Laman

Jumat, Februari 06, 2015

Forensik

Sejak klinik, aku menemui banyak sekali konsulen dari berbagai bidang. Mereka memang ahli dalam bidangnya dan memiliki pikiran masing-masing mengenai dunia kedokteran. Ada yang mementingkan empati, anamnesis dan pemeriksaan fisis yang mumpuni, etika dan hukum, dan lain-lain. Aku dan teman-temanku yang disuguhi berbagai macam informasi mengenai dunia kedokteran dari berbagai perspektif menjadi bingung, mana yang harus kami ikuti? Yang ini benar, yang itu benar. Yang ini perlu dipikirkan, yang ini juga tidak kalah perlu. Sejak itu pula, pikiranku mulai sedikit terbuka, bahwa menjadi dokter tidak hanya menjadi seorang klinisi saja. Ada banyak pilihan karir yang dapat ditempuh, mulai dari bidang kedokteran, terkait kedokteran, hingga luar kedokteran.

Dan di stase Forensik inilah aku merasa tertampar. Hari Senin, dr. N sebagai narasumber kuliah pertama mengungkapkan berbagai sisi dari dunia kedokteran. Dan tadi pagi, dr. D yang merupakan ahli DNA Forensik memberi kuliah yang sebenarnya tidak ada di jadwal tapi dijadwalkan oleh Koordinator Pendidikan S1 atas permintaan mahasiswa, selain memberikan dasar Forensik dan ilmu hukum, X-Files, hebatnya ilmu Forensik, beliau mengungkapkan bagaimana menentukan karir di masa depan, bagaimana cara mengatur keuangan, mencegah stres yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, dan pelajaran hidup lainnya. Beliau-beliau ini membuatku berpikir, apa yang sebenarnya aku cari di dunia ini? Apa saja hal yang membuatku bahagia? Apa passion ku? Apa saja hal yang kusukai dan kucintai dari hati yang terdalam?

Sampai sekarang aku belum mengetahui jawabannya. Terkadang aku merasa iri melihat orang yang sukses dalam bidangnya dan mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati sehingga, bagi mereka, bahagia itu sederhana dan dekat  dengan mereka. Tanpa mengeluh sedikitpun.

Memang kelihatannya bodoh bagi seorang yang hampir berusia 20 tahun dan sudah berkuliah hampir tingkat akhir tidak mengetahui jawabannya. Tapi inilah diriku.

Tidak ada komentar: