainnya. Tak lupa dengan kampung halaman, ia juga dapat berbahasa Jawa dengan baik. Namun, sampai saat ini, Rey masih belum memiliki pasangan hidup. Keluarga dan teman-temannya sudah sering memperkenalkannya pada sejumlah wanita, tetapi Rey menolaknya. Handphone milik Rio berdering dan Rio mengangkatnya.

"Halo..."
"Hai Rio, apa kabar? Ini Rey."
"Ah Rey, alhamdulillah gue baik, lo gimana? Tumben banget lo nelpon," jawab Rio kegirangan
"Gue juga baik kok Yo."
"Ada angin apa nih lo nelpon tiba-tiba nggak kaya biasanya?"
"Jadi gini, lo lagi sibuk nggak sekarang?"
"Lumayan sih tapi kan sebentar lagi udah mau libur jadi ya agak dikit lah kerjaan gue."
"Sorry Yo ganggu, gue mau minta tolong sesuatu sama lo."
"Oooh minta tolong, santai aja kali Rey ga usah pake basa-basi segala. Mau minta tolong apa?"
"Yo, kan tiga hari lagi temen gue bule dua orang mau dateng kesini. Namanya Rafael sama Isabelle. Mereka mau liburan kira-kira sebulan lah. Lo bisa nggak jadi tour guide buat mereka selama tiga hari di Jakarta?"
"Bisa kok Rey, gampang lah. Ngatur schedule nya gimana?"
"Tenang aja, besok schedule nya gue email ke lo. Lo tinggal liat aja disitu ada jadwal kegiatannya hari apa kemana. Pokoknya tinggal terima beres aja deh. Oiya empat hari lagi gue juga mau nyusul."
"Oya? Main-main dong ke rumah."
"Itu sih pasti Yo."
"Oke, makasih banyak ya Yo, salam buat om, tante, sama Olla, see you in Jakarta, bye."
"Bye."

Jarum jam menunjukkan angka 10. Semua pekerjaan Rio untuk hari ini sudah selesai. Rio merasa sangat lelah. Suasana kantor pun sepi. Ia bergegas meninggalkan kantor.

Sementara di rumah, Olla terus menunggu sang kakak sepupu. Dengan gaya yang serba cuek, ia mengangkat kakinya ke atas sofa dan menonton acara komedi kesukaannya sambil menghabiskan satu per satu keripik kentang yang mengandung banyak pengawet yang tidak baik untuk tubuhnya. Padahal, Olla sudah tahu bahwa keripik itu tidak sehat. Namun, ia tetap saja memakan keripik tersebut hingga akhirnya Rio tiba dirumah.

"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas Rio lembur ya?"
"Udah tau pake nanya. Capek parah gue..."
"Emangnya lo belom dapet cuti mas?"
"Iya nih, sekolah lo udah libur kan de?"
"Udah dari kapan tau mas, ujian udah, bagi rapot juga udah, ya libur deh sekarang."
"Pantes aje malem-malem gini lo belum tidur."
"Ya udah mas lo tidur sana biar besok nggak capek."

Sesaat, Rio menatap keripik yang dimakan Olla.

"Eh de, jangan kebanyakan makan gituan, ga baik loh."
"Nggak usah ngemeng deh mas, sendirinya suka makan gituan."
"Ye kan gue cuma bilangin apa salahnya dong dek."
"Udah, to the point aja lah, ambil lah sebiji kalo lo pengen."
"Ya deh, bagi satu ya dek."

Olla kesal dengan sikap sepupunya itu. Kemudian, Rio berjalan menuju kamarnya untuk tidur dan meninggalkan Olla sendirian di ruang keluarga.

Tidak ada komentar: