Laman

Minggu, November 01, 2015

Jadi pagi ini aku baru aja baca sebuah note di FB yang dibuat oleh seniorku di FKUI angkatan 2009 yang udah jadi dokter. Semua pasti tau kan berita heboh tentang dokter sibuk selfie pas ada pasien lagi gawat. Hmm biar ga panjang lebar ini note nya, dibaca aja :)

Terus...ada satu paragraf di note ini (yang aku bold) yang isinya nyayat hati banget *lebay sih tapi emang iya*

6 jam sebelum saya mengangkat sumpah dan komitmen sebagai dokter, saya merenungkan satu poin sumpah yang akan saya sampaikan di hadapan Tuhan. Kata katanya seperti ini
 
“ Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan….
 
Apa itu kepentingan perikemanusiaan? Bagaimana saya membaktikan hidup saya? Semua manusia akan mati, dokter aja mati. Apa yang saya lakukan sebenarnya sebagai dokter? 
 
Jawaban yang saya dapatkan dan saya pegang sampai sekarang adalah : Saya akan menghargai kehidupan manusia dan membantu sesama mencapai kualitas hidup terbaik. Menghargai kehidupan manusia berarti menghargai manusia sebagaimana saya ingin diperlakukan, bukan cuma berusaha saat berhadapan dengan orang yang sakit, tapi juga dengan orang yang sehat. Mengusahakan kualitas hidup yang terbaik berarti berusaha bukan cuma di pelayanan seputar medis dan sejenisnya, tetapi juga dalam berbagai peran lain yang bisa dikerjakan di luar pekerjaan tenaga medis professional.

Aduh pokoknya mak jleb. Aku ga bisa komen apa-apa lagi soal isunya karena udah jelas banget gimana ceritanya di note ini dan aku sangat sangat setuju sama isinya. 

Jadi intinya ya...gitu. 

Apakah kita sudah bekerja sepenuhnya untuk kemanusiaan?

Tidak ada komentar: