Laman

Selasa, Juli 23, 2013

Menuhankan Akademis

Judul diatas emang lebay sih, tapi ya keadaannya mendekati lah, biarpun akademis ini bukanlah sesuatu yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. 

Menjadi mahasiswa kedokteran itu emang berat. Siapapun yang nanya ke kami capek atau ngga? Pasti jawabannya capek. Capek, berat, pelajaran numpuk, kuliah setiap hari, libur sedikit, risiko gagal ujian yang tinggi, biaya kuliah dan hidup yang ga sedikit, masa depan yang belum tentu terjamin (UU mengenai pendidikan dokter masih diperdebatkan dimana-mana), tuntutan profesi yang berat secara menyangkut nyawa manusia, dan masih banyak lagi yang kami hadapi. Yang ga ikut organisasi atau kegiatan apapun itu baik di kampus atau luar kampus keliatannya sibuk banget, apalagi yang berorganisasi. Bahkan ada beberapa teman yang akademisnya menurun gara-gara cukup sibuk di organisasi ini. Akademis memang pasti jadi prioritas utama setiap mahasiswa FK. Tapi, tanggung jawab diluar juga ga kalah banyak dan penting sehingga mereka yang gagal beradaptasi ya....gitu. 

Aku ngga tau, apakah aku aja yang ngerasa kaya gini atau banyak mahasiswa FK lain yang ngerasain. Di kampus tercinta ini, ujian emang banyak. Tapi, urusan akademis, organisasi, himpunan, juga ga kalah banyak dan ini bikin aku susah nyari waktu yang pas buat belajar. Pas giliran ketemu waktunya, malah yang ada susah, males, capek, dan lain-lain. Setiap hari jadinya diisi buat berusaha belajar biar ga mati pas ujian. Saking banyaknya berusaha, jadi lupa sama yang lain. Yang lain yang dimaksud disini adalah, sebagai manusia beragama aku harus ibadah atau berdoa biar deket sama Tuhan, dirumah aku juga punya peran sebagai anak, di keluarga juga punya peran. Paling ngga sosialisasi lah atau gimana. Diluar sana banyak juga yang minta tolong sama aku akan suatu hal. Tapi, semua hal ini bener-bener aku abaikan karena men'dewa'kan akademis ini. Bahkan, kadang-kadang aku suka bersikap acuh tak acuh sama orang lain kaya orang PMS kalo udah begini, istilahnya ogah diganggu sekalipun sama orangtua sendiri. 

Mungkin hal inilah yang bikin sekian persen dari mahasiswa kedokteran sejak masuk rasa empatinya rendah dan jumlahnya meningkat hingga 54% pas mau masuk tingkat 4 (coba aja googling penelitian empati mahasiswa FKUI). Bener-bener ada benernya ni penelitian. Seorang dokter yang harusnya punya empati yang terus dijaga sampe akhir hayat eh malah begini. 

Intinya, mulailah berempati dari diri sendiri, jangan terlalu berpatok pada nilai. Karena sesungguhnya seorang dokter walaupun pinternya setengah mati tapi kalo ga punya empati sama juga boong. Perilaku yang baik itu selalu ada nilainya dalam pekerjaan apapun.

Tidak ada komentar: