Laman

Minggu, September 29, 2013

Everything happens (or doesn't happen) for a reason

Postingan ini terinspirasi dari perkupingan pembicaraan tadi sama sepupu-sepupu mama dan pembicaraan beberapa waktu yang lalu pas ngumpul biat ngelengkapin review sheet faal.

Kita sering denger kan ada keluarga, temen, kerabat, atau siapapun lah yang usianya udah tua tapi belum nikah. Si orang ini udah mapan dan udah dewasa secara lahir dan batin. Intinya, sepengelihatan mata kita doi udah siap membina rumah tangga banget lah.

Tapi kok...masih belum nikah juga???

Alesan yang paling klasik, susah nemu yang cocok. Gagal terus selama menjalin hubungan cinta, entah pacaran, taaruf, PDKT, atau mungkin selingkuh (ngga ngga ngga, yang terakhir dicoret ini cuma bercanda). Gagal move on juga termasuk sih.

Tapi, ada juga yang emang bener-bener ngga tertarik buat menjalin hubungan. Alias mata hati nya belum terbuka atau si yang punya mata dan hati ini belum mau buat membuka (kalo bahasa anak jaman sekarang kebanyakan milih). Ada juga yang mau nutup selama-lamanya karena....entahlah apa. Paling sering sih karena gagal terus makanya ga mau di PHP in lagi (kalo udah ga mau gini biasanya pasti selalu nyalahin pihak pasangannya terus jadi nganggep di dunia ini ga ada laki-laki atau perempuan yang ideal selain orangtuanya, atau bisa jadi menurut dia orangtuanya bukan sosok yang ideal, ideal ya bukan sempurna karena kalo sempurna mau sampe kiamat kubro juga ga bakalan ada).

Terus aku jadi keinget cerita salah seorang teman mengenai saudaranya. Saudaranya ini pinter, pendidikannya tinggi, kerjaan juga ok, gaji ok, hidup bahagia, pokoknya udah enak lah. Tapi belum nikah-nikah entah kenapa. Biarpun belum nikah....dia berusaha (bahasa bagusnya sih) memaknai hidup dengan bahagiain orangtuanya. Orangtuanya diajak jalan, terus ya intinya diurusin lah, dijagain. Dibikin bahagia sama anaknya di hari tuanya sebagai bentuk balas budi.

Setelah denger cerita ini dan mengkaitkannya dengan pembicaraan bareng sepupu-sepupu mama tadi aku jadi mikir. Mungkin orang belum nikah karena masih ada yang belum dicapai dalam hidupnya. Terserah mau dibilang sotoy apa gimana, yang jelas itu pernikahan adalah suatu hubungan yang udah-fix-banget harus nerima orang yang mau dijadikan pasangan itu apa adanya dan siap hidup bersama dia seumur hidup apapun alesannya. Secara pernikahan ini ikatan suci antara dua insan dan hubungan pria-wanita yang resmi diakui negara sama agama ya cuma hubungan suami-istri, makanya harus dijaga bener-bener. Oleh karena itu...mungkin orang-orang yang ga nikah-nikah itu punya goal yang harus dicapai sebelum nikah, entah bahagiain orangtua, selesain sekolah, sukses dalam pekerjaan, yang menurut dia "berat" kalo pake acara nikah dulu. Semua yang dijelasin ini relatif ya, relatif tergantung orangnya masing-masing....

Tapi...pas aku ngobrol sama temen aku sambil ngerjain review sheet yang ga kelar-kelar itu aku mikir, apa orang yang ga nikah-nikah itu ga kesepian atau gimana? 

Kan ada orangtua, ada kakak adik, ada keponakan, ada sepupu, ada kakek nenek, ada om tante, ada temen, ada tetangga, ada kerabat, ada panti jompo.

Mereka semua emang ada. Tapi kan "ga abadi"...

Ga abadi maksudnya gimana?

Jadi inget dulu pernah nemu ini di suatu situs, bisa dicoba :




1. Pertama, tunjukkan telapak tangan Anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar).
2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.
3. Lalu cobalah buka ibu jari Anda. Ibu jari yang mewakili orang tua bisa dibuka karena kita akan membentuk suatu keluarga baru. Hal ini berarti kita akan membentuk kehidupan baru yang terpisah dari orangtua.
4. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda. Jari telunjuk mewakili kakak dan adik Anda. Jari itu bisa terbuka karena mereka mereka akan memiliki keluarga dan kehidupan sendiri yang terpisah dengan Anda.
5. Sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking. Jari yang mewakili anak-anak Anda ini juga dibuka. Cepat atau lambat anak-anak juga akan membentuk keluarga dan kehidupan baru yang terpisah dengan Anda.
6. Selanjutnya, tutup jari kelingking Anda. Coba buka jari manis Anda tempat di mana kita menaruh cincin perkawinan. Anda akan akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Jari manis ini mewakili suami dan istri. Artinya, selama hidup Anda dan pasangan akan terus bersama satu sama lain dalam menjalani kehidupan.
Itulah alasan cincin kawin disematkan di jari manis. Sehingga Anda dan pasangan akan terus bersama dan tak bisa terpisahkan dalam menjalani kehidupan.

Terus aku jelasin ini ke temen-temen aku. Mereka pada baru tau hahaha. Kira-kira gitulah maknanya. Kita ga bisa "tergantung" sama semua yang aku sebutin di atas itu karena mereka semua punya kehidupan masing-masing. Jadi ya bisa "tergantung" nya cuma sama pasangan.

Sekian dulu ngalor ngidul sok berfilosofis malem ini. Penulisnya udah capek. See you next post :)

Tidak ada komentar: