Laman

Sabtu, Juli 19, 2014

Yang Bener-bener Mau Jadi Dokter, Baca Ini!!!! (2)

Karena postingan ini pengunjung dan pemberi komentarnya cukup banyak, jadi aku memutuskan untuk bikin semacam 'sekuel'nya.

Well, jadi mahasiswa kedokteran dan jadi dokter kedepannya bukan hal yang gampang ditambah lagi sekarang banyak banget berbagai isu yang menghantui profesi dokter. Kriminalisasi, BPJS, UU Dikdok, AFTA, dan lain-lain yang aku juga ngga gitu kompeten buat ngejelasin karena aku bukan anak kastrat yang tau secara detail tentang segala isu. Yang paling serem sekarang sih (biarpun kasus dr. Ayu udah lewat) menurut aku kriminalisasi yang bikin penanganan medis jadi berarah ke defensive medicine jadinya (bahasa kasarnya) serba ga berani karena takut salah dan dituntut ini-itu apalagi sarjana hukum semakin menjamur (ini yang suka dibilang dosen-dosen aku) sehingga pengetahuan medis yang bener serta empati, sikap profesional, dan embel-embel lainnya merupakan hal yang penting banget buat dimiliki seorang dokter.



Tapi, yang aku heran sampe sekarang, masih banyak ya orang yang pengen jadi dokter mulai dari anak kecil sampe anak SMA yang galau UN dan perguruan tinggi. Padahal tantangan jadi dokter gede banget banget banget banget loh. Mungkin karena orang mikirnya jadi dokter bisa tajir, padahal ngga juga. Buat yang pengen baca-baca lebih lanjut, coba cari di google tentang BPJS dan pembayaran honor dokter dengan sistem kapitasi. Anda-anda semua pasti tercengang melihatnya. Aku sendiri pun baru ngerti hal-hal yang selama ini aku anggap remeh dan asing karena lagi modul IKK *jangan ditiru*.

Intinya aku cuma mau share video ini sih :

 

Jadi...memang beginilah realitanya. 

"Ya kita kerja harus dengan hati, ga boleh mengharapkan uang." - dokter cantik yang ada di video #salahfokus

Aku tanya lagi, dengan warna dan size yang sama dengan postingan kemarin,

MASIH MAU NGGA KALIAN JADI DOKTER?????

Apresiasi setinggi-tingginya buat yang jawab masih. Karena di tangan anda-anda inilah tertuju arah kesehatan Indonesia mau dibawa kemana.



Think again.

Tidak ada komentar: