Laman

Selasa, Februari 09, 2016

Keluargamu, Miniatur Kehidupan Sosialmu

Buat yang suka nasehatin orang yang lagi down dengan kata mending nikah aja atau cari jodoh aja atau sejenisnya, please pikir lagi deh. Yang namanya bangun keluarga itu ga segampang mesra-mesraan atau (maaf) berhubungan seks.

Sewaktu di sekolah, kita belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan sebuah kalimat pembuka yang sangat menarik di buku tebal pelajarannya, "Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam kehidupan kita".
Lalu kita diajak melihat ke dalam keluarga kita sendiri: Siapa saja di dalamnya, apa peran mereka masing-masing, bagaimana relasi antar anggota keluarga, dan seterusnya. Jauh sebelum kita membicarakan masyarakat, negara, organisasi internasional, dan struktur sosial lainnya yang lebih kompleks dan penuh dinamika, pertama-tama kita diminta untuk terlebih dahulu memahami serta memaknai keluarga sendiri. Saat itu, diskusi mengenai "unit terkecil" ini mungkin kurang begitu menarik perhatian kita, tapi kita lupa betapa ia sebenarnya begitu penting.
Selepas sekolah menengah, saya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi mengambil studi Hubungan Internasional. Jurusan yang bernaung di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu tak ayal membuat saya merasa keren... Diskusi-diskusi keseharian saya adalah soal masyarakat, kelas sosial, struktur, organisasi dan administrasi internasional, dan seterusnya... Sambil tak sekalipun tertarik untuk mendiskusikan ihwal 'keluarga'. Seolah unit itu terlalu kecil, terlalu remeh temeh, dan terlalu 'memalukan' untuk dibicarakan di ruang-ruang seminar atau mimbar akademis.
Kini, bertahun kemudian, saya melihat banyak problem sosial, problem berbangsa dan bernegara kita sebenarnya bermula dari abainya kita menyelesaikan problem-problem dalam unit terkecil kehidupan sosial kita: Keluarga. Lihat saja, banyak masalah besar yang jika dirunut titik pangkalnya ada di dalam keluarga, kan?
Sewaktu kuliah di Jogja saya pernah menyaksikan seorang Bapak yang tengah dipukuli warga karena kedapatan mencuri sebuah telepon genggam di kios pulsa. "Saya sama sekali tak menyangka Bapak itu ternyata maling! Tampilannya rapi!" Ujar si pemilik kios. Di hadapan kami si Bapak tengah dipukuli habis-habisan hingga berdarah-darah, ditelanjangi dan dipermalukan.
Di sana saya melihat si Bapak menangis pilu sambil menutupi mukanya. "Ampuun, ampuun, saya baru sekali ini mengambil milik orang lain," katanya dalam Bahasa Jawa yang halus. Warga yang tadi memukulinya jadi terdiam. Mereka terpaku pada si Bapak yang terus menangis. Seorang pemuda berjalan mendekati si Bapak itu, dengan Bahasa Jawa yang halus pemuda itu bertanya, artinya kurang lebih begini, "Kenapa Bapak pake maling segala sih?"
Dan Jawaban Bapak itu mengejutkan semuanya!
"Saya sudah seminggu tidak berbicara dengan anak saya," jawabnya, "Saya nggak kuat mas. Anak gadis saya ingin HP baru karena HPnya sudah jelek, tapi saya tak punya uang untuk menbelikannya HP baru."
Usai kejadian itu saya berjalan gontai menuju kos. Bayangan Bapak tadi, juga anak gadisnya yang saya reka dalam kepala, menghantui pikiran saya: Berapa banyak masalah sosial yang terjadi di sekitar masyarakat kita, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan lainnya, sebenarnya bermula dari masalah sepele di dalam keluarga? Misalnya gagalnya relasi dan komunikasi di tengah anggota-anggotanya?
Sejak saat itu saya melihat keluarga sebagai miniatur kompleksitas kehidupan sosial kita. Apapun. Betapa jika kita berusaha mewujudkan keluarga yang baik maka kita juga akan punya kapasitas dan kapabilitas untuk menghadapi problem sosial lain yang lebih rumit. Setidaknya, bagi saya, keluarga mengajarkan kita lima hal mendasar yang perlu kita miliki dalam menjalani kehidupan sosial di manapun.
Pertama, cinta, kasih sayang, dan rasa hormat. Tiga hal itu penting agar kita selalu punya sudut pandang yang penuh welas asih dalam menjalani kehidupan ini. Sekarang banyak buku yang membahas betapa pentingnya "respect" dan "compassion" dalam relasi kehidupan kita. Kita lupa bahwa semua itu bisa kita latih di dalam keluarga. Tentang bagaimana cinta, kasih sayang, dan rasa hormat selalu menjadi landasan bagi semua tindakan, keputusan, dan pilihan-pilihan.
Kedua, ihwal berbagi peran. Dalam keluarga kita diajarkan untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki peran yang berbeda-beda. Ada ayah, ibu, kakak, adik, mertua, menantu, sepupu, ipar, dan seterusnya. Betapa semua orang penting dan punya "nilai" bagi diri kita dengan perannya masing-masing. Kadang kita bisa memiliki banyak peran sekaligus, tetapi kita perlu sadar bahwa dalam diri kita terdapat sejumlah identitas yang berbeda-beda yang perlu kita jalani dengan hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang berbeda pula.
Ketiga, keluarga mengajari kita tentang "kemungkinan baru". Datangnya anggota keluarga baru, misalnya anak yang baru lahir, kakak ipar, menantu, dan seterusnya mengajari kita bahwa selalu ada "kemungkinan baru" yang datang dalam hidup kita. Bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Bahwa kita perlu menyayangi, menghargai dan menghormati siapapun yang datang ke dalam hidup kita, karena mereka adalah keluarga.
Keempat, dialog. Salah satu pangkal banyak masalah dalam hidup ini adalah gagalnya proses dialog. Orang cenderung ingin 'didengarkan' tetapi gagal ketika harus 'mendengarkan'. Keluarga mengajari kita soal dialog, saat orangtua menasihati anaknya, saat orangtua mendengarkan rengekan atau permintaan anak-anaknya, misalnya. Keduanya mensyaratkan hubungan dialogis yang seimbang. Jika tradisi dialog dalam keluarga terbangun dengan baik, maka kita akan terbentuk menjadi individu yang pandai menyelesaikan persoalan dalam hidupnya.
Kelima, keluarga mengajari kita mana yang publik dan mana yang privat. Di rumah, ada ruang keluarga, ruang tengah, tapi juga ada kamar-kamar pribadi. Sejak di rumah kita belajar bahwa tidak segalanya dalam hidup ini merupakan urusan semua orang, ada hal-hal yang menjadi urusan kita sendiri--hal-hal yang harus diselesaikan di kamar sendiri. Ini juga proses menghargai hak-hak individu, betapapun satu keluarga tetapi ada hak-hak individu yang tak bisa diintervensi atau bahkan diketahui anggota keluarga lainnya.
Buat saya, lima hal itulah yang menjadi fondasi saya dalam menghadapi kehidupan di unit sosial yang lebih besar. Di titik inilah saya membuat kesimpulan: Keluargamu adalah miniatur kehidupan sosialmu. Maka memprioritaskan dan menciptakan keluarga yang sukses serta bahagia adalah juga dalam rangka membuat kehidupan yang sukses dan bahagia.
Dengan tulisan ini, mudah-mudahan banyak yang teryakinkan bahwa urusan keluarga bukanlah urusan yang "sepele" dan "kecil". Bahwa tentang keluarga, memprioritaskan kebahagiaan dan kesuksesannya, kadang-kadang jauh lebih penting didahulukan dari menghabiskan waktu untuk urusan-urusan yang terlihat besar dan megah: Kantor, organisasi, dan lainnya.
Tentu saja, Anda boleh setuju, boleh juga tidak.

Bandung-Jakarta, 9 Februari 2016
FAHD PAHDEPIE

Tidak ada komentar: