Laman

Rabu, Juni 12, 2013

Khilaf

Sebenernya aku udah baca artikel ini dari lama. Nyari-nyari beginian itu dulu gara-gara aku debat sama orang soal Yahya Zaini yang ngaku khilaf atas perbuatannya yang video porno itutuh. Yang aku pikir khilaf kok sengaja bisa sampe ngerekam ngeseks nikah siri dll. Makanya aku googling aja dan nemu artikel bagus : 

Kenapa Bilang Khilaf?

“Maaf Pak, saya benar-benar khilaf”, ucap seorang anak kepada ayahnya saat tertangkap basah merokok.

“Maaf Pak, saya khilaf”, ujar seorang murid kepada gurunya ketika ketahuan menyontek.

“Maaf Pak, saya lagi butuh uang dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya khilaf”, kali ini berkata seorang maling saat ditangkap polisi.

Khilaf, artinya menurut kamus bahasa Indonesia adalah perbuatan salah yang tidak disengaja. Iya betul, tidak sengaja. Bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bahkan ada yang dilakukan berulang-ulang, sehingga saya ingin teriak ketika mendengar mereka bilang “khilaf” dengan ringannya. Tidak adil ya rasanya ketika ada orang bilang “khilaf” sebagai tameng untuk pembenaran, atau sebagai alasan untuk meminta maaf sekenanya. Ah, jika saja mereka memaknai dengan sungguh-sungguh arti khilaf itu, tentunya “khilaf” tidak akan terucap dengan mudahnya karena khilaf haruslah diikuti dengan rasa penyesalan yang mendalam dan janji tidak akan mengulanginya lagi. Kenapa? Karena khilaf adalah perbuatan keliru, perbuatan salah yang jika kita semua memang benar manusia normal, maka kita akan malu dan tidak akan merelakan diri kita direndahkan oleh binatang (karena konon katanya ada jenis binatang-binatang tertentu yang tidak pernah jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya).

Oh iya, ada satu lagi contoh yang lebih hebat, seorang anak laki-laki bilang khilaf kepada orang tua pacarnya saat sang pacar ternyata hamil! Hahahaha.. Khilaf yaa? Kok bisa bilang khilaf yaa..Setahu saya kegiatan yang mereka lakukan adalah jenis kegiatan yang melibatkan alam sadar sepenuhnya (ini jelas sengaja), bukan tindakan impulsif seperti saat kita membantah tuduhan yang tidak kita lakukan. Kalau yang seperti ini masih berani dikategorikan sebagai khilaf, lambat laun definisi khilaf akan absurd dengan sendirinya. Sewajarnya jika maling yang bilang khilaf, ada pemakluman karena jika dia pintar,tentunya dia tidak akan jadi maling, tapi jika yang bilang adalah kamu muda yang terpelajar?

Sebelumnya memang saya akui, masa muda adalah masa penuh dengan kekhilafan karena banyak proses pembelajaran di dalamnya. Proses yang melibatkan salah dan benar. Jika tidak salah, ya benar, hanya itu pilihannya. Tapi bukan berarti kita bisa menggunakan kata khilaf seenaknya, karena beberapa kesalahan diambil dengan keputusan yang sadar. Dan mereka yang menggunakan khilaf sebagai alasan adalah mereka yang tidak punya muka atau harga diri untuk sekedar mengakui bahwa dia memang salah. Tidak cukup berani atau dia adalah pecundang yang memilih berlindung di balik kata khilaf. Seorang muda itu harus berani berkata lantang “IYA, MAAF. SAYA SALAH DAN SAYA SIAP MENANGGUNG KONSEKUENSI ATAS KESALAHAN YANG SAYA PERBUAT”, karena kata orang, sesungguhnya idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Jika saat mudanya saja tidak punya prinsip hidup yang mengakar, tinggal tunggu waktu untuk angin membawa dirinya ke sana kemari saat tua nanti, dan dia akan mengikutinya tanpa perlawanan apalagi tanya.

Namun tidak apa, jika khilaf adalah pilihan terakhir yang sangat buruk untuk dikatakan, saat kita tidak punya alasan lain dan tidak menyadari kesalahan yang kita lakukan. Khilaf layak dikeluarkan.

NB: Maaf bukan bermaksud menggurui, saya hanya ingin berbagi apa saya pikir. Saya juga banyak salah seperti pemuda kebanyakan, tapi ketika memang salah, saya akan bilang “SAYA SALAH”.

Yah, sejak tau pengertian khilaf yang bener kaya apa, aku jadi ngerasa ga seneng aja sama orang-orang yang make kata khilaf ini sebagai pembelaan diri padahal mah kalo udah salah ngaku aja salah. 

Pejabat korupsi ngakunya khilaf. Orang ngehamilin pacar di luar nikah ngakunya khilaf. Tapi, ya emang susah sih kalo soal kejahatan yang terjadi karena kesempatan. Kata bang Napi, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku, tapi kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, waspadalah! waspadalah!

Mau karena kesempatan....itu kan sengaja juga. Maka, kata khilaf tidak berlaku.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/muda/2010/10/24/kenapa-bilang-khilaf/

Tidak ada komentar: