Laman

Sabtu, Juni 07, 2014

Why (Some) Men Like to Marry (Much) Younger Woman?

Post ini bisa dibilang sekuelnya ini. Di postingan ini aku akan pake bahasa aku-kamu biar bahasanya lebih enak. Buat pembaca yang umurnya diatas 19 tahun, maaf kalo agak-agak ga sopan pake kamu. Btw isi postingan ini berdasar dari pemikiran sotoy diri sendiri.

Oke langsung ngepost aja ya tanpa harus nunda-nunda. Setiap manusia pasti mengalami yang namanya tumbuh dan berkembang kan? Mulai dari konsepsi, terus jadi zigot yang merupakan hasil hubungan ehem-ehem pasangan suami istri, kemudian ibumu hamil dan zigot itu berkembang menjadi janin daaan 9 bulan kemudian lahirlah dirimu ke dunia ini. Semakin hari dirimu semakin berkembang, semakin besar, semakin tinggi, semakin tumbuh ke atas (dan ke samping mungkin), semakin keliatan cantik atau ganteng, hingga kamu menjadi anak-anak, kemudian menjadi remaja *haseeek*. Saat remaja inilah kamu mulai mencari jati dirimu. Kamu mulai bertanya-tanya, gue siapa sih? Untuk apa gue ada di dunia ini? Gue seneng apa? Gue mau jadi apa nanti? Dan saat itupun juga kamu mulai mengetahui 'arah pergaulanmu' bagaimana, siapa sahabat sejatimu, siapa musuhmu (kalo ada tapi jangan sampe ada deh), dan kamu mulai *ehem ehem wek wek* tertarik dengan lawan jenis. Perasaan tertarik ini...mungkin ga semua remaja ngalaminnya. Ada yang mewujudkan rasa tertariknya itu dengan pacaran dengan lawan jenis (atau mungkin sesama jenis), dipendem-pendem aja rasa sukanya sama si dia (karena malu, ga pede, ga pengen/dibolehin pacaran, walau kadang-kadang perasaan ini bikin sakit, awww!!!), atau malah ada yang ga berminat sama sekali untuk suka sama siapapun bahkan pacaran. Kalo dalam sisi psikologi, apa yang dialami saat remaja ini tuh normal banget (ga ngalamin bukan berarti ga normal ya hahaha). Terus ada juga rasa-rasa galau, labil, resah dan sejenisnya, yang diwujudkan dalam mood swings, mungkin karena pengaruh hormon juga tapi ga tau sih makanya orang PMS itu bisa marah-marah. Perasaan ini bisa menimpa dirimu kapan saja dan kadang-kadang bisa bikin situasi yang harusnya normal jadi kacau balau.

Nah abis remaja lanjut ke dewasa muda. Kalo ga salah dewasa muda ini umur-umur sekitar 18-25 (menurut saya loh bukan literatur). Sebenernya dewasa itu ga selalu berkaitan sama umur sih tapi dalem postingan ini kita pake konteks dewasa = matur ya (kata dosen aku waktu ngasih kuliah hematopoiesis sel yang udah beredar di sirkulasi dibilangnya matur jangan tua soalnya kan kalo commited progenitor (turunannya stem cell hematopoietik yang lebih spesifik mau ngebentuk satu kelompok sel darah tertentu, googling aja deh ribet jelasin disini) itu identiknya sama yang masih muda, kalo tua itu istilahnya buat yang udah mau kembali ke 'akhirat' alias didegradasi di sistem retikuloendotelial). Pas dewasa muda ini, kamu udah bisa memilih dengan akal pikiranmu sendiri yang sudah semakin matang, hidupmu untuk apa, kamu akan jadi apa nantinya, pokoknya pertanyaan yang mungkin waktu kecil kamu anggep sepele tapi sekarang jadi masalah serius. Contoh sederhana, cita-citamu mau jadi apa?. Di usia-usia ini kamu juga udah tau apa prioritasmu, apa fokusmu saat ini, kamu akan bergerak di bidang apa yang spesifik, dan kamu udah mulai bisa 'menahan' sesuatu yang ga penting-penting amat. Contoh, pengen beli gadget baru tapi ga enak minta duit ke ortu, duit sendiri juga ga punya, jadi mendingan nabung atau beli sesuatu yang lebih bermanfaat misal beli buku buat referensi tugas, dll. Contoh lainnya, ngerasa sendirian, galau, butuh seseorang buat menghibur kamu di tengah kesendirian alias pacar. Tapi kamunya sibuk, takut ga fokus kuliah karena mau nyelesain skripsi atau udah nyadar, ngapain gue ngurusin orang lain yang bukan siapa-siapa gue padahal gue masih minta duit ke orangtua gue. Karena itu kamu mutusin buat ga pacaran. Selain itu, kamu udah mulai ngerasain yang namanya ketidakadilan hidup, sakit hati, ditipu, di PHP in, ada orang yang ga suka, ngomongin dari belakang, nyebarin isu yang ngga-ngga soal kita, pokoknya peristiwa-peristiwa yang bikin kamu berpikir kaya gini : "Oh man! Gue pengen jadi anak kecil lagi! Yang kerjaannya main-main, ga ada beban, dll."

Hingga pada akhirnya, baik kamu maupun teman-teman kamu mulai meniti jalan hidup masing-masing. Satu persatu mulai lulus kuliah, kerja, dan mungkin nikah di usia muda. Yang mau aku fokusin di postingan ini adalah nikah, dan tentu saja proses sebelumnya yang umum banget terjadi di budaya kita ini, pacaran. Semakin bertambah umurmu, semakin banyak temanmu yang mengalami perubahan di hidupnya, misal ada yang ngilang dari pergaulan karena salah satu ortu wafat jadi ngurangin hura-hura buat ngehidupin keluarga karena tulang punggung, atau disuruh suami/istri, ada yang pindah keluar kota/negeri karena satu dan lain hal, pokoknya macem-macem deh.

Dan...pada akhirnya...satu persatu temanmu...apapun yang terjadi...akan menikah.

Ya, menikah.

Kemudian teman-temanmu bersenang-senang dengan keluarga barunya, punya anak yang lucu-lucu dan menggemaskan, punya mertua yang baik dan ga ikut campur urusan rumah tangga (kalo beruntung), atau buat yang kurang beruntung bisa pisah di usia muda, cari pacar lagi, nikah lagi dan seterusnya (?). Tahun demi tahun, satu persatu temanmu yang single mulai menyusul teman-temannya yang sudah membina keluarga, dan jika kamu beruntung kamu akan mengikuti mereka.

Tetapi...jika kamu tidak beruntung...dan stay single karena satu dan lain hal yang udah dijelasin panjang lebar di link postingan di atas...hal ini mungkin bisa menjadi momok. Mulai ditanya-tanya sama keluarga atau teman, pacarnya mana? kapan nikah? yang rasanya pengen bales dengan "Kapan nyusul?" kalo lagi ngobrol di acara pemakaman. Terus sejak temen nikah mungkin ada yang jadi susah kumpul karena udah punya anak yang harus diurus agar menjadi anak yang berbakti dan berguna kepada orang tua, nusa, dan bangsa, keluarga besar yang butuh quality time, apalagi yang keluarganya besaaaaar banget orangnya sebanyak penduduk satu RW atau berasal dari keluarga broken home yang harus bagi-bagi waktu sana sini kaya bagi-bagi beras. Mungkin kamu pernah denger ada temen atau sepupu yang susah diajak hangout bareng, atau ngerjain sesuatu, karena ga enakan sama suami, anak, atau mertua. Atau ditengah-tengah kumpul bareng ada temen yang ditelpon istri/anak disuruh pulang lah, apa lah, dll. Yang kalo udah gitu kita mikirnya : "Hhhh, dasar rese!". Tapi kalo kamu orangnya makluman, 'toleran', dan selalu berpikir positif alias semua punya jalan hidup yang baik, yang udah digariskan sama Allah, hal ini ga akan terjadi :)

Hingga terbitlah satu waktu dimana jumlah temanmu yang melajang semakin sedikit, dan pada akhirnya, teman-teman sebayamu, termasuk gebetanmu waktu sekolah atau kuliah (kalo demennya sama yang seumuran, kalo beda umur jauh mah beda cerita), menikah.

Tinggallah dirimu sendiri.

Kemudian, cara pikirmu (mungkin) berubah seperti sebagian orang. Kamu menganggap bahwa , ah sudahlah, teman-teman 'seangkatan'ku sudah menikah. Aku bergaul cukup lama dengan mereka, dan pasti mereka punya kriteria sendiri. Mungkin mereka senang yang lebih muda atau tua, lebih kebapakan (buat yang cewe) atau lebih manja-manja unyu-unyu gitu (buat yang cowo, biarpun sebagian seleranya kaya Raffi Ahmad sih huahahaha). Dan kamu pun mulai berpikir, gimana kalo cari yang beda umur aja (dalam hal ini beda cukup jauh, yang bukan teman sebaya istilahnya, paling ngga +/- 3 tahun lah).

Kamupun mulai mencari, atau secara tak sengaja bertemu dengan seseorang yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya, kemudian kalian jatuh cinta, dan menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih (aduh kaya lagu aja). Kalian menjalin kasih dengan segala warna-warninya, naik turunnya, hingga pada akhirnya.....hanya ada satu akhir, yaitu di pelaminan. Berakhir di pelaminan (dengan si dia) atau berakhir di pelaminan (naik doang salaman sama mantennya alias si dia dan pasangan). Ya itumah dua akhiran.

Jika kamu kurang beruntung, kejadian putus dan terus mencari terus berulang (atau kalo kasus yang lebih miris lagi belum apa-apa alias pedekate atau modus kata anak jaman sekarang udah bubaran). Pola pikirmu mengenai pasangan ideal pun terus diasah dan tanpa kamu sadari kamu mengalami proses belajar bersosialisasi dengan...siapapun. tidak hanya lawan jenis (ada calon mertua, calon kakak/adik ipar, ada temennya pacar, ada mantannya pacar yang gagal move on, dll) Sampai akhirnya,  (kasus berat), kamu (bahasa lebaynya) desperate dalam mencari, teman-teman angkatan bawahmu juga akan menikah, dan kamu menemukan si doi (tadi kan si dia), yang usianya jauh lebih muda darimu. Dan jadian :)

Udahan dulu ya cerita si 'kamu' sampe sini. Jadi singkatnya gini, buat yang males baca postingan di atas. Masih muda ngalamin berbagai trial & error dalam hubungan, hidup terus berlanjut, satu persatu temen, mantan, dan orang yang pernah deket nikah, sampe akhirnya 1-1 temen sebaya udah nikah, tinggal kamu sendiri, coba cari yang umurnya beda jauh, trial & error lagi, yang umurnya jauh 1-1 pada nikah, trial & error....dan seterusnya begitu sampe nemuin yang bener-bener tepat. Perubahan pandangan dan kriteria sering banget terjadi sesuai pandangan dan pengalaman masing-masing orang, Menurut aku sih sotoynya gitu, yang mendasari kenapa orang bisa pacaran beda umur jauh. Mungkin karena ngerasa lebih nyaman, lebih kaya kakak-adek jadi ada yang melindungi dan dilindungi (hwaaa apa sih), yang seumuran udah pada ga 'bersih', otaknya terkontaminasi, ketemunya dan cocoknya sama yang itu, baca artikel di internet katanya manjangin umur kalo cowo nikah sama uang lebih muda, cewe lebih cepet tua (?), dll. Intinya nyari yang tepat dan bikin nyaman.

Yah jadi jangan heran ya kalo di lingkungan sekitar banyak yang nyari yang jauhh lebih muda. Alasannya banyak banget dan personal banget tergantung masing-masing orang :)

Karena udah mentok, sampe sini dulu postingannya nanti kalo ada yang kepikiran mau ditambahin pasti akan ditambahin :) See ya next post :)


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Menarik banget blog lo Ras, jadi sering mampir :D

Menurut lo bagaimana nasib laki2 yang belum pernah trial error, & whats ur opinion about that man...FYI bukan berarti ga ada cewe yg tertarik, hanya aja emng ga mau jalanin hub. Btw kita seangkatan :D

Laras mengatakan...

hai anon makasih ya

menurut gue sih...balik lagi ya yg namanya hubungan itu kan tergantung kebutuhan masing2 orang jadi pilihan dia sendiri lah buat ga mau krn mungkin emang ga butuh biarpun ada yg tertarik sm dia