Laman

Minggu, November 24, 2013

Untitled alias Masih Belum Ada Judul - Part 7


Pada pagi hari. Rio menelpon Sandra, kekasih hatinya. Ia ingin mengajak Sandra pergi setelah mengantar Rafael dan Isabelle ke stasiun. Rio dan Sandra sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Sandra memiliki paras yang manis dan oriental. Ia merupakan putri seorang jenderal berpangkat tinggi, berbeda dengan Rio yang berasal dari keluarga sederhana.

"Halo..." kata Sandra.
"Tumben kamu nelpon pagi-pagi yang, ada apa emangnya?" kata Sandra dengan lembut.
"Ntar siang mau jalan nggak yang?" tanya Rio sambil tersenyum. 
"Kemana?"
"Ke PIM."
"Ok, ntar jam 2 kita ketemuan ya disana. Aku mau mandi dulu ya yang. See you."
"See you too."

Rio menutup telepon sambil tersenyum. Tiba-tiba, Danela datang menghampiri Rio yang sedang asyik berbaring di sofa.

"Dorrrrr!!!"
"Ngagetin aja lo Nel."
"Tadi telponan sama siapa lo? Mesra amat kayaknya pake yang yang segala."
"Hmm siapa ya..."
"Halah ngaku aja, cewe lo kan?"
"Iye iye, cowo lo mana?"
"Nggak punya cowo gue."
"Buruan sana lo mandi Nel."
"Enak aja lo bilang gue belum mandi, gue udah mandi dari tadi."
"Ntar lo ikut nganter kan?"
"Iya dong."

Setelah bersiap-siap, Danela, Rio, dan Rey menjemput Rafael dan Isabelle ke hotel, lalu mengantarkannya ke stasiun. Sebelum kereta berangkat, mereka bertiga menyampaikan salam perpisahan kepada Rafael dan Isabelle. Barulah setelah itu, mereka pulang ke rumah sebelum melanjutkan rencana masing-masing. Sesampainya di rumah, Rio langsung pergi menemui Sandra sementara Danela dan Rey duduk di ruang keluarga.

"Nel, kita jadi pergi kan?"
"Jadi lah, mau berangkat sekarang?"
"Boleh, mau kemana aja rencananya?"
"Ya kemana-mana, keliling Jakarta. Gue tau kok jalannya jadi nggak mungkin nyasar kaya kemarin."
"Ok, ayo kita berangkat."

Danela dan Rey kemudian ke garasi untuk mencari motor milik Rio. Tetapi, yang ada hanyalah sebuah mobil. Danela pun bertanya pada Somad.

"Somaaad!!!"
"Apa mbak?"
"Motor mana?"
"Dipake Mas Rio."
"Kemana?"
"Ke PIM, mau ketemu pacarnya katanya."
"Grrrr, dasar, pacaran terus."

Lalu Danela menelpon Rio.

"Halo, Yo?"
"Ape lo nelpon-nelpon gangguin orang aja," kata Rio dengan sedikit kesal.
"Eh sorry sorry, Yo gue susul lo ke PIM ya?"
"Mau ngapain lo nyusul gue? Gue lagi sama Sandra nih."
"Gue boleh nggak pinjem motor lo buat jalan-jalan nemenin Rey keliling Jakarta?"
"Keliling Jakarta? Nggak salah lo? Ini motor baru keluar dari bengkel mau lo rusakin lagi?" tanya Rio dengan kaget.
"Ya kagak lah. Boleh ya gue pinjem pleeeease..." kata Danela dengan memohon.
"Iye iye. Buruan kesini cepet. Awas kalo sampe mogok lagi."
"Ok."

Dengan sedikit terpaksa, Danela dan Rey menaiki satu-satunya mobil yang ada di garasi kemudian mereka berangkat ke PIM menyusul Rio. Ternyata, Rio dan Sandra sudah menunggu mereka di parkiran.

"Nel, ini kunci motornya."
"Thanks ya, Yo."
"Ok. Kenalin Nel, ini Sandra."

Danela bersalaman dengan Sandra. Sandra yang telah mengenal Rey sebelumnya menyapa Rey. 

"Eh Rey, apa kabar?" tanya Sandra pada Rey.
"Baik San," jawab Rey dengan tersipu malu.
"Wah lo kenal juga sama Sandra, Rey?" tanya Danela pada Rey.
"Iya Nel, Sandra temen gue," jawab Rey.
"Ooo..." kata Danela.
"San, gue sama Danela pergi dulu ya," kata Rey
"Mau kemana Rey?" tanya Sandra 
"Keliling-keliling," jawab Rey
"Ok, have fun ya, daaah..." kata Sandra sambil melambaikan tangan.
"Daaah..." kata Rey dan Danela.

Danela dan Rey melambaikan tangannya kepada Rio dan Sandra. Kemudian, Rio dan Sandra masuk ke dalam mall. Sedangkan Rey menaiki motor Rio dan membonceng Danela. Mereka telah siap untuk perjalanan kali ini. Mereka berdua berkeliling Jakarta. Beberapa tempat mereka kunjungi, mulai dari toko baju, toko benda-benda antik, bangunan bersejarah, dan beberapa patung bersejarah untuk sekadar berfoto dengan patung tersebut. Pada siang hari, mereka pergi makan siang ke salah satu mall yang baru saja buka. Mall tersebut tampak ramai. Untngnya, mereka masih mendapatkan bangku untuk makan siang disana.

Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan sampai sore. Danela dan Rey pergi kemana saja, berkeliling Jakarta, dengan motor. Pada sore hari, mereka pulang ke rumah. Tetapi, saat perjalanan pulang, motor yang diboncengi Danela mogok lagi. Tentu saja ia panik. karena Rio sudah memberinya ancaman, entah itu apa.

"Rey, motornya mogok lagi."
"Yah, gimana sih?"
"Padahal kemaren udah bener loh."
"Terus gimana dong?"
"Duit gue abis nih Rey, mana nggak ada bengkel lagi deket sini."
"Oke lah apa boleh buat, kita dorong aja ni motor."

Danela dan Rey mendorong motor itu sampai ke rumah. Rio melihat mereka dari atas balkon. Mengetahui motor miliknya kembali mogok, ia merencanakan sesuatu untuk mengerjai Danela dan Rey. Kemudian Rio memanggil Olla.

"Olla!!!" teriak Rio.
"Iya mas," kata Olla.
"Eh lo liat deh, itu Danela sama Rey lagi dorong motor gue," kata Rio sambil menunjuk ke arah Danela dan Rey.
"Eh iya iya, motornya kenapa lagi mas?" tanya Olla.
"Ya gue juga nggak tau, pasti Danela yang ngerusak," kata Rio.
"Emang motor Mas Rio udah tua aja kali," timpal Olla.
"Dia aja yang makenya nggak becus. Kan gue udah bilang sama dia, awas aja kalo sampe mogok lagi," kata Rio dengan kesal.
"Jadi....Mas Rio mau ngerjain Mbak Nela sama Mas Rey?" tanya Olla.
"Aaah, dari tadi kek mudengnya," kata Rio.
"Jadi mereka mau kita apain?" tanya Olla.

Rio membisikkan rencananya kepada Olla. Setelah mendengar rencana Rio, Olla menyetujuinya. Mereka menyiapkan alat-alat untuk menjahili Danela. Bahkan, tetangga sebelah pun ikut terlibat.

Hari sudah gelap. Danela dan Rey telah sampai di rumah. Namun, pagar rumah terkunci dari dalam.

"Rey, kok pagernya dikunci sih?"
"Bentar lagi Somad juga bukain."
"Tapi kok nggak nongol-nongol ya tu orang?"
"Coba panggil."
"Somad!!! Somad!!! Somaaaadddd!!!"

Hingga belasan menit kemudian, Somad tidak menyahut. Danela dan Rey pun kebingungan.

"Kok Somad nggak nyahut sih, apa dia pergi ya?"
"Mungkin, terus gimana dong?"
"Apa kita manjat pager aja ya Rey?"
"Tapi kan pagernya tinggi banget."
"Ya udah deh daripada nggak bisa masuk, ayo manjat!"

Danela memanjat pagar besi yang tinggi itu. Tiba-tiba, ia terjatuh. Rey segera menolongnya dengan menggendongnya. Kalau tidak, pasti ia akan terjatuh.

"Lo nggak papa kan Nel?"
"Nggak papa kok. Udah turunin gue. Gue mau manjat lagi."
"Jangan, ntar lo jatoh lagi loh."
"Jadi kita pulang lewat mana dong?"
"Hmm apa kita nunggu aja disini sampe pagernya dibukain."
"Kelamaan ah, gimana kalo kita lewat jalan belakang, yang tembus ke halaman belakang?"
"Wah bukannya serem ya?"
"Emang agak serem sih, tapi coba aja lah."
"Ok lah, motornya kita taro sini aja ya."

Walaupun tomboy, Danela merupakan seorang penakut. Namun, kali ini ia akan menunjukkan keberaniannya. Danela dan Rey mulai melangkah di tengah kegelapan. Suasana memang seram sekali. Sesekali Danela mengungkapkan ketakutannya dan mendekat ke arah Rey. Gonggongan anjing tetangga terdengar kencang dan membuat Danela semakin ketakutan. Hingga pada akhirnya, Danela menemukan sumber suara anjing tersebut. Kebetulan, pemiliknya sedang ada di tempat. Danela pun segera menegurnya.

"Mbak, maaf, anjingnya udah dikasih makan apa belum? Dari tadi gonggong terus kenceng banget."
"Ini lagi saya kasih makan."

Anjing itu bergerak ke arah Danela dan menggonggong dengan keras. Danela langsung menghindari anjing itu dan bergerak ke arah Rey.

"Nggak papa mba, anjingnya nggak gigit kok."
"Aduh, tetep aja serem mbak."

Danela dan Rey menghindar dan kabur dari rumah tetangga yang memiliki anjing tersebut. Mereka meneruskan perjalanan menuju pulang. Tak lama kemudian, terdengar suara seperti suara hantu. Hal ini tentu membuat Danela semakin ketakutan.

Rio dan Olla menjahili Danela dengan berpura-pura menjadi hantu dan mengeluarkan suara hantu. Mereka berdua tertawa kecil melihat Danela. Mereka mendekar ke arah Danela hingga akhirnya Danela berteriak kencang karena ketakutan melihat mereka.

Dengan spontan, Danela memeluk Rey. Rey pun mendekap Danela. Mereka langsung lari terbirit-birit menuju rumah. Rio dan Olla mengikuti mereka dari belakang. Tentu saja Danela dan Rey menambah kecepatan larinya. Akhirnya, mereka sampai juga dirumah.

Sesampainya di rumah, Rio dan Olla buru-buru mengganti baju mereka agar tidak ketahuan oleh Danela dan Rey bahwa merekalah 'hantu' yang ada di jalan tadi.

Tidak ada komentar: