Laman

Sabtu, September 21, 2013

See The Beauty

Judulnya aku ambil dari salah satu buku yang pernah kubaca (pernah kuposting juga di blog ini ada fotonya pula hahaha) tapi isinya ga plagiat kok.

Sebenernya kejadiannya baru kemarin tapi aku udah lumayan lupa karena sibuk main sendiri pas dengerin perbincangannya. Jadi mohon maklum ya haha.

Kemarin itu jadi ada DK 2 dan pemicunya tentang withdrawal effect dari kortikosteroid dan kawan-kawannya. Diskusi harusnya mulai jam 7 tapi jam 6.56 baru aku sama Rishka yang ada di ruangan padahal fasilnya udah ada. Fasil kelompokku modul ini Bu Evi. Sebelumnya pas modul Neuroscience pernah difasilin sama Bu Evi juga tapi sekarang feel nya beda (Bu Evi jauh lebih baik :p).

Pertama, Bu Evi ngajak Rishka ngobrol, nanya Rishka LTM nya tentang apa. Rishka jawab tentang fisiologi tapi ntar ada juga yang bahas tentang patologi adrenal sama farmakologi dari kortikosteroid itu sendiri. Terus, Bu Evi menekankan bahwa kita diskusi PBL kaya gini penting, buat tahu gimana sih cara kerja obat segala macem terus apa aja tentang penyakit biar pas jadi dokter nanti kita bisa mengedukasi pasien. Secara kasus withdrawal effect itu banyak terjadi karena pasiennya ga patuh minum obat (buat yang belum tau withdrawal effect itu apa coba cari di google soalnya kalo aku jelasin sendiri takut menyesatkan). Mungkin ga patuhnya ini bisa juga karena kurang edukasi sehingga pasien kurang mencamkan ke diri mereka bahwa minum obat itu penting demi kesembuhan penyakitnya dan kualitas hidup si pasien itu sendiri.Bu Evi juga bilang kalo kortikosteroid ini obat dewa, bisa ngatasin macem-macem tapi efeknya ya juga macem-macem (kalo di slide kuliah bilangnya efek suprafisiologis) 

Abis itu intermezzo dikit, Bu Evi nanya Rishka dari SMA mana? Ya Rishka jawab daerah asalnya dari Manokwari. Bu Evi bilang wah hebat banget jauh-jauh dari Papua bisa masuk sini. Terus nanya aku dari SMA mana, ya udah jawab SMA 8 hahaha. 

Bu Evi jelasin lagi pentingnya edukasi pasien itu tadi, sekarang ngasih contoh kasus pasien TBC minum obatnya harus rutin setiap hari kalo distop selama beberapa lama sayang kan harus ngulang dari awal lagi jadi waktu buat sembuhnya lebih lama. Secara pengobatan TBC itu paling bentar 6 bulan paling lama seumur hidup. Nyambung dari TBC, Bu Evi juga jelasin pentingnya edukasi buat ibu-ibu biar ngasih ASI ke anaknya (ga tau juga aku kenapa bisa nyambung kesini penjelasannya). Soalnya sekarang banyak ibu-ibu yang ga mau ngasih ASI dengan alesan capek lah, sibuk lah, takut puting payudaranya kendor, pokoknya ada-ada aja alesannya. Padahal, kata Bu Evi, yang namanya punya anak dan proses ngurusinnya itu menyenangkan. Banyak orangtua yang ngeluh punya anak itu capek, ngerepotin, dll, padahal kalo kita bener-bener nikmatin itu menyenangkan. Melahirkan, menyusui, ngajarin macem-macem ke anak emang sakit, capek, butuh perjuangan, tapi kalo dinikmatin dengan sepenuh hati itu menyenangkan. Kata Bu Evi lagi, semua itu masa-masa indah dalam kehidupan.

Terus aku sama Rishka ho oh ho oh aja. Yang lain masih belum dateng.

Sekitar pukul 07.10 WIB diskusinya baru mulai soalnya udah lumayan banyak yang dateng.

Inti dari cerita ini adalah nikmati seluruh proses yang berlangsung dalam hidupmu, jika kamu menikmatinya dengan sepenuh hati pasti menyenangkan. Setiap hal dalam hidup emang ada baik buruknya, ga selamanya kita seneng dan ga selamanya kita sedih. Tapi, dari segala macem masalah yang ada dalam hidup, kita bisa kok ambil pelajaran dari situ dan kita bisa dapet rasa seneng yang tak ternilai harganya sebagai "imbalan" buat kita karena kita berhasil melalui masalah-masalah yang ada.

Pasang ayat dan quote dulu deh buat menutup postingan ini.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Al-Baqarah: 286)

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5) 
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

"Allah tak pernah janjikan langit selalu biru, jalan hidup tanpa batu, matahari tanpa hujan, kebahagiaan tanpa kesedihan, sukses tanpa perjuangan.
Tapi Allah janjikan kemudahan bersama kesulitan, rahmat dalam ujian, ganjaran buat kesabaran, keteguhan dalam perjuangan, Bukankah indahnya pelangi baru kita rasakan setelah turunnya hujan?"

Biarpun ceritanya tentang "masalah" yang fisiologis (baca : melahirkan) tapi rasanya makna dari hal-hal yang Bu Evi sampein bisa diaplikasikan ke yang patologis.

Sekian dulu postingan kali ini, besok udah weekend terakhir Senin masuk pagi bangun pagi lagi dll. See ya next post :)

Tidak ada komentar: