Laman

Sabtu, Juni 07, 2014

Boleh Pacaran Nggak ?

Sebenernya mau ngepost ini dari lama cuma baru sempet sekarang...coba dibaca deh :)

Sebagai orang tua, paling sulit jika mendapat pertanyaan dari anak-anak kita tentang apakah mereka sudah boleh punya pacar atau tidak. Biasanya anak akan berbalik mencecar orang tua dengan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang kapan usia anak boleh pacaran. Kembali ke pertanyaan dasar, apakah boleh pacaran ?

Mengapa sebagian besar orang tua ketakutan jika anaknya kedapatan mempunyai pacar ? Pertanyaan ini bisa dijawab oleh masing-masing orang tua. Semua orang tua pasti pernah menjadi remaja. Pada saat itu mungkin orang tua tidak cukup mendapat pendidikan tentang seksualitas dan kurang mendapatkan porsi komunikasi yang ideal dengan orang tuanya jaman dahulu. Sehingga yang terjadi adalah, orang-orang tua jaman sekarang mungkin saja dulunya mempunyai kehidupan masa remaja yang “sedikit nakal”. Orang tua takut anak-anaknya akan berulah seperti mereka pada saat remaja. Orang-orang tua melakukan denial terhadap segala perilaku yang dilakukan semasa remaja dan takut perilaku tersebut menurun kepada anak-anaknya. Maka yang perlu pertama kali dilakukan oleh orang tua agar mampu menjawab dengan baik pertanyaan pada paragraf pertama di atas adalah menghilangkan segala bentuk denial yang ada di benak setiap orang tua.

Berikutnya, orang tua harus mampu mendiskusikan dengan anak secara bersama-sama apa itu definisi pacaran. Orang tua harus mampu mengantarkan definisi pacaran yang dibungkus dengan family value. Misalnya, family value yang secara umum bisa diterima kedua belah pihak adalah bahwa mempunyai relasi spesial dengan lawan jenis adalah diperbolehkan, namun berhubungan seks sebelum menikah amat sangat dilarang. Family value ini tidak akan pernah diketahui oleh anak apabila tidak pernah disampaikan dan didiskusikan antara orang tua dengan anak. Selanjutnya family value disepakati bersama oleh seluruh keluarga dan dibawa sebagai visi misi keluarga tersebut. Setiap keluarga tentunya mempunyai value yang berbeda-beda.

Setelah kedua hal dasar tersebut diatas mampu dihantarkan oleh orang tua kepada anak, barulah kita bisa membicarakan mengenai apa itu pacaran dan bagaimana sebaiknya anak bersikap terhadap terminologi pacaran. Istilah pacaran telah lama menimbulkan stigma sepihak. Namun memang tidak ditemukan padanan kata yang lebih pas dibandingkan dengan pacaran. Setiap pihak memaknai pacaran dengan definisi yang berbeda-beda. Untuk itu dalam tulisan ini kita batasi bahwa pacaran adalah “sebuah relasi spesial yang sehat”. Jadi kita bersepakat sampai di akhir tulisan ini bahwa pacaran adalah sebuah relasi yang sehat. Artinya jika seseorang berpacaran dan kemudian melakukan hubungan seks dengan pacarnya, tentunya diluar pernikahan, maka itu tidaklah masuk ke definisi sebuah relasi yang sehat. Lalu bolehkah anak-anak kita mempunyai sebuah relasi yang sehat dengan teman sebayanya ? Akan sangat naif jika ada orang tua yang tidak setuju dengan statemen tersebut.

Membangun karakter agar anak nantinya memiliki sebuah relasi yang sehat harus dimulai dari sedini mungkin. Semakin anak tumbuh dan berkembang anak tersebut akan mempelajari tentang relasi yang tidak hanya berasal dari keluarganya, namun juga dari teman, sebaya, guru atau lingkungan sekitarnya. Pengaruh terbesar pandangan anak terhadap relasi didapatkan dari orang tua atau pihak yang mengasuhnya. Untuk itu diperlukan diskusi yang intensif antara orang tua dengan anak mengenai bagaimana relasi yang sehat dan ideal. Lebih jauh lagi, anak yang berpacaran akan lebih mampu menyelesaikan masalah-masalah kehidupan sosial dibandingkan dengan anak yang dikungkung oleh berbagai aturan tanpa mengetahui apa itu family value. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa anak yang punya pacar, artinya punya relasi spesial yang sehat, akan lebih socially acceptable dibandingkan dengan anak yang tidak pernah punya pacar.

Menjawab pertanyaan tentang boleh tidaknya seorang anak berpacaran tidak bisa dijawab secara instan dengan jawaban ya dan tidak. Jawaban “ya” yang muncul secara instan justru akan membahayakan relasi anak. Begitu juga dengan jawaban “tidak” yang muncul instan tanpa disertai penjelasan logis apapun. Mulailah berdiskusi tentang family value. Refleksikan value orang tua yang diharapkan dihantarkan kepada anak. Mulailah dari contoh kehidupan sehari-hari bagaimana relasi yang terjadi antara ayah, ibu dan lingkungan sekitarnya. Ingatlah bahwa anak adalah peniru yang ulung. Anak belajar melalui contoh, dan orang tua adalah pengaruh terbesar yang akan mempengaruhi perkembangan anak.


Anak belajar tentang relasi tidak hanya dari orang tua dan keluarga, namun juga dari banyak hal seperti internet, televisi, musik yang didengar sehari-hari, teman sebayanya, dari sekolah, buku-buku yang dibaca atau dari pengamatan terhadap relasi di sekitar anak.

Ada lima hal kardinal yang harus disampaikan oleh orang tua agar anak mampu mempunyai sebuah relasi yang sehat.
  1. Respect; kemampuan respect atau mengormati akan mendidik anak Anda untuk dapat menyelesaikan masalah dengan terhormat. Hal ini akan mampu mendidik anak Anda tidak saja untuk menghormati orang lain namun juga mampu menempatkan posisi ketika orang lain bersikap hormat atau tidak hormat kepada anak. Skill ini walaupun terlihat sederhana namun ternyata sulit dilaksanakan. Masih banyak contoh pemimpin di negeri ini yang tidak bisa menyelesaikan masalah dengan respect, bahkan mungkin hampir seluruhnya.
  2. Anger management; kemampuan ini mengajarkan anak Anda bagaimana mengatasi kemarahan dengan cara yang positif, sehat dan tanpa kekerasan.
  3. Problem solving; kemampuan yang mengajarkan kepada anak agar menjadi pemecah masalah dan bukan justru sebaliknya menjadi bagian dari masalah. Ajarkan anak untuk mampu menghadapi setiap masalah dengan mencari solusi yang tepat dan selalu berpikiran terbuka untuk mencari alternatif penyelesaian masalah yang lain. Artinya mengajarkan kepada anak untuk bersikap terbuka terhadap ide-ide dan pendapat.
  4. Negosiasi dan kompromi; mengajarkan kepada anak untuk selalu mencari win-win soluton terhadap setiap masalah yang muncul. Kemampuan ini akan mendidik anak kita untuk mampu menghargai pendapat setiap orang dan tahu kapan untuk setuju atau tidak setuju. Setiap orang mempunyai pendapat dan pemikiran yang berbeda, kemampuan untuk menghargai pendapat setiap orang adalah salah satu hal penting agar mempunyai relasi yang sehat.
  5. Asertif dan bukan Agresif; ajarkan kepada anak cara-cara mengutarakan pendapat dengan cara yang asertif tanpa agresi, tanpa kekerasan fisik dan tanpa membahayakan orang lain. Komunikasi asertif artinya mampu menghargai pendapat orang lain sebagai mana pendapat kita ingin dihargai.
Kelima syarat kardinal tersebut mutlak harus menjadi bagian dari kemampuan anak sebelum lebih lanjut diputuskan apakah seorang anak sudah pantas atau tidak untuk punya pacar dan relasi spesial yang sehat. 

Kelima syarat kardinal itu bisa saja menjadi bagian dari family value. Kelimanya sebetulnya merupakan syarat dalam relasi apapun, itulah mengapa anak yang mampu berpacaran dan mempunyai relasi spesial yang sehat dengan pacarnya akan lebih socially acceptable dibandingkan dengan anak yang sama sekali tidak diijinkan punya pacar tetapi tanpa ada pemberitahuan apapun.

Setelah semua hal-hal dasar tentang relasi terpenuhi, maka Anda sudah siap untuk memulai pembicaraan tentang relasi dengan anak Anda. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat memulai diskusi tentang relasi atau pacaran.
  1. Mulailah berdiskusi dalam kondisi yang sesuai dengan anak Anda inginkan. Diskusi akan sangat efektif jika orang tua mengikuti kondisi ideal anak. Anak akan lebih terbuka berbicara mengenai apapun dalam situasi yang relaks. Relaks disini bukan artinya suasana hening dan tenang. Berbicara kepada anak ketika anak sedang bermain playstation bersama ortu atau sedang berolahraga bersama merupakan suasana yang relaks. Ada kalanya orang tua perlu mengatur sebuah acara makan berdua di luar rumah bersama anak. Lakukan sesuai kebutuhan anak.
  2. Sebelum mulai mengajak anak berbicara, persiapkan pesan-pesan dan nilai-nilai dasar yang akan disampaikan. Perlu juga untuk selalu menyegarkan kembali apa family value. Memberikan contoh-contoh personal dari orang tua tentang relasi yang sehat dan kekerasan dalam relasi akan sangat membantu dalam memberikan jawaban atas pertanyaan sulit dari anak.
  3. Cobalah untuk fokus dalam berdiskusi. Hindari berdiskusi sambil sms atau berkomunikasi lewat sosial media. Tetap fokus dalam berdiskusi, jangan melebar membahas topik lain. Hal ini akan memberikan keyakinan kepada anak bahwa orang tua sedang sangat serius membicarakan relasi.
  4. Bersikap jujur dan terbuka. Orang tua dapat menceritakan pengalaman masa mudanya saat mempunyai relasi yang spesial sehingga anak mempunyai keyakinan bahwa orang tua sedang berbicara dalam level yang sama. Jika anak mengutarakan sesuatu yang belum siap didengar oleh orang tua, tetaplah berpikiran terbuka dan tidak menghakimi. Anak Anda akan lebih mampu terbuka mengutarakan apa isi hatinya apabila Anda mampu berada satu level dengan anak.
  5. Selalu menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak menyelesaikan apa yang ingin disampaikan, jangan melakukan interupsi, meskipun Anda sama sekali tidak setuju dengan pendapat anak.
  6. Selalu berusaha tenang dan gunakan bahasa tubuh yang wajar. Jangan tiba-tiba membelalakkan mata terhadap pernyataan yang mungkin memang sangat mengejutkan.
  7. Selalu manfatkan setiap moment dan kejadian untuk belajar bersama. Misalnya saat sedang menonton televisi, orang tua dapat memberikan pendapat dan meminta kembali pendapat anak tentang situasi yang muncul. Luruskan jika orang tua merasa pendapat tersebut bertentangan dengan family value.
  8. Gunakan bahasa-bahasa humor agar anak tidak merasa tertekan.
  9. Coba memulai pembicaraan dengan menganalisa bersama apa yang dicari dalam sebuah relasi yang spesial. Misalnya orang tua bisa menanyakan kepada anak; Apa kriteria seseorang yang spesial menurut anak ? Bagaimana perasaan anak saat bersama dengan orang yang spesial ? Apa yang diharapkan dari orang spesial tersebut ?
Ajarkan kepada anak setiap hal yang perlu diketahui untuk membina sebuah relasi spesial yang baik, tidak hanya melulu bicara tentang wajah yang cantik atau ganteng dan kegiatan saat pacaran. Setiap momen mengajarkan relasi spesial yang sehat harus mampu mendiskusikan tentang nilai-nilai (family value), life skills, dan relasi. Hal-hal lain yang harus didiskusikan adalah :
  1. Menghadapi tekanan; anak mungkin akan sering berhadapan dengan situasi dan relasi yang kurang nyaman. Ajarkan kepada anak untuk berkomunikasi secara asertif dan bagaimana mengatakan “tidak” pada situasi dan kondisi yang membahayakan dan membuat ketidaknyamanan. Bekal mengadapi tekanan ini akan sangat membantu anak untuk mampu percaya diri dan tetap mematuhi family value.
  2. Relasi yang sehat dan tidak sehat; orang tua akan sangat kesulitan untuk selalu mendampingi anak. Sangat penting bagi orang tua untuk mampu membekali agar anak dapat memilih mana relasi yang sehat dan mana relasi yang tidak sehat. Diskusikan tentang apa yang seharusnya dimiliki dalam sebuah relasi yang berkualitas. Bantulah anak dalam menentukan relasi yang berprinsip pada kondisi yang saling menghormati, kejujuran, kesetiaan dan kepercayaan. Definisikan mana relasi yang sehat dan mana yang tidak sehat.
  3. Seksualitas; Membicarakan tentang seksualitas bukanlah hal yang mudah, namun orang tua harus mampuuntuk mulai membicarakan tentang hal yang telah puluhan tahun dianggap tabu ini. Mendiskusikan tentang seksualitas bersama anak akan membantu anak tetap tumbuh sehat, mempunyai relasi yang juga sehat serta mampu melindungi organ reproduksi sendiri dan orang lain. Untuk lebih jauh berbicara mengenai seksualitas kepada anak silakan klik disini.
Secara khusus orang tua harus mampu mengenali relasi-relasi yang cenderung abusif. Semua relasi abusif pasti tidak sehat, namun tidak semua relasi yang tidak sehat pasti abusif. Semua orang dapat terdampak dari relasi yang cenderung abusif, bisa sebagai pelaku atau korban. Baik pelaku ataupun korban, relasi abusif akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi anak. Relasi abusif dapat terjadi dalam beberapa bentuk ;
  • Abuse emosi atau psikis; umumnya berupa merendahkan rasa percaya diri dari pasangan.
  • Abuse fisik;
  • Abuse sosial; biasanya berupa intimidasi terhadap seseorang oleh sekelompok orang. Umumnya kasus cabe-cabean bermula dari sini.
  • Abuse seksual; termasuk diantaranya adalah pemaksaan untuk melakukan hubungan seksual.
  • Abuse finansial; tipe ini sulit untuk diidentifikasi, bisa berupa relasi yang mengontrol pasangannya dengan uang atau mengontrol pengelolaan keuangan.
Selain relasi abusif, orang tua juga harus mampu mengenali relasi yang cenderung menuju kekerasan. Tanda-tanda anak mengalami relasi dengan kekerasan diantaranya adalah perubahan mood dan tingkah laku anak yang mendadak. Tanda-tanda lainnya misalnya :
  • Mulai mengindari keluarga atau teman dan kegiatan sekolah lainnya
  • Membuat alasan atas perilaku relasinya
  • Kehilangan minat pada aktifitas sebelumnya, misalnya hobby.
  • Nilai-nilai pelajaran yang menurun
  • Adanya luka atau memar yang tidak mampu dijelaskan
Dengan mampu mendiskusikan kepada anak tentang family value dan mengenali tanda-tanda relasi yang tidak sehat, orang tua mampu mengawal kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual agar anak mempunyai tanggung jawab reproduksi dan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kesehatan seksual.


Well, terlepas dari apa yang dipaparkan dalam tulisan ini, jujur aja, kalo aku liat sendiri dari temen-temen aku yang pacaran, mereka lebih socially acceptable karena punya lima nilai-nilai kardinal itu sehingga mereka bisa nyiptain relasi yang sehat dengan siapapun sehingga mereka terlihat 'menarik', enak diajak bergaul, makanya ada yang naksir dan akhirnya pacaran. Buat yang masih jomblo sampe sekarang atau susah cari pacar, coba deh introspeksi barangkali ada yang belum terpenuhi tuh nilai kardinalnya haha.

Intinya, mau menjalani hubungan apapun itu, mau temenan, pacaran, yang namanya family value dan relasi sehat itu harus dibawa dalam setiap kesempatan. Kalo ngga, ga bakalan deh tercipta pergaulan yang sehat antara insan yang satu dengan yang lainnya :)

Sejujurnya bisa dibilang kebetulan copasnya sekarang padahal udah direncanain dari kemaren-kemaren tapi ga sempet mulu. Karena ada beberapa temen di kampus yang....ehem ehem ehem ehem uhuk uhuk uhuk uhuk.....(akan) memulai relasi ini. Hahahaha.

Sebenernya aku lagi bikin satu postingan 'serius' lagi tapi masih di draft dan secepet mungkin akan diselesaikan. See you next post, guys :)

Tidak ada komentar: