Laman

Jumat, September 13, 2013

ESQ?

Mau sharing tulisan hasil googling nih, nemu di FB seseorang. Ada beberapa poin sih disini yang aku cukup setuju. Ngga tau kenapa dari dulu ga pernah tuh nangis-nangis (pernah sih sekali) kalo ikut acara atau training ginian. Bayangkan jika setelah kamu pulang ada bendera kuning orangtua meninggal bla bla bla ga mempan ah hahaha.

Anyway, di tulisan ini GA DIBAHAS soal kesesatan ajaran ESQ ya. Soalnya...kalo mau bilang sesat apa ngga, gini aja deh. Kalo ajaran yang anda yakini emang ga sesat? Udah dijalanin belum kewajibannya? Udah sungguh-sungguh belum? Kalo belum ya berarti...*silakan isi sendiri* 

ESQ = Cuci Otak / Pembodohan Massal - Oleh Bowos007

Bila Anda punya saudara, teman, anak, yg mau diikutkan dlm ESQ, jangan biarkan mereka melangkah ke training ESQ itu bila Anda tidak yakin 100% kekuatan mental spiritual mereka.

Bagi Anda yang belum tahu ESQ = Emotional Spiritual Quotient, yaitu sejenis asesmen untuk menakar kualitas spiritual dan emosional seseorang. ESQ ini lahir terakhir setelah 2 pendahulunya muncul duluan yaitu IQ (intelektual quotient) dan EQ (Emotional quotient).

Trainingnya sendiri mengklaim, bahwa training ini akan menghasilkan SDM yang berkualitas secara emosional dan spiritual. Tapi saya secara pribadi menyimpulkan bahwa “Training ESQ = cuci otak massal = jualan tasawuf pakai teknologi.”

Tulisan ini adalah pendapat pribadi saya sbg praktisi HRD yang telah berkecimpung 12 tahun di dunia Training and Development HR Management di Indonesia.

Komponen isi training :

Refleksi diri:

Sebenarnya metode ini menyadarkan seseorang akan kesalahan2nya cara ini sudah lama ada di pesantren-pesantren dan kegiatan agama lain spt Retreat di Kristen/Katolik. Metode ini berusaha agar seseorang mampu di "cuci" sebelum masuk ke konteks inti doktrinasi. Satu proses yang jarang orang sempat melakukannya, atau malah tidak pernah melakukannya. Mengingat mengoreksi diri sendiri sering kali menyakitkan, karena kita akan “tahu” di mana tempat kita berada ketika kematian datang menjemput.

Pada training ini, banyak yang nangis, tersengguk sengguk, histeris, menjerit, dlsbnya.. Menurut saya, menangis atau tidak menangis bukanlah ukuran mutlak seseorang mendapat pencerahan atau tidak. Orang yang tidak menangis, bukan berarti orang yang tidak mendapat pencerahan. Bisa jadi orang itu sudah terbiasa dengan keadaan dan kesadaran spiritual seperti itu. Tapi disini terkesan para peserta 'harus' dibuat menangis. Saya yakin murid senior pesantren atau seorang aktifis persekutuan kampus/gereja yang kehidupan kesehariannya melangit dan terbiasa dengan suasana kerohanian tidak akan banyak terpengaruh oleh training ini.

Ada yang mengganjal hati saya dalam metode refleksi diri dlm ESQ ini. Ketika saya masih mahasiswa sering mengikuti refleksi diri seperti ini di kegiatan kerohanian kampus. Dlm sesi itu diberikan kesempatan bagi pendengar untuk menghela bernafas dan merenungkan sejenak kebenaran dari peringatan-peringatan tersebut. Berbeda dengan ESQ (mereka mengatakannya metode "dobrak"). Metode ini memberikan bentuk tekanan batin yang kuat dan dalam, kemudian datang bertubi-tubi. Mengingatkan akan dosa yang telah lalu, kekurangajaran kepada orang tua dll. Karena frekuensi yang bertubi-tubi dan dengan volume yang besar inilah, maka tak heran jika kemudian banyak yang merasakan sakit di dadanya.

“Hati seperti dipukul palu godam”, begitu rekan saya menggambarkan.

Saya melihat reaksi peserta training yang berbeda-beda terhadap sesi ini. Ada yang menangis, ada yang meraung, menjerit, ada yang stres sampai berlari-lari tak tentu arah, bahkan sampai ada yang pingsan, dan ada satu orang yang pernah berteriak2 spt kesurupan. Walaupun hampir semuanya berhasil diatasi, saya tetap khawatir kalau ada orang yang jadi gila, karena tak sanggup menahan tekanan batin seberat ini.

Alangkah baik, jika peringatan ini diberikan berangsur dan bertahap, serta tidak dipaksakan. Saya lihat ESQ ini ingin menghasilkan kebaikan, tapi sayang diberikan dengan cara yang mengandung keburukan. Sehingga banyak peserta training yang tadinya sehat mental, dalam keadaan baik-baik saja, tetapi ketika ikut training malah mendapatkan tingkat stres yang tinggi, tekanan batin, selalu merasa bersalah dst nya. Kelihatannya banyak orang yang belum siap di perlakukan spti itu.

Re-creation of prophetic experience. (Menghadirkan kembali pengalaman kenabian)

Saya katakan mengkreasi ulang pengalaman kenabian karena ada beberapa metode yang digunakan di sini :- Menggelapkan total ruangan (meniru keadaan samadhi ?)- Suara yang menggelegar, meniru gelegarnya suara "Tuhan" dan hancurnya gunung ketika melihat Allah. Peristiwa ini meniru kejadian waktu nabi musa naik 40 hari ke gunung Sinai.

Metode ini didukung oleh teknologi. Tiga buah layar yang sangat lebar (lebih dari 10m tingginya) dengan audio yang menggelegar dan ruang yang digelapkan, memang menghantarkan peserta training ke suasana yang sangat mencekam.

Jika saya berpikir ini seperti peristiwa napak tilas. Suatu hal yang baik, tapi… sama-kah kualitas nabi dengan kualitas peserta training ? Latar belakang budaya, keadaan lingkungan, dan pengalaman kehidupan spiritual keseharian para nabi yang melangit, tentu berbeda dengan peserta training yang hidup kesehariannya sangat membumi. Apakah metode ini cocok?

Memasukkan nilai-nilai religi ke dalam ilmu SDM (sumber daya manusia)

Saya merasa bahwa ilmu tasawuf memiliki tujuan berbeda dengan tujuan pengelolaan SDM / Human Resource Management yang ilmunya diciptakan dan berasal dari dunia barat. Dengan demikian keduanya sulit digabungkan. Kesulitan itu sangat tampak, misalnya saja kata “visioner” dari seorang pemimpin di dinamakan “Al-Akhir”. Ngak nyambung. Rasanya terlalu sangat di ada-adakan dan dipaksakan.

Beberapa materi keislaman justru salah disampaikan. Misalnya mereka mengatakan sifat Allah yang 99, padahal yang benar bukan “sifat”, melainkan “asma / nama”. menurut sepengetahuan saya, asma dan sifat adalah dua objek yang sama sekali berbeda.Memang mereka mengklaim bahwa mereka bukan kiai atau sejenisnya. Tapi alangkah baiknya jika mereka bertanya kepada yang lebih ahli dalam bidang agama, sehingga tidak salah menyampaikan.

ESQ dapat menimbulkan berhala baru jika tak pandai menyikapi.

Di dalam training, saya didoktrin untuk mengeluarkan semua berhala-berhala dari hati saya. Uang, jabatan, kedudukan, wanita, kehormatan, anak, istri dll. Tetapi ketika saya keluar ruangan, banyak sekali merchandise ESQ, kemudian metode cuci otak ringan seperti meneriakkan yiel-yiel ESQ, menyanyikan mars ESQ, sampai mengucapkan 7 prinsip ESQ. Hmmmm jangan-jangan nanti orang mempertuhankan ESQ lagi, seolah-olah ESQ adalah segalanya dalam hidupnya. Menyembah ESQ, ada Berhala baru, yaitu ESQ ?Saya melihat ESQ hanyalah salah satu alternatif alat untuk mendapatkan nilai spiritual, yang mana alat ini dapat disimpan ketika tujuan spiritual mungkin tercapai. Tapi ESQ bukanlah segalanya. 

Re-creation of Near-Death-Experience (Menghadirkan Pengalaman yang dekat dengan kematian)

Metode ini membawa peserta training ke saat di mana mereka menemui ajalnya. Mulai dari roh yang keluar dari badan, diantar ke liang lahat, sampai perlahan-lahan diturunkan, dan akhirnya berhadapan dengan malaikat “yang bertanya”. Mau dibuat mirip doktrinasi di acara TV "7 hari menuju tobat". 

Kesimpulan:

Pada dasarnya ESQ ini sama saja dengan training biasa. Ada games, ada kerja sama, dll. Tapi karena ada embel-embel spiritualnya. ESQ sebaiknya tetap diperlakukan sebagai training alternatif, jangan dibakukan jadi program kerja HRD yang seharusnya plural dan universal serta pragmatis. Agama / religi adalah wilayah private dan HAM seseorang mau beragama atau tidak, Perusahaan / HRD jangan turut campur dalam wilayah private religius ini.

Jika mau meningkatkan kehidupan spiritual, lebih baik ikut pesantren atau Retreat di Gereja. Ada juga yang disebut sbg LR (Latihan Rohani) St. Ignatius Loyola - sepertinya itu yg lebih mendekati pada ESQ yg sebenernya (bukan ESQ yg jadi produk campuran Es Teler spt yg kita kenal skrg). yg boleh ikut LR ini jg hanya orang tertentu, ga sembarangan krn ktnya kalau tidak kuat bisa bikin org jadi gila...

Oleh karena itu para praktisi trainer di perusahaan-perusahaan jangan mencampur adukkan program training HRD dengan hal spiritualitas. Kalau mau training ya training yg benar sesuai ilmu HR Management. Kalau mau spiritualitas, ya silakan ikut kelas-kelas Retreat di Gereja sekalian, jangan dicampur-campur adukkan antara pengembangan Human Resources Management dengan klenik atau spiritualism. Ingat HRD harus Objective dan Seimbang, berdiri di tengah untuk semua golongan, agama, ras dan tidak boleh melakukan penekanan/pembedaan dari segi apapun.

Jadi, jika Anda adalah orang-orang yang bertanggung jawab memilih jenis Training bagi karyawan di perusahaan Anda, ini pendapat saya, jangan berikan E.S.Q. yang menurut saya = cuci otak = pembodohan dari sistem Learning & Development Human Resource Management.



Menurut aku, agama sama hal-hal lain dlm kehidupan ga bisa dipisahkan, tapi ga bisa dipaksa buat disatuin juga. Secara agama atau keyakinan itu ada banyak banget. Semua agama emang mengajarkan kebaikan (bukan semua agama adalah sama ya hahaha), tapi agama mana yang paling baik dan benar ya.....cuma Tuhan dan anda sendiri yang tahu. Kecuali kalo anda menganut agama karena ikut-ikutan atau udah "turunan" dari orang tua makanya ga meyakini. 

Sekian dulu ngalor ngidulnya siang ini, mohon maaf kalo ada bagian dari tulisan ini yang menyinggung.

See ya next post :)

Tidak ada komentar: