Laman

Sabtu, Maret 24, 2012

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 4

Pagi-pagi sekali, saat semua penghuni rumah masih terlelap, Rio sudah bangun, Ia segera mandi dan menyantap sarapan yang ia masak sendiri. Walaupun Rio masih mengantuk, ia tetap semangat untuk menjalani aktivitasnya pagi ini. Setelah itu, Rio berangkat ke bandara untuk menjemput Rafael dan Isabelle, teman Rey. Tak lupa papan nama yang telah dibuat Olla semalam ikut dibawanya. 

Jam menunjukkan pukul 08.30 pagi, artinya, pesawat yang ditumpangi Rafael dan Isabelle telah sampai di Jakarta. Tak lama kemudian, mereka menghampiri Rio. Rio menyambut Rafael dan Isabelle dengan ramah, tentunya menggunakan bahasa Inggris. Setelah berbincang sejenak, Rio mengantar mereka menuju hotel.

Sementara di rumah, Danela baru saja bangun pagi. Dengan penampilan yang masih berantakan, ia pergi ke ruang makan untuk memakan yang telah disiapkan Mbak Inah sebelumnya. Lalu ia memanggil pembantu yang sudah tujuh tahun bekerja di kediaman Pak Prabowo itu.

"Mbak Inaaaaah!!!!" teriak Danela.
"Apa mbak?" jawab Mbak Inah yang lari tergesa-gesa menghampiri Danela.
"Rio mana?" tanya Danela.
"Mas Rio kan pergi jemput temennya di airport itu, emangnya Mbak Nela nggak dikasih tau?" jawab Mbak Inah.
"Oiya lupa...terus Olla mana?" tanya Danela.
"De Olla lagi pergi jalan-jalan sama temennya." jawab Mbak Inah.
"Terus bapak sama ibu?" tanya Danela lagi.
"Bapak masih ngantor, ibu ke supermarket. Bentar lagi ibu juga balik kok de." jawab Mbak Inah.
"Yah mbak, sendirian dah gue disini," keluh Danela.

Setelah mengantar Rafael dan Isabelle ke hotel untuk menaruh barang-barang mereka, Rio langsung mengantar mereka ke Monas. Dibantu oleh tour guide setempat, Rio pun menjelaskan serba-serbi Monas. Mereka berkeliling Monas, dan pada akhirnya sampai juga di puncak Monas, mengamati kota Jakarta dengan teropong. Sebelum mengantarkan Rafael dan Isabelle kembali ke hotel, Rio ditraktir makan siang oleh Rafael di salah satu restoran di dekat Monas.

Pada sore hari, Rio pulang ke rumah. Danela yang sedang duduk-duduk di ruang keluarga langsung menyambutnya.

"Cieee...ehem ehem...yang abis jadi tour guide..." goda Danela.
"Ah elu mah," kata Rio.
"Tadi siapa yang lo jemput?" tanya Danela.
"Ada, temennya temen gue," jawab Rio.
"Temen lo tinggalnya di luar negeri?" tanya Danela lagi.
"Iya Nel, di Swedia. Itu juga yang tadi gue jemput bule Swedia. Besok temen gue dateng kesini," jawab Rio.
"Bulenya ganteng ga?" tanya Danela penasaran.
"Udah tua Nel, suami istri. Mana ganteng?" jawab Rio.
"Ya ilah, gue kira masih muda. Kalo muda gue mau dah," kata Danela sambil tertawa.
"Itu mah gue juga mau," kata Rio menimpali ucapan Danela.
"Btw, temen lo yang di Swedia itu siapa sih? Perasaan gue pernah denger lo punya temen disana," tanya Danela.
"Itu namanya Rey, Tante Netty juga pernah cerita kan ke lo soal dia?" jawab Rio.
"Iya, katanya orangnya baik, cakep, gitu kan?" tanya Danela lagi.
"Iya Nel. Mau gue kenalin ga besok?" jawab Rio.
"Malu ah gue, kapan-kapan deh," kata Danela.
"Malu apa malu..." goda Rio.
"Pokoknya malu ah gue," kata Danela
"Eh daritadi lo ngapain aja Nel selama gue tinggal?" tanya Rio.
"Makan, tidur, main laptop, udah. Bete parah gue. Mau jalan nggak ada yang nganter," keluh Danela.
"Derita lo, salah sendiri bangun kesiangan. Kalo lo bangun agak pagian gue ajak deh. Tadi gue jalan ke Monas trus ditraktir makan lagi sama tu bule," kata Rio.
"Asik parah, jadi ngiri deh gue," keluh Danela.
"Makanya jadi cewe jangan kebo dong," kata Rio.
"Huffft sialan," kata Danela kesal.

Tidak ada komentar: