Laman

Minggu, November 24, 2013

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 5

Setelah sekian lama tak update. Sebenernya draft tertulisnya udah ada sampe part kesekian tapi baru sempet ngetik sekarang.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Akhirnya Rey tiba juga di Jakarta. Ia dijemput oleh salah seorang temannya dan diantar ke rumah Pak Prabowo untuk menginap selama sebulan. Sedangkan Rio masih menjalankan tugasnya sebagai tour guide dengan mengantar Rafael dan Isabelle ke Kebun Raya Bogor.

Setelah menempuh satu jam perjalanan dari bandara, Rey sampai di rumah Pak Prabowo. Mbak Inah pun membukakan pintu.

"Halo Mbak Inah, apa kabar? Udah lama nggak ketemu..." tanya Rey yang menyambut Mbak Inah dengan ramah.
"Eh, ada Mas Rey! Alhamdulillah baik Mas, tambah ganteng aja nih Mas Rey," jawab Mbak Inah yang setengah terkejut melihat kedatangan Rey.
"Aduh mbak jangan muji gitu dong saya kan malu. Rio mana mbak?"
"Mas Rio lagi pergi."
"Kalo bapak sama ibu?"
"Lagi pergi juga mas. Yang ada cuma saya sama temennya Mas Rio."
"Temennya yang mana ya mbak?"
"Sebentar, saya panggil dulu."

Lalu Mbak Inah memanggil Danela di ruang makan dengan nada menggebu-gebu. Saat itu Danela tengah memakan sereal kesukaannya.

"Mbak Danela!!!" panggil Mbak Inah.
"Iya mbak," jawab Danela yang tengah makan.
"Ada temennya Mas Rio!!! Ganteng loh mbak!!!" goda Mbak Inah.
"Manggilnya centil amat mbak, udah mbak aja yang ngobrol," kata Danela sambil melanjutkan makannya.
"Duh, ganteng loh mbak!!! Orangnya ada di ruang tamu. Udah liat aja dulu, kali-kali jodoh," kata Mbak Inah dengan semangat menggebu-gebu
"Yah mbak hari gini masih bahas jodoh..."
"Ya udah kalo mbak nggak mau ketemu. Kasian loh sendirian di ruang tamu. Saya mau balik dapur dulu."

Mbak Inah kemudian kembali ke dapur untuk memasak. Danela tampak cuek dengan segala hal yang dikatakan Mbak Inah tadi. Kemudian ia melanjutkan makannya.

Setelah makan, Danela pergi ke ruang ramu untuk mengintip tamu yang dimaksud Mbak Inah alias Rey. Menyadari bahwa ada seseorang berjalan menuju ruang tamu, Rey mengarahkan pandangannya pada Danela. Saat melihat tatapan Rey, Danela mengumpat di balik dinding. Kemudian Danela kembali menatap Rey. Rey pun tersenyum kepada Danela. Danela tampak malu dan kembali mengumpat. Lalu Rey memanggil Danela.

"Hai!"
"Eh, hai... lo temennya Rio ya?"
Rey berdiri dari kursinya kemudian menjabat tangan Danela.
"Iya, Rey."
"Danela."
Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu dan bercengkrama.
"Kenal Rio dari mana?"
"Oh, om tantenya Rio temennya bonyok gue."
"Om Prabowo sama Tante Netty?"
"Iya, waktu itu keluarga gue liburan bareng sama keluarganya Om Prabowo. Kenalan lah gue sama Rio."
"Sama, gue juga dikenalin sama Om Bowo. Bokap gue itu temennya Om Bowo. Gue kan tinggal di Swedia jadi kalo om sama tante kesana nginep di rumah gue. Kita udah kaya keluarga aja."
"Hmm...Sweden...oh, cool. Rio pernah cerita sama gue punya temen tinggal di Swedia. Dan ternyata sekarang gue ngobrol sama orangnya disini. Sendirian aja kesini?"
"Iya, sendirian."
"Berapa lama disini?"
"Kira-kira dua bulanan lah."
"Nggak sama orangtua, sodara, atau bini gitu?"
"Nggak, orangtua gue lagi ada urusan tadinya mau ikut tapi nggak bisa, sodara juga udah punya plan masing-masing, kalo bini mah gue belum ada," kata Rey tersipu malu.
"Ah boong lu Rey. Nggak percaya gue kalo lo belum punya," canda Danela.
"Beneran, serius gue. Eh jadi lupa nanya, Rio pergi kemana ya Nel?"
"Lagi jadi tour guide di Kebun Raya Bogor."
"Iya iya iya, Rio lagi jadi tour guide buat temen gue. Secara jago gitu bahasa Inggrisnya."
"Oh jadi itu temen lo yang Rafael sama Isabelle itu...Rio kemaren cerita sama gue. Mau nyusul Rio ngga?"
"Ntar aja Nel, pasti dia lagi sibuk."
"Ayolah, sejujurnya gue kasian liat lo planga-plongo dari tadi bingung mau ngapain. Daripada lo sendirian disini ayo kita kesana. Rio pasti juga mau ketemu lo kan."
"Aduh jadi nggak enak nih gue, makasih ya Nel. Gue taro barang-barang dulu di kamar."
"Sip!"

Danela menunjukkan arah ke kamar tamu yang khusus disiapkan untuk Rey. Rey segera menaruh barang-barangnya. Lalu Danela menyalakan laptopnya dan mencari peta untuk mengetahui arah yang harus dilaluinya ke Kebun Raya Bogor. Rey melihatnya dengan seksama. Setelah itu, Danela dan Rey segera berangkat ke tempat tujuan. Tetapi, saat Danela ke garasi, tidak terlihat adanya mobil. Yang ada hanyalah sebuah motor tua. Danela pun menjadi ragu. Oleh karena itu, ia bertanya kepada Somad, satpam di rumah Pak Prabowo.

"Somaaaaddd!!!"
"Iya, kenapa mbak?"
"Mobil pada kemana?"
"Suzuki dipake Mas Rio, Altis dipake Bapak, terus Honda dipake Ibu sama Dek Olla."
"Yah, jadi adanya motor doang ya Mad?"
"Iya, itu motornya Mas Rio."
"Ya udah deh saya mau pake."

Akhirnya, Danela memutuskan untuk menaiki motor.

"Rey, sorry ya, kita naik ini aja."
"Yah, nggak papa kok. Gue bonceng ya."
"Eh jangan!!! Ntar kalo ditangkep polisi gimana? Lo kan nggak ada SIM. Gue aja deh yang bonceng. Emang lo ngerti jalan kesana?"
"Ntar lo yang tunjukkin gue jalannya."
"Okelah kalo gitu. Ayo kita berangkat!"

Lalu Danela dan Rey berangkat. Danela menunjukkan arah, Rey berusaha mengikutinya. Sesekali Rey melakukan kesalahan, entah itu salah belok, menemukan jalan buntu, sampai-sampai kehabisan bensin. Saat bensin habis, mereka terpaksa mendorong motor menuju pom bensin terdekat.

"Yah, bensinnya abis Nel."
"Terus gimana dong?"
"Ya bawa ke pom bensin lah."
"Dimana emangnya?"
"Nggak tau gue. Yang deket sini lah."
"Eh gue nggak kenal daerah sini nih, ntar gue tanya orang deh sambil jalan."

Sambil mendorong motor, Danela dan Rey menanyakan arah pom bensin terdekat. Setelah beberapa kali salah arah, akhirnya mereka sampai juga ke pom bensin terdekat. 

"Rey, gue aja yang bayar."
"Udah, gue aja."

Ketika Rey hendak mengeluarkan uang dari dompetnya, ia hanya melihat beberapa lembar uang seratus ribuan yang ia tukar di money changer di bandara tadi pagi. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribunya.

"Nggak ada uang yang kecilan Rey?"
"Gue adanya cuma segini."
"Udeh, gue aja yang bayar."
"Jadi nggak enak nih Nel, maaf ya sekali lagi."
"It's okay."

Menjelang siang hari, akhirnya Danela dan Rey sampai juga di Kebun Raya Bogor. Mereka berkeliling sebentar sambil mencari Rio, Rafael, dan Isabelle. 

Pada saat yang sama, Rio sedang menemani Rafael dan Isabelle berkeliling taman. Rio juga membantu Rafael memotret pemandangan yang indah di sekitar kebun. Setelah puas berkeliling, mereka duduk di bangku taman sambil menikmati cemilan yang mereka beli sebelumnya.

Hingga suatu saat, Danela dan Rey melihat Rio, Rafael, dan Isabelle tengah asyik mengobrol di bangku taman. Kemudian Rey memanggil Rio.

"Rio!!!" panggil Rey.
"Eh, sampe juga lo disini. Sorry sorry gue nelantarin lo," kata Rio.
"Oh, nggak papa kok. Gue dianter sama Danela nih," kata Rey.
"Eh Nel, kok lo bisa kesini juga deh?" tanya Rio pada Danela.
"Kasian gue liat temen lu Yo sendirian dirumah nungguin lo makanya gue anter aja kesini," jawab Danela.
"Ooh gitu. Eh kenalin nih temennya Rey, dari Swedia aseli. Rafael sama Isabelle," kata Rio.

Kemduian Danela bersalaman dengan Rafael dan Isabelle. Mereka berbincang sebentar kemudian kembali berkeliling kebun.

Pada sore hari, Rio mengantar Rafael dan Isabelle kembali ke hotel. Pada saat yang bersamaan, Danela dan Rey juga hendak pulang ke rumah. Kali ini Danela membonceng motor. Tiba-tiba, terjadi suatu insiden di jalan. Motor yang mereka naiki mengalami kerusakan!

"Nel, kok berhenti motornya?"
"Waduh, nggak tau deh."
"Coba idupin lagi mesinnya."

Danela mencoba menghidupkan mesin motor berkali-kali namun tetap tidak bisa dijalankan.

"Rusak?"
"Iya nih, kayaknya businya kotor"
"Terus gimana dong?"
"Ya kita dorong aja...udah deket rumah ini kan."
"Emangnya nggak ada bengkel deket sini?"
"Setau gue sih nggak ada."
"Ah ya sudah lah. Jadi yang betulin ni motor siapa?"
"Rio aja yang betulin. Lagipula kan udah malem."

Setelah mendorong motor akhirnya mereka sampai di rumah. Melihat Danela dan Rey yang sangat lelah, Somad menanyai mereka berdua.

"Mbak Nela, Mas Rey, ngapain aja kok keliatannya capek bener?"
"Aduh Mad capek gue, ntar aja ya."

Somad bergumam setelah mendengar jawaban Danela.

"Wah kayaknya ada sesuatu nih."

Tidak ada komentar: