Laman

Senin, November 25, 2013

7 to 4

Artinya apa kakak? Kuliah dari jam 7 sampe jam 4. Tujuh pagi sampe 4 sore ya bukan 7 malem sampe 4 pagi. Hari ini adalah hari pertama modul Saraf Jiwa. Ada sesuatu yang mau aku ceritain nih terkait salah satu kuliah, pesan dosen, dan kejadian di dunia nyata.

Jadi kuliah pertama dosennya dr. Rahmiati, Sp.PA. Kuliahnya kuliah PA lah. Patologi Anatomi yang berkaitan sama saraf pastinya. Sebelum masuk ke intinya dijelasin lagi dikit mengenai sistem saraf normal itu kaya gimana. Aku yang emang udah lupa segala hal berbau Neuroscience jadi bingung lah. Yang lain juga sama. Ngeliat kita semua yang udah lupa sampe-sampe beliau bilang...aku lupa kalimatnya pokoknya intinya :

"Untung kalian belum jadi dokter."
"Kalian harus tau normalnya dulu."
"Saudara niat jadi dokter, ga ada leha-leha!"

Tentu saja jleb. Masa iya sekarang belajar besok lupa bisa-bisa pas jadi dokter lupa semua. Intinya beliau menekankan yang namanya ngerti anatomi, fisiologi, pokoknya yang normal-normal itu penting banget sebelum kita tau kondisi patologinya kaya apa. Gimana mau ngobatin pasien dengan bener kalo kita ngga tau kondisi tubuh normal tanpa penyakit itu kaya apa? Bisa-bisa main tuntut sana sini kalo kerjanya ga profesional karena ketidaktahuan itu. Sakit sekian tahun yang lalu nuntutnya baru sekarang.

Kemarin kan iseng baca tentir kakak kelas, ada bahasan mengenai Spina Bifida di tentir neuropatologinya. Pas aku baca, ternyata spina bifida itu ada yang occult alias bagian neural tube yang ga bisa nutup itu ga keliatan karena ketutup kulit jadi cuma bikin dimpling (kaya lekukan kecil ga terlalu dalem) sama yang terbuka kaya meningocele, myelomeningocele, dkk jadi kaya ada tonjolan keluar di punggung bagian bawah (cari sendiri di google gambarnya kalo masih bingung, pasien sekarang kan pinter). 

Nah, masalahnya disini. Waktu 40 harian mak ngah kan sekeluarga pada dateng tuh kerumah, termasuk keluarganya almarhum suaminya mak ngah dari Bandung. Salah satu keponakan almarhum om aku ini ada yang dokter spesialis anak di klinik terkenal. Sepupuku, anaknya mak ngah yang punya anak kecil umur 1 tahun hampir 2 tahun yang lari-lari mulu ga bisa diem ini nanya soalnya ada dimpling di daerah bokong anaknya. Dulu pernah nanya juga sama papa, kata papa sih gpp kalo ga ada keluhan, kalo mau dioperasi juga bisa. Intinya ga ada masalah lah sama dimpling itu. Sejauh ini keponakan aku tadi juga ga ada masalah sama perkembangannya biarpun lahir prematur terus ngga dikasih ASI karena emaknya hipertensi pas hamil. Jalan lancar, ngomong juga udah lumayan bisa mama papa, nyanyi juga bisa biarpun rada ngaco namanya juga anak kecil, makan juga apa aja mau tapi gerak terus anaknya makanya kurus.

Pas keponakanku "diperiksa" sama uwanya (bahasa Sundanya tante itu uwa), aku sempet ditanyain ini spina apa gimana? Ya aku taunya spina itu kalo ada tonjolan keluarnya aku bilang aja ini cuma lekukan,  ga ngeluarin apa-apa, dipegang ga sakit, serem bener kalo spina bifida. Tapi kata uwa dokter setelah "meriksa" sih emang bener gpp. Abis itu aku lupa pada ngomong apa hahaha.

Namun, setelah aku baca tentir itu beserta nyari di Wikipedia, kayaknya bisa jadi keponakan aku spina bifida. Pas baca rada serem juga sih secara langsung keinget pas liat ada gambar dimplingnya. Aku baca di Wikipedia katanya kalo yang occult emang ga nimbulin gejala. Yah semoga keponakan aku baik-baik aja deh :)

Kesimpulannya, emang harus banyak belajar sih, jangan yang udah ada dilupain, dan kalo pengetahuannya masih kabur, terus baca, baca lagi. Andai aku punya fisik sekuat dr. Rahmiati yang bisa tidur jam 11 malem bangun jam 4 pagi udah gitu masih semangat ngasih kuliah pagi tanpa ngantuk :")

"Saudara niat jadi dokter, ga ada leha-leha!"

Minggu, November 24, 2013

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 7


Pada pagi hari. Rio menelpon Sandra, kekasih hatinya. Ia ingin mengajak Sandra pergi setelah mengantar Rafael dan Isabelle ke stasiun. Rio dan Sandra sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Sandra memiliki paras yang manis dan oriental. Ia merupakan putri seorang jenderal berpangkat tinggi, berbeda dengan Rio yang berasal dari keluarga sederhana.

"Halo..." kata Sandra.
"Tumben kamu nelpon pagi-pagi yang, ada apa emangnya?" kata Sandra dengan lembut.
"Ntar siang mau jalan nggak yang?" tanya Rio sambil tersenyum. 
"Kemana?"
"Ke PIM."
"Ok, ntar jam 2 kita ketemuan ya disana. Aku mau mandi dulu ya yang. See you."
"See you too."

Rio menutup telepon sambil tersenyum. Tiba-tiba, Danela datang menghampiri Rio yang sedang asyik berbaring di sofa.

"Dorrrrr!!!"
"Ngagetin aja lo Nel."
"Tadi telponan sama siapa lo? Mesra amat kayaknya pake yang yang segala."
"Hmm siapa ya..."
"Halah ngaku aja, cewe lo kan?"
"Iye iye, cowo lo mana?"
"Nggak punya cowo gue."
"Buruan sana lo mandi Nel."
"Enak aja lo bilang gue belum mandi, gue udah mandi dari tadi."
"Ntar lo ikut nganter kan?"
"Iya dong."

Setelah bersiap-siap, Danela, Rio, dan Rey menjemput Rafael dan Isabelle ke hotel, lalu mengantarkannya ke stasiun. Sebelum kereta berangkat, mereka bertiga menyampaikan salam perpisahan kepada Rafael dan Isabelle. Barulah setelah itu, mereka pulang ke rumah sebelum melanjutkan rencana masing-masing. Sesampainya di rumah, Rio langsung pergi menemui Sandra sementara Danela dan Rey duduk di ruang keluarga.

"Nel, kita jadi pergi kan?"
"Jadi lah, mau berangkat sekarang?"
"Boleh, mau kemana aja rencananya?"
"Ya kemana-mana, keliling Jakarta. Gue tau kok jalannya jadi nggak mungkin nyasar kaya kemarin."
"Ok, ayo kita berangkat."

Danela dan Rey kemudian ke garasi untuk mencari motor milik Rio. Tetapi, yang ada hanyalah sebuah mobil. Danela pun bertanya pada Somad.

"Somaaad!!!"
"Apa mbak?"
"Motor mana?"
"Dipake Mas Rio."
"Kemana?"
"Ke PIM, mau ketemu pacarnya katanya."
"Grrrr, dasar, pacaran terus."

Lalu Danela menelpon Rio.

"Halo, Yo?"
"Ape lo nelpon-nelpon gangguin orang aja," kata Rio dengan sedikit kesal.
"Eh sorry sorry, Yo gue susul lo ke PIM ya?"
"Mau ngapain lo nyusul gue? Gue lagi sama Sandra nih."
"Gue boleh nggak pinjem motor lo buat jalan-jalan nemenin Rey keliling Jakarta?"
"Keliling Jakarta? Nggak salah lo? Ini motor baru keluar dari bengkel mau lo rusakin lagi?" tanya Rio dengan kaget.
"Ya kagak lah. Boleh ya gue pinjem pleeeease..." kata Danela dengan memohon.
"Iye iye. Buruan kesini cepet. Awas kalo sampe mogok lagi."
"Ok."

Dengan sedikit terpaksa, Danela dan Rey menaiki satu-satunya mobil yang ada di garasi kemudian mereka berangkat ke PIM menyusul Rio. Ternyata, Rio dan Sandra sudah menunggu mereka di parkiran.

"Nel, ini kunci motornya."
"Thanks ya, Yo."
"Ok. Kenalin Nel, ini Sandra."

Danela bersalaman dengan Sandra. Sandra yang telah mengenal Rey sebelumnya menyapa Rey. 

"Eh Rey, apa kabar?" tanya Sandra pada Rey.
"Baik San," jawab Rey dengan tersipu malu.
"Wah lo kenal juga sama Sandra, Rey?" tanya Danela pada Rey.
"Iya Nel, Sandra temen gue," jawab Rey.
"Ooo..." kata Danela.
"San, gue sama Danela pergi dulu ya," kata Rey
"Mau kemana Rey?" tanya Sandra 
"Keliling-keliling," jawab Rey
"Ok, have fun ya, daaah..." kata Sandra sambil melambaikan tangan.
"Daaah..." kata Rey dan Danela.

Danela dan Rey melambaikan tangannya kepada Rio dan Sandra. Kemudian, Rio dan Sandra masuk ke dalam mall. Sedangkan Rey menaiki motor Rio dan membonceng Danela. Mereka telah siap untuk perjalanan kali ini. Mereka berdua berkeliling Jakarta. Beberapa tempat mereka kunjungi, mulai dari toko baju, toko benda-benda antik, bangunan bersejarah, dan beberapa patung bersejarah untuk sekadar berfoto dengan patung tersebut. Pada siang hari, mereka pergi makan siang ke salah satu mall yang baru saja buka. Mall tersebut tampak ramai. Untngnya, mereka masih mendapatkan bangku untuk makan siang disana.

Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan sampai sore. Danela dan Rey pergi kemana saja, berkeliling Jakarta, dengan motor. Pada sore hari, mereka pulang ke rumah. Tetapi, saat perjalanan pulang, motor yang diboncengi Danela mogok lagi. Tentu saja ia panik. karena Rio sudah memberinya ancaman, entah itu apa.

"Rey, motornya mogok lagi."
"Yah, gimana sih?"
"Padahal kemaren udah bener loh."
"Terus gimana dong?"
"Duit gue abis nih Rey, mana nggak ada bengkel lagi deket sini."
"Oke lah apa boleh buat, kita dorong aja ni motor."

Danela dan Rey mendorong motor itu sampai ke rumah. Rio melihat mereka dari atas balkon. Mengetahui motor miliknya kembali mogok, ia merencanakan sesuatu untuk mengerjai Danela dan Rey. Kemudian Rio memanggil Olla.

"Olla!!!" teriak Rio.
"Iya mas," kata Olla.
"Eh lo liat deh, itu Danela sama Rey lagi dorong motor gue," kata Rio sambil menunjuk ke arah Danela dan Rey.
"Eh iya iya, motornya kenapa lagi mas?" tanya Olla.
"Ya gue juga nggak tau, pasti Danela yang ngerusak," kata Rio.
"Emang motor Mas Rio udah tua aja kali," timpal Olla.
"Dia aja yang makenya nggak becus. Kan gue udah bilang sama dia, awas aja kalo sampe mogok lagi," kata Rio dengan kesal.
"Jadi....Mas Rio mau ngerjain Mbak Nela sama Mas Rey?" tanya Olla.
"Aaah, dari tadi kek mudengnya," kata Rio.
"Jadi mereka mau kita apain?" tanya Olla.

Rio membisikkan rencananya kepada Olla. Setelah mendengar rencana Rio, Olla menyetujuinya. Mereka menyiapkan alat-alat untuk menjahili Danela. Bahkan, tetangga sebelah pun ikut terlibat.

Hari sudah gelap. Danela dan Rey telah sampai di rumah. Namun, pagar rumah terkunci dari dalam.

"Rey, kok pagernya dikunci sih?"
"Bentar lagi Somad juga bukain."
"Tapi kok nggak nongol-nongol ya tu orang?"
"Coba panggil."
"Somad!!! Somad!!! Somaaaadddd!!!"

Hingga belasan menit kemudian, Somad tidak menyahut. Danela dan Rey pun kebingungan.

"Kok Somad nggak nyahut sih, apa dia pergi ya?"
"Mungkin, terus gimana dong?"
"Apa kita manjat pager aja ya Rey?"
"Tapi kan pagernya tinggi banget."
"Ya udah deh daripada nggak bisa masuk, ayo manjat!"

Danela memanjat pagar besi yang tinggi itu. Tiba-tiba, ia terjatuh. Rey segera menolongnya dengan menggendongnya. Kalau tidak, pasti ia akan terjatuh.

"Lo nggak papa kan Nel?"
"Nggak papa kok. Udah turunin gue. Gue mau manjat lagi."
"Jangan, ntar lo jatoh lagi loh."
"Jadi kita pulang lewat mana dong?"
"Hmm apa kita nunggu aja disini sampe pagernya dibukain."
"Kelamaan ah, gimana kalo kita lewat jalan belakang, yang tembus ke halaman belakang?"
"Wah bukannya serem ya?"
"Emang agak serem sih, tapi coba aja lah."
"Ok lah, motornya kita taro sini aja ya."

Walaupun tomboy, Danela merupakan seorang penakut. Namun, kali ini ia akan menunjukkan keberaniannya. Danela dan Rey mulai melangkah di tengah kegelapan. Suasana memang seram sekali. Sesekali Danela mengungkapkan ketakutannya dan mendekat ke arah Rey. Gonggongan anjing tetangga terdengar kencang dan membuat Danela semakin ketakutan. Hingga pada akhirnya, Danela menemukan sumber suara anjing tersebut. Kebetulan, pemiliknya sedang ada di tempat. Danela pun segera menegurnya.

"Mbak, maaf, anjingnya udah dikasih makan apa belum? Dari tadi gonggong terus kenceng banget."
"Ini lagi saya kasih makan."

Anjing itu bergerak ke arah Danela dan menggonggong dengan keras. Danela langsung menghindari anjing itu dan bergerak ke arah Rey.

"Nggak papa mba, anjingnya nggak gigit kok."
"Aduh, tetep aja serem mbak."

Danela dan Rey menghindar dan kabur dari rumah tetangga yang memiliki anjing tersebut. Mereka meneruskan perjalanan menuju pulang. Tak lama kemudian, terdengar suara seperti suara hantu. Hal ini tentu membuat Danela semakin ketakutan.

Rio dan Olla menjahili Danela dengan berpura-pura menjadi hantu dan mengeluarkan suara hantu. Mereka berdua tertawa kecil melihat Danela. Mereka mendekar ke arah Danela hingga akhirnya Danela berteriak kencang karena ketakutan melihat mereka.

Dengan spontan, Danela memeluk Rey. Rey pun mendekap Danela. Mereka langsung lari terbirit-birit menuju rumah. Rio dan Olla mengikuti mereka dari belakang. Tentu saja Danela dan Rey menambah kecepatan larinya. Akhirnya, mereka sampai juga dirumah.

Sesampainya di rumah, Rio dan Olla buru-buru mengganti baju mereka agar tidak ketahuan oleh Danela dan Rey bahwa merekalah 'hantu' yang ada di jalan tadi.

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 6

Di ruang keluarga, Rio dan Olla sedang menonton televisi. Mbak Inah ikut menonton TV bersama mereka.

"Mas Rio, gimana tadi jadi tour guide nya?" tanya Olla.
"Ya capek sih, tapi seru. Masa tadi Danela sama Rey nyusulin gue ke Bogor," jawab Rio.
"Pantesan dari tadi gue nggak liat mereka mas," timpal Olla.
"Tadi gue lupa kalo Rey dateng hari ini. Untung Danela nganterin Rey kesana," kata Rio.

Mbak Inah pun sedikit menyeletuk dan Olla mengiyakannya.

"Kan Mas Rey tadi pagi dateng sendirian, mau cari Mas Rio tapi nggak ada. Cari Bapak sama Ibu juga nggak ada. Kasian banget tadi sendirian aja," kata Mbak Inah.
"Iya nih, Mas Rio sih..." kata Olla.
"Ah udah, udah, gue mau nonton jadi nggak konsen deh," kata Rio sambil memperhatikan acara TV dengan seksama.
"Yaude terserah lu deh mas," kata Olla dengan kesal.

Beberapa saat kemudian, Olla dipanggil oleh ibunya...

"Olla....Olla..." panggil Bu Netty.
"Ada apa sih ma?" jawab Olla.
"Mama lagi kepengen siomay nih, suruh Mas Rio beliin deh," kata Bu Netty.
"Kenapa nggak suruh Bang Somad aja?" tanya Olla.
"Somad nggak tau tempatnya dimana. Mas Rio yang tau. Ini duitnya cepet kamu suruh sekarang," kata Bu Netty sambil menyerahkan sejumlah uang ke Olla.
"Iya ma," kata Olla.

Setelah diberi uang oleh ibunya, Olla berteriak kencang di dekat kuping Rio.

"Mas Rio!!!!!!!" teriak Olla.
"Apa lagi sih, lu kira gue budek kagak bisa denger," jawab Rio dengan kesal.
"Disuruh mama beli siomay di tempat biasa. Nih duitnya," kata Olla sambil menyerahkan sejumlah uang ke Rio.
"Sip."

Rio segera mematikan TV dan bergegas ke garasi untuk menghidupkan motornya. Tetapi, saat dihidupkan, motornya tidak bisa dikendarai. Rio menemukan suatu kejanggalan. Oleh karena itu, ia memanggil Somad.

"Somaaaad!!!"
"Ada apa mas?"
"Motor gua kok nggak bisa jalan ya?"
"Tar, saya cek dulu."

Somad melihat apakah ada kerusakan di motor Rio. Ternyata, businya kotor.

"Businya kotor mas."
"Ada yang make motor ya tadi?"
"Iya mas, Mbak Danela sama Mas Rey."
"Hah, pasti tu anak yang ngerusak. Yaudah besok lo bawa ni motor ke bengkel. Gua pinjem motor lu dulu ya Mad."
"Ok mas."

Lalu Rio pergi membeli siomay menggunakan motor milik Somad. Sementara di kamar tamu, Rey sibuk membuka koper sambil membagikan oleh-oleh pada Pak Prabowo, Bu Netty, dan Olla.

"Nih coklat, spesial buat Om Bowo," kata Rey sambil memberikan sejumlah bungkus coklat ke Pak Prabowo.
"Wah, pasti enak nih, makasih ya Rey," kata Pak Prabowo.
"Sama-sama Om. Ini parfum Elizabeth Arden, titipan Tante Netty," kata Rey sambil memberikan parfum ke Bu Netty.
"Wah makasih banyak ya Rey, tante cari-cari disini nggak ada jualnya," kata Bu Netty.
"Nah, ini coklat buat Olla. Aku tau banget kamu suka coklat ini," kata Rey sambil memberikan coklat ke Olla.
"Makasih ya Mas...udah ngincer dari lama nih ngarep gitu Mas Rey bawa coklat ini kalo kerumah," kata Olla sambil tersenyum

Tiba-tiba, Danela masuk ke kamar tamu. Olla langsung menyuruhnya masuk.

"Sini masuk mbak, mau coklat nggak dari Mas Rey?" panggil Olla.
"Nel, mau coklat nggak? Masih sisa loh," kata Rey yang menawarkan beberapa bungkus coklat ke Danela.
"Nggak usah Rey, makasih," kata Danela
"Nggak papa lah, itung-itung buat bayar utang tadi," kata Rey.
"Ok lah, makasih ya Rey. Gue suka banget coklat yang ini," kata Danela menerima coklat pemberian Rey.
"Ini semuanya aku beli waktu liburan ke Swiss," kata Rey kepada Olla.
"Pantesan enak-enak semua mas," kata Olla.

Beberapa saat kemudian, Rio pulang. Lalu ia membawa siomay pesanan tantenya itu ke kamar tamu.

"Siomay sudah dataaaang..." kata Rio.
"Wah, gue udah lama banget nggak makan siomay," kata Rey melihat siomay yang dibawa Rio.
"Ini buat Tante Netty ya, bukan buat lo," canda Rio kepada Rey.
"Udah Rey, ini buat kamu aja siomaynya. Kita makan bareng-bareng ya," kata Bu Netty.
"Makasih tante," kata Rio.
"Tapi Rey...gue bagi coklatnya dong. Itung-itung ini upah gue beli siomay," canda Rio lagi.
"Tenang, Yo. Lo ada bagiannya kok," kata Rey.
"Gue cuma bercanda kok Rey," kata Rio.
"Serius gue ada kok coklatnya buat lo," kata Rey.
"Sip deh makasih ya," kata Rio.
"Rio, Rey, ayo makan, makan," kata Bu Netty memanggil Rio dan Rey untuk makan di ruang makan.

Pada tengah malam, Rey duduk sendiri di balkon. Kemudian Danela menghampirinya.

"Rey, nggak tidur lo?"
"Ntar aja lah, lo nggak pulang Nel?"
"Lah kan gue nginep sini."
"Tidur di mana lo?"
"Kamar tamu atas lah"
"Gue kira abis makan tadi lo pulang."
"Oooo. Lo emang sering ke Jakarta ya?"
"Iya, setahun sekali. Hampir setiap kali ke Jakarta gue nginep disini."
"Oooo. Lo emang tinggal di Swedia apa kerja apa gimana sih?"
"Gue tinggal disana dari lahir. Bokap kerja disana. Lo sendirian aja nginep sini? Nggak liburan kemana gitu?"
"Iya, ada urusan yang bokap sama nyokap ngga bisa tinggalin. Makanya gue nginep sini. Bete kalo di rumah sendirian."
"Lo anak tunggal?"
"Iya. Eh lo disini kan lumayan lama ya Rey, rencananya mau kemana aja?"
"Masih belum tau sih. Jakarta isinya mall semua gini masa gue ke mall."
"Lah, katanya lo sering kesini? Masa nggak tau mau kemana?"
"Gue kalo ke Indonesia nggak pernah lama-lama. Biasanya cuma 1-2 hari doang di Jakarta. Itupun kalo ada urusan kerjaan. Banyakan ke luar Jakarta gue. Jadi nggak gitu sering jalan-jalan."
"Kalo ke Monas sama Kota Tua udah pernah?"
"Belum, Nel."
"Ah payah lo. Kalo lo mau kesana, sini gue anterin."
"Gimana kalo besok abis nganterin Rafael sama Isabelle ke stasiun? Besok mereka kan ke Jogja."
"Hmm boleh deh."

Rio masih dilanda rasa penasaran akan siapa dalang dibalik kerusakan motornya. Oleh karena itu, ia ke atas dan memanggil Rey.

"Rey!!!"
"Apa, Yo?"
"Tadi lo make motor gue ya?"
"Iya."
"Motornya kok nggak bisa dijalanin sekarang?"
"Iya, tadi pas pulang tiba-tiba berhenti gitu di jalan. Ga bisa dinyalain mesinnya."
"Itu tadi pas lo yang jalanin?"
"Nggak, Danela."

Lalu Danela memotong pembicaraan mereka berdua.

"Iya, tadi pas gue pake tiba-tiba berhenti sendiri motornya. Gue kan nggak ngerti apa-apa tuh. Rey juga nggak ngerti. Nggak ada bengkel juga deket situ. Ya udah deh gue dorong aja motornya sampe rumah. Sorry banget ya Yo," kata Danela memohon maaf.
"Nggak bakalan gue maafin lo Nel awas kalo lo rusakin lagi ni motor," kata Rio dengan kesal.
"Ah rese lu Yo," timpal Danela
"Ya elah tadi gue cuma bercanda," kata Rio.
"Aaah," kata Danela dengan kesal.

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 5

Setelah sekian lama tak update. Sebenernya draft tertulisnya udah ada sampe part kesekian tapi baru sempet ngetik sekarang.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Akhirnya Rey tiba juga di Jakarta. Ia dijemput oleh salah seorang temannya dan diantar ke rumah Pak Prabowo untuk menginap selama sebulan. Sedangkan Rio masih menjalankan tugasnya sebagai tour guide dengan mengantar Rafael dan Isabelle ke Kebun Raya Bogor.

Setelah menempuh satu jam perjalanan dari bandara, Rey sampai di rumah Pak Prabowo. Mbak Inah pun membukakan pintu.

"Halo Mbak Inah, apa kabar? Udah lama nggak ketemu..." tanya Rey yang menyambut Mbak Inah dengan ramah.
"Eh, ada Mas Rey! Alhamdulillah baik Mas, tambah ganteng aja nih Mas Rey," jawab Mbak Inah yang setengah terkejut melihat kedatangan Rey.
"Aduh mbak jangan muji gitu dong saya kan malu. Rio mana mbak?"
"Mas Rio lagi pergi."
"Kalo bapak sama ibu?"
"Lagi pergi juga mas. Yang ada cuma saya sama temennya Mas Rio."
"Temennya yang mana ya mbak?"
"Sebentar, saya panggil dulu."

Lalu Mbak Inah memanggil Danela di ruang makan dengan nada menggebu-gebu. Saat itu Danela tengah memakan sereal kesukaannya.

"Mbak Danela!!!" panggil Mbak Inah.
"Iya mbak," jawab Danela yang tengah makan.
"Ada temennya Mas Rio!!! Ganteng loh mbak!!!" goda Mbak Inah.
"Manggilnya centil amat mbak, udah mbak aja yang ngobrol," kata Danela sambil melanjutkan makannya.
"Duh, ganteng loh mbak!!! Orangnya ada di ruang tamu. Udah liat aja dulu, kali-kali jodoh," kata Mbak Inah dengan semangat menggebu-gebu
"Yah mbak hari gini masih bahas jodoh..."
"Ya udah kalo mbak nggak mau ketemu. Kasian loh sendirian di ruang tamu. Saya mau balik dapur dulu."

Mbak Inah kemudian kembali ke dapur untuk memasak. Danela tampak cuek dengan segala hal yang dikatakan Mbak Inah tadi. Kemudian ia melanjutkan makannya.

Setelah makan, Danela pergi ke ruang ramu untuk mengintip tamu yang dimaksud Mbak Inah alias Rey. Menyadari bahwa ada seseorang berjalan menuju ruang tamu, Rey mengarahkan pandangannya pada Danela. Saat melihat tatapan Rey, Danela mengumpat di balik dinding. Kemudian Danela kembali menatap Rey. Rey pun tersenyum kepada Danela. Danela tampak malu dan kembali mengumpat. Lalu Rey memanggil Danela.

"Hai!"
"Eh, hai... lo temennya Rio ya?"
Rey berdiri dari kursinya kemudian menjabat tangan Danela.
"Iya, Rey."
"Danela."
Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu dan bercengkrama.
"Kenal Rio dari mana?"
"Oh, om tantenya Rio temennya bonyok gue."
"Om Prabowo sama Tante Netty?"
"Iya, waktu itu keluarga gue liburan bareng sama keluarganya Om Prabowo. Kenalan lah gue sama Rio."
"Sama, gue juga dikenalin sama Om Bowo. Bokap gue itu temennya Om Bowo. Gue kan tinggal di Swedia jadi kalo om sama tante kesana nginep di rumah gue. Kita udah kaya keluarga aja."
"Hmm...Sweden...oh, cool. Rio pernah cerita sama gue punya temen tinggal di Swedia. Dan ternyata sekarang gue ngobrol sama orangnya disini. Sendirian aja kesini?"
"Iya, sendirian."
"Berapa lama disini?"
"Kira-kira dua bulanan lah."
"Nggak sama orangtua, sodara, atau bini gitu?"
"Nggak, orangtua gue lagi ada urusan tadinya mau ikut tapi nggak bisa, sodara juga udah punya plan masing-masing, kalo bini mah gue belum ada," kata Rey tersipu malu.
"Ah boong lu Rey. Nggak percaya gue kalo lo belum punya," canda Danela.
"Beneran, serius gue. Eh jadi lupa nanya, Rio pergi kemana ya Nel?"
"Lagi jadi tour guide di Kebun Raya Bogor."
"Iya iya iya, Rio lagi jadi tour guide buat temen gue. Secara jago gitu bahasa Inggrisnya."
"Oh jadi itu temen lo yang Rafael sama Isabelle itu...Rio kemaren cerita sama gue. Mau nyusul Rio ngga?"
"Ntar aja Nel, pasti dia lagi sibuk."
"Ayolah, sejujurnya gue kasian liat lo planga-plongo dari tadi bingung mau ngapain. Daripada lo sendirian disini ayo kita kesana. Rio pasti juga mau ketemu lo kan."
"Aduh jadi nggak enak nih gue, makasih ya Nel. Gue taro barang-barang dulu di kamar."
"Sip!"

Danela menunjukkan arah ke kamar tamu yang khusus disiapkan untuk Rey. Rey segera menaruh barang-barangnya. Lalu Danela menyalakan laptopnya dan mencari peta untuk mengetahui arah yang harus dilaluinya ke Kebun Raya Bogor. Rey melihatnya dengan seksama. Setelah itu, Danela dan Rey segera berangkat ke tempat tujuan. Tetapi, saat Danela ke garasi, tidak terlihat adanya mobil. Yang ada hanyalah sebuah motor tua. Danela pun menjadi ragu. Oleh karena itu, ia bertanya kepada Somad, satpam di rumah Pak Prabowo.

"Somaaaaddd!!!"
"Iya, kenapa mbak?"
"Mobil pada kemana?"
"Suzuki dipake Mas Rio, Altis dipake Bapak, terus Honda dipake Ibu sama Dek Olla."
"Yah, jadi adanya motor doang ya Mad?"
"Iya, itu motornya Mas Rio."
"Ya udah deh saya mau pake."

Akhirnya, Danela memutuskan untuk menaiki motor.

"Rey, sorry ya, kita naik ini aja."
"Yah, nggak papa kok. Gue bonceng ya."
"Eh jangan!!! Ntar kalo ditangkep polisi gimana? Lo kan nggak ada SIM. Gue aja deh yang bonceng. Emang lo ngerti jalan kesana?"
"Ntar lo yang tunjukkin gue jalannya."
"Okelah kalo gitu. Ayo kita berangkat!"

Lalu Danela dan Rey berangkat. Danela menunjukkan arah, Rey berusaha mengikutinya. Sesekali Rey melakukan kesalahan, entah itu salah belok, menemukan jalan buntu, sampai-sampai kehabisan bensin. Saat bensin habis, mereka terpaksa mendorong motor menuju pom bensin terdekat.

"Yah, bensinnya abis Nel."
"Terus gimana dong?"
"Ya bawa ke pom bensin lah."
"Dimana emangnya?"
"Nggak tau gue. Yang deket sini lah."
"Eh gue nggak kenal daerah sini nih, ntar gue tanya orang deh sambil jalan."

Sambil mendorong motor, Danela dan Rey menanyakan arah pom bensin terdekat. Setelah beberapa kali salah arah, akhirnya mereka sampai juga ke pom bensin terdekat. 

"Rey, gue aja yang bayar."
"Udah, gue aja."

Ketika Rey hendak mengeluarkan uang dari dompetnya, ia hanya melihat beberapa lembar uang seratus ribuan yang ia tukar di money changer di bandara tadi pagi. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribunya.

"Nggak ada uang yang kecilan Rey?"
"Gue adanya cuma segini."
"Udeh, gue aja yang bayar."
"Jadi nggak enak nih Nel, maaf ya sekali lagi."
"It's okay."

Menjelang siang hari, akhirnya Danela dan Rey sampai juga di Kebun Raya Bogor. Mereka berkeliling sebentar sambil mencari Rio, Rafael, dan Isabelle. 

Pada saat yang sama, Rio sedang menemani Rafael dan Isabelle berkeliling taman. Rio juga membantu Rafael memotret pemandangan yang indah di sekitar kebun. Setelah puas berkeliling, mereka duduk di bangku taman sambil menikmati cemilan yang mereka beli sebelumnya.

Hingga suatu saat, Danela dan Rey melihat Rio, Rafael, dan Isabelle tengah asyik mengobrol di bangku taman. Kemudian Rey memanggil Rio.

"Rio!!!" panggil Rey.
"Eh, sampe juga lo disini. Sorry sorry gue nelantarin lo," kata Rio.
"Oh, nggak papa kok. Gue dianter sama Danela nih," kata Rey.
"Eh Nel, kok lo bisa kesini juga deh?" tanya Rio pada Danela.
"Kasian gue liat temen lu Yo sendirian dirumah nungguin lo makanya gue anter aja kesini," jawab Danela.
"Ooh gitu. Eh kenalin nih temennya Rey, dari Swedia aseli. Rafael sama Isabelle," kata Rio.

Kemduian Danela bersalaman dengan Rafael dan Isabelle. Mereka berbincang sebentar kemudian kembali berkeliling kebun.

Pada sore hari, Rio mengantar Rafael dan Isabelle kembali ke hotel. Pada saat yang bersamaan, Danela dan Rey juga hendak pulang ke rumah. Kali ini Danela membonceng motor. Tiba-tiba, terjadi suatu insiden di jalan. Motor yang mereka naiki mengalami kerusakan!

"Nel, kok berhenti motornya?"
"Waduh, nggak tau deh."
"Coba idupin lagi mesinnya."

Danela mencoba menghidupkan mesin motor berkali-kali namun tetap tidak bisa dijalankan.

"Rusak?"
"Iya nih, kayaknya businya kotor"
"Terus gimana dong?"
"Ya kita dorong aja...udah deket rumah ini kan."
"Emangnya nggak ada bengkel deket sini?"
"Setau gue sih nggak ada."
"Ah ya sudah lah. Jadi yang betulin ni motor siapa?"
"Rio aja yang betulin. Lagipula kan udah malem."

Setelah mendorong motor akhirnya mereka sampai di rumah. Melihat Danela dan Rey yang sangat lelah, Somad menanyai mereka berdua.

"Mbak Nela, Mas Rey, ngapain aja kok keliatannya capek bener?"
"Aduh Mad capek gue, ntar aja ya."

Somad bergumam setelah mendengar jawaban Danela.

"Wah kayaknya ada sesuatu nih."

Jumat, November 22, 2013

Cantik :)

Sebenernya ini adalah salah satu bagian dari postingan ini yang emang aku mau bikin terpisah. Mumpung momennya pas nih menjelang modul Saraf Jiwa.

Sekitar jam setengah 10an, ada tetangga dateng. Yang satu ibu-ibu udah tua gitu, entah sodaranya atau kakaknya atau adeknya tetanggaku waktu masih kecil. Tetanggaku ini polisi, anaknya suka main sama kakak-kakakku waktu itu aku baru lahir terus pindah ke Surabaya kalo ngga salah. Yang satu lagi keponakannya ibu-ibu tua itu. Cantik, muda, dokter pula. perlu banget di gedein fontnya

Pas mereka masuk ke rumah, mama langsung manggil, Laras kenalin ini kakak kelasnya nih. Aku langsung ketawa dan salting gitu ngeliatnya. Kakak kelas? Kok tua amat tampangnya. Terus si keponakan ini (aku sebut dia kakak ya) bilang, lagi ambil spesialis. Langsung pikiranku dejavu ke suatu momen dimana aku dikenalin sama tetangga, PPDS UI juga tapi lupa yang mana. Sepertinya emang dia deh.

Dengan saltingnya aku langsung tanya aja, PPDS mana kak? Si kakak jawab PPDS Psikiatri. Langsung aja aku bilang ntar kalo modul Saraf Jiwa bisa ketemu dong, bisa main ke Psikiatri, Psikiatri jauh lah apa lah dan omongan ga jelas lainnya. Pokoknya salting parah deh. Si kakak mah hooh hooh aja.

Abis kegirangan ketemu si kakak aku langsung ke belakang ngegosip sama sepupu aku anaknya mak ngah.

Aku : Mba (aku manggil sepupu cewe biasanya emang pake mba), liat ngga tetangga aku yang cewe? (sambil ngejelasin ciri-ciri si kakak). Tampangnya tampang cewe yang bisa dijodohin sama Mas (itu yang aku sering sebut di The Mission) ya?
Sepupu : Hahahaha
Aku : Iya tampang calon istri idaman banget ya.

Sepupu-sepupu aku yang lain juga ketawa-ketawa aja.

Terus aku cari lah latar belakangnya tanya mama papa. Tadi bodoh juga sih lupa nanya namanya tapi sekarang udah tau kok biarpun cuma nama panggilan jadi ga bisa cari sosmednya. Eh, ternyata udah nikah. Aku liat perutnya juga gede sih kaya emak-emak bunting tapi baru 4-5 bulanan lah. Jadi ya angan-angan aja deh buat ngejodohin.

Sekian dulu lanturan hari ini. Sampai jumpa :)

Ne-Yo - Never Knew I Needed

Sebenernya udah tau lagunya dari lama tapi karena baru tau judulnya sekarang jadi baru nyari sekarang. Dan lagu ini ngingetin aku ke masa-masa 3-4 tahun lalu yang ada indahnya sekaligus banyak getirnya, dimana aku masih aktif-aktifnya di dunia maya haha. Terus sekarang pas lagi ngepost ini lagi denger lagunya juga sambil baca message FB jaman dulu :')

For the way you changed my plans
For being the perfect distraction
For the way you took the idea that I have
Of everything that I wanted to have
And made me see there was something missing, oh yeah

For the ending of my first begin
(Ooh, yeah yeah, ooh, yeah yeah)
And for the rare and unexpected friend
(Ooh, yeah yeah, ooh, yeah yeah)
For the way you're something that I'd never choose
But at the same time, something I don't wanna lose
And never wanna be without ever again

You're the best thing I never knew I needed
So when you were here I had no idea
You the best thing I never knew I needed
So now it's so clear, I need you here always

My accidental happily
(Ever after)
The way you smile and how you comfort me
(With your laughter)
I must admit you were not a part of my book
But now if you open it up and take a look
You're the beginning and the end of every chapter

You're the best thing I never knew I needed
So when you were here I had no idea
(When you were here)
You the best thing I never knew I needed
(That I needed)
So now it's so clear, I need you here always
(Now it's so clear)

Who knew that I could be
(Who knew that I could be)
So unexpectedly
(So unexpectedly)
Undeniably happier
Sitting with you right here, right here next to me
Girl, you're the best

You're the best thing I never knew I needed
(Said I needed)
So when you were here I had no idea
(When you were here)
(Said I had no idea)
You're the best thing I never knew I needed
(That I needed)
So now it's so clear I need you here always
(Now it's so clear)
(So clear, so clear, I need you always)

Now it's so clear, I need you here always

Kalo ada yang nanya ke aku, mending balik ke masa lalu tapi baliknya ke masa-masa indahnya aja atau mengalami hal-hal yang serupa dengan orang yang sama di masa sekarang tanpa getir, atau jalanin hidup yang sekarang tanpa berhubungan lagi sama orang-orang di masa lalu?

Aku jawab yang kedua :')

Setiap orang yang berarti di hidup aku punya tempatnya masing-masing. Ada gitu rasa dalem hati pengen berhubungan sama mereka lagi, nanya kabar, terus yaudah temenan aja. Tapi aku lebih memilih ngga. Kalo ada rasa pengen cukup doain dari jauh aja.






Anyway, congratulations on your engagement, Kak :) Semoga urusan nikahannya bulan depan lancar :) Selamat juga karena calonnya ganteng.
 



Dari adikmu yang ga berani nyapa.

Holy Day

Akhirnya modul ini beserta seluruh tetek bengeknya kelar juga dan alhamdulillah ujian semuanya lancar. Jujur, paling demen ujian di modul ini karena....you know lah hahaha. Tapi ngga doyan modulnya, masih seruan metend. Awalnya aku berekspektasi tinggi banget sama modul ini secara ilmunya paling aku suka :p. Tapi kenyataannya........nanti dicurhatin di kuesioner akhir modul. Semoga dengan nilainya (kalo beneran bagus) bisa jadi modal buat jadi Sp.O*.

Intinya akhir minggu ini mau aku pake buat seneng-seneng dan istirahat, nyegerin pikiran sebelum masuk modul Saraf Jiwa. Bakal susah nih cari me time atau quality time kaya gini kalo udah klinik. BPKM Sarji udah keluar dan ga kalah serem sama Muskulo tahun kemarin.

life is sweet in FKUI :)

Walaupun begitu semoga semua urusan di modul ini berjalan lancar, dan setelah kelar modul ini kejiwaannya jadi tambah baik ga jadi tambah sarap hahaha. 

See you next post :)

Rabu, November 20, 2013

Reza Artamevia (feat Masaki Ueda) - Biar Menjadi Kenangan

Tetes airmata ku tak tertahan lagi
Menanti kepastian tentang kita
Kau masih juga bersamanya
Masih mencintainya

Maafkanlah sayangku atas keadaan
Kamu tak pernah jadi kekasihku
Wajahnya selalu terbayang
Saat kau di sisiku

Aku dan kamu takkan tahu

Mengapa kita tak berpisah 
Walau kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan 
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada di sini

Ku beri segalanya semampunya aku
Meski cinta harus terbagi dua
Mungkin kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku

Oh pasti kamu tak pernah tahu
Betapa sakitnya aku

Aku dan kamu takkan tahu
Mengapa kita tak berpisah
Walau kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayang mu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih namun tetap selalu ada di sini

Kamis, November 14, 2013

November

Huff baru nyadar kalo postingan terakhir di blog ini bulan Oktober alias bulan ini belum ngepost. Kenapa ga sempet? Karena terbelenggu dalam modul yang (semula kukira) asik ini. Kok semula kukira? Ya begitulah banyak hal yang terjadi dan susah dijelasin disini. 

Nanti pas libur aku post hal-hal yang menarik. Kemarin blogwalking ke blog temen dan ada 30 days challenge buat post di blog dan sepertinya menarik buat dicoba. 

Wish me luck for next week's exam and see you next post :)